The Portal's College, Student, Teacher, and Article of Education

Custom Search

Monday, 11 June 2012

FUNGSI DAN SUBSTANSI SEMBAHYANG” (STUDI PERBANDINGAN ANTARA PELAKSANAAN SEMBAHYANG UMAT ISLAM DAN KRISTEN KATHOLIK)

A.    Latar Belakang
Istilah sembahyang dikenal dalam agama Islam dengan istilah shalat. Dari segi etimologi, shalat antara lain berarti “doa”, sedang doa adalah keinginan yang ditujukan kepada Allah SWT, atau dalam arti yang lebih umum yaitu permintaan yang diajukan oleh satu pihak kepada pihak lain yang lebih tinggi…[1]
Dari segi terminologi, shalat adalah berhadap hati (jiwa) kepada Allah SWT, hadap yang mendatangkan takut, menumbuhkan rasa kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya, dengan sepenuh khusu dan ikhlas di dalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir disudahi dengan salam.[2]

Menurut Mahmud Syaltut dalam shalat telah terhimpun segala bentuk dan cara yang dikenal oleh umat manusia dalam mengadakan penghormatan dan pengagungan, tetapi mereka itu hanya menggunakan salah satu cara seperti sekadar berdiri dengan penuh hormat, atau sekedar tunduk, atau sujud dan sebagainya, dan Allah menghimpun segala cara yang dikenal dalam ibadah shalat untuk menggambarkan puncak pengagungan kepada-Nya.[3]
Banyak ayat al-Qur’an yang berisi perintah untuk mengerjakan sembahyang atau shalat, seperti: dalam Surat (2) al Baqarah, ayat 110 dan dalam Surat (4) an Nisa’, ayat 103. Perintah untuk mengerjakan sembahyang, tidak terbatas pada keadaan-keadaan tertentu, seperti pada waktu badan sehat saja, situasi aman, tidak sedang bepergian dan sebagainya; melainkan dalam keadaan bagaimanapun orang itu, tetap dituntut untuk mengerjakannya. Hal ini ditegaskan dalam al Qur’an Surat (2) al Baqarah, ayat 238 dan  dalam al Qur’an Surat (2) al Baqarah, ayat 239 dan Surat (4) an Nisa’, ayat 101. Hanya saja dalam keadaan-keadaan tertentu, diberi keringanan-keringanan dalam melaksanakannya, seperti dibolehkan meringkas (qashar), mengumpulkan (jama) dan keringanan-keringanan yang lain.
Melihat begitu ketatnya perintah untuk mengerjakan sembahyang, maka hal ini menunjukkan bahwa sembahyang  mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi seorang muslim. Dalam al Qur’an Surat (2) al Baqarah, ayat 1sampai dengan 3, diterangkan bahwa sembahyang  adalah salah satu indikator orang yang bertaqwa. Atau dengan kata lain sembahyang  adalah salah satu unsur pembentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.




Artinya: Alif laam miim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka (QS. 2: 1-3).[4] 

Dalam agama Islam, sembahyang bukan saja sebagai salah satu unsur agama Islam sebagaimana amalan-amalan yang lain, akan tetapi sembahyang itu merupakan amalan yang membedakan antara Islam dan kafir, sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW :[5]



Artinya: telah bersabda Rasulullah SAW “janji yang terikat erat antara kami dengan mereka ialah shalat”. Maka barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah kafir. (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan)

Sabda Rasulullah SAW :[6]



Artinya: Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba di hari kiamat ialah shalatnya. Jika shalat diterima diterimalah amalan-amalan yang lain, tapi jka shalatnya ditolak maka ditolaklah amalan-amalan lainnya (HR. at-Tabbrani).

Karena kedudukannya yang demikian penting dalam agama, maka sembahyang menjadi tempat bertumpu dan bergantung bagi amalan-amalan yang lain, yang karenanya jika shalat atau sembahyang seseorang itu rusak maka menurut agama Islam rusaklah seluruh amalannya, dan sebaliknya jika sembahyangnya itu baik, maka baik pula seluruh amalannya.
Dilihat dari hukum melaksanakannya, pada garis besarnya dalam agama Islam, sembahyang atau shalat dibagi menjadi dua, yaitu shalat fardlu dan shalat sunat. Selanjutnya shalat fardlu dibagi menjadi dua, yaitu shalat fardlu ain dan shalat fardlu kifayah. Demikian pula shalat sunat dibagi dua, yaitu shalat sunat mu’akkadah dan shalat sunat ghairu mu’akkadah. Demikianlah kedudukan sembahyang dalam agama Islam.
 Sedangkan dalam agama Kristen Katholik dikenal adanya dua macam sembahyang, yaitu ma’nawi, dan kebaktian.[7] Bagi Agama Kristen Katholik, sembahyang bukan merupakan sendi utama dalam pengabdian kepada Tuhan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Pater Kiswara SJ sebagai berikut:
Peraturan lahiriyah sebagaimana ditentukan dalam agama-agama lain seperti sembahyang lima waktu dalam agama Islam; dalam Gereja Katholik hanya mungkin diadakan untuk sementara waktu bila perlu, sebab tidak mengenai inti dari iman dan kehidupan Kristen Katholik. Bahkan peraturan wajib mengikuti Misa Kudus pada hari Minggu pun tidak merupakan hukum mutlak, walaupun pada waktu tertentu baik dan berguna bagi perkembangan semangat Kristiani yang mendalam. Yang mutlak perlu hanyalah iman; iman yang penuh pengharapan dan kasih. Semua peraturan Gereja yang tidak langsung dari Tuhan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.[8]
Dengan demikian tampaklah perbedaan antara agama Islam dan Kristen Katholik, khususnya Kristen Katholik dalam memandang kedudukan sembahyang. Demikian pula persamaannya bahwa pada kedua agama tersebut menganggap sembahyang sebagai bagian dari ibadah.
Dalam kenyataannya, terdapat kesenjangan antara substansi sembahyang dengan kenyataan yang terjadi dalam praktek yaitu tidak terimplementasikannya substansi sembahyang dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya harapan penelitian ini adalah dapat mengungkap substansi sembahyang dari kedua ajaran agama itu dan pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa terungkap setelah menggambarkan persamaan dan perbedaan sembahyang dalam ajaran kedua agama tersebut.
Berangkat dari paparan di atas, maka masalah yang muncul yaitu bagaimana substansi sembahyang dalam perspektif ajaran Islam dan Kristen Katholik, dan bagaimana pelaksanaannya dalam praktek kehidupan sehari-hari di tengah-tengah dinamika masyarakat yang berubah demikian cepatnya? Atas dasar itulah yang menjadi latar belakang penulis mengangkat masalah ini dalam skripsi yang berjudul: “FUNGSI DAN SUBSTANSI SEMBAHYANG” (STUDI PERBANDINGAN ANTARA PELAKSANAAN SEMBAHYANG UMAT ISLAM DAN KRISTEN KATHOLIK).
B.     Pokok Permasalahan 
Pokok permasalahan merupakan penjabaran dari tema sentral masalah menjadi beberapa sub masalah yang spesifik, yang dirumuskan dalam kalimat tanya.[9] Maka yang menjadi pokok permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana pelaksanaan sembahyang umat Islam dan Kristen Katholik dalam prakteknya?
2.      Apakah  fungsi dan substansi sembahyang dalam agama Islam dan Kristen Katholik ?
3.      Sejauhmana implementasi sembahyang bagi umat Islam dan Kristen Katholik dalam kehidupan sosial?
C.    Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari pokok permasalahan di atas, maka skripsi ini memiliki tiga tujuan utama yang ingin dicapai oleh penulis, yaitu:
1.      Untuk mengetahui pelaksanaan sembahyang umat Islam dan Kristen Katholik dalam prakteknya.
2.      Untuk mengetahui fungsi-substansi sembahyang dalam agama Islam dan Kristen Katholik.
3.      Untuk mengetahui implementasi sembahyang bagi umat Islam dan Kristen Katholik dalam kehidupan sosial.  
D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian dapat ditinjau dari dua aspek:
1.      Aspek teoritis, yaitu untuk memperkaya khazanah kepustakaan Fakultas Ushuluddin, khususnya jurusan Perbandingan Agama. Di samping itu sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada program strata 1.
2.      Aspek praktis, yaitu untuk dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, agar lebih baik dalam membina kerukunan antar umat beragama.
E.     Tinjauan Pustaka
Hasil penelitian penulis terhadap buku-buku yang beredar di pasaran, belum ada yang membahas secara khusus dan mendalam terhadap judul di atas. Sedangkan terhadap sejumlah skripsi yang ada di perpustakaan fakultas ushuluddin pun belum ada yang membahas secara khusus judul tulisan di atas. Akan tetapi yang dapat penulis temukan hanya beberapa skripsi yang pada bagian tertentu dari isinya dapat dijadikan bahan studi banding dalam mengangkat judul di atas. Skripsi-skripsi di maksud sebagai berikut:
1.      Praktek Pembaptisan Dalam Agama Katholik Di Gereja Randusari Katedral Semarang, disusun oleh Nur Masri’ah (4198059). Penulis skripsi tersebut dalam temuannya mengatakan pembaptisan merupakan syarat yang merefleksikan sebagai ketaatan seseorang yang mengakui kebenaran dan eksistensi teologis kristiani. Di samping itu pembaptisan sebagai bagian dari ibadah umat kristiani dalam arti yang seluas-luasnya.
2.      Konsep Tuhan Dalam Agama Islam dan Kristen (Telaah Filsasfat Perenial), disusun oleh Suratmin (4198046). Dalam penelitiannya Suratmin menyimpulkan, konsep Tuhan dalam agama Islam dan Kristen di samping memiliki perbedaan yang prinsipil, namun juga terdapat persamaan yaitu sama-sama menganggap konsep ketuhanannya adalah bersifat Esa. Meskipun dalam perspektif Kristiani konsep ketuhan itu terdiri dari tiga komponen yaitu Tuhan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus, namun ketiga unsur itu dalam eksistensinya berpadu menjadi satu. Itulah sebabnya mengapa umat Kristiani menganggap tiga itu hakekatnya adalah esa. Sementara dalam perspektif Islam, Tuhan bersifat esa dengan mengacu pada al-Qur'an surat al-Ikhlas.
3.      Firman Allah Dalam Pandangan Kristen dan Islam, disusun oleh Eliya Habibatus Sholihah (4198098). Dalam kesimpulan skripsinya Eliya Habibatus Sholihah mengungkapkan firman Allah dalam pandangan Kristen sebagaimana termuat dalam Injil, baik perjanjian baru (new testament) maupun perjanjian lama (old testament) adalah sebagai sumber otentik dalam mengatur hubungan vertikal antar manusia dengan Tuhannya. Demikian pula dalam Islam, firman Allah sebagai sumber utama yang dapat mewarnai seluruh aspek kehidupan umat Islam yang terpelihara dari segala pemalsuan.
Adapun diantara buku yang sangat berkaitan langsung dengan judul skripsi ini yaitu Problema Doa dan Kebaktian merupakan buku kedua seri rubrik tanya jawab Pater Kiswara SJ dalam mingguan hidup yang diterbitkan yayasan penerbit dan percetakan Kanisius. Menurut penyusun buku itu, sembahyang dalam agama Kristen Katholik hanya sebagi pelengkap, sedangkan yang lebih penting iman kepada Tuhan. Sementara dalam Islam sebagaimana dikemukakan oleh TM. Hasbi Ash Shiddieqy, dalam bukunya Pedoman Shalat,  sembahyang sebagai ibadah yang paling fundamental dari keseluruhan ibadah mahdhoh lainnya  
Dari berbagai buku yang telah penulis baca sebagian besar menjelaskan bahwa kedudukan sembahyang dalam agama Islam dan Kristen Katholik memiliki perbedaan baik dari segi waktu, tempat maupun tata caranya. Apabila kebaktian/sembahyang dalam tradisi Kristen Katholik cenderung merupakan amalan lisan dan terkadang mendengarkan firman Tuhan, maka sembahyang dalam Islam pada utamanya merupakan amalan fisik berupa sujud di hadapan Allah.[10] Demikian pula persamaannya, bahwa kedua agama tersebut mengangggap sembahyang  sebagai komponen dari ibadah.
  Kata sembahyang merupakan ibadah harian yang paling populer dan merata dikenal di Indonesia.[11] 
Ensiklopedi gereja menjelaskan -sembahyang- secara etimologis berarti menyembah Hyang, artinya memuja dewa-dewi. Kata ini dipakai umat Islam maupun Kristen Katholik untuk menyembah Tuhan baik secara batiniah maupun lahiriah. Artinya sama dengan shalat (kata pinjaman Arab dari bahasa Aram yang digunakan kaum Yahudi–Kristen Katholik) dan adoratio (kata Latin yang berarti sapaan, persembahyangan). Dari arti kata yang sempit, sembahyang hanya boleh diarahkan kepada Allah dengan mengakui-Nya sebagai Tuhan dan pencipta segala yang ada dan sebagai yang mahasempurna yang tak terbatas. Karena Sabda Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, maka ia boleh disembah. Dalam arti kata yang luas sembahyang dapat berarti menghormati saja. Salib yang disembah pada hari Jum’at agung dihormati saja sebagai tanda/lambang penebusan manusia oleh kristus yang mempersembahkan Diri kepada Allah Bapa.
Di antara ibadah Islam, shalatlah yang membawa manusia terdekat kepada Tuhan. Di dalamnya terdapat dialog antara manusia dengan Tuhan dan dialog berlaku antara dua pihak yang saling berhadapan.[12] 
Sembahyang adalah pekerjaan hamba yang beriman dalam situasi menghadapkan wajah dan sukmanya kepada zat yang Maha Suci. Maka manakala shalat itu dilakukan secara tekun dan kontinue menjadi alat pendidikan rohani manusia yang efektif, memperbaharui dan memelihara jiwa serta memupuk pertumbuhan kesadaran.[13] 
Setelah mengkaji berbagai teori atau konsep yang dikemukakan oleh para ahli, maka tampaklah pentingnya penelitian ini guna menghilangkan kesalahan dalam interpretasi dan pemahaman terhadap kedua agama besar yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Mengingat masih adanya anggapan sementara orang bahwa dalam Kristen Katholik tidak ada ritualitas seperti sembahyang. Padahal dalam agama tersebut sembahyang itu menjadi bagian dari aspek peribadatannya. Hanya saja peran dan kedudukan sembahyang itu antara kedua agama itu berbeda. Dalam Kristen Katholik sembahyang tidak menjadi pokok ibadah, sementara dalam Islam sembahyang amalan yang sangat prinsipil dan mendasar sehingga dapat mewarnai seluruh sistem yang ada dalam agama Islam. 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, sembahyang merupakan komunikasi langsung dengan Tuhan yang dalam agama Islam dan Kristen Katholik merupakan bagian dari ibadah mahdhoh (habluminallah). Akan tetapi dalam agama Kristen Katholik bukan sebagai fondasi utama, sedang dalam Islam sebagai tiang agama yang dapat mewarnai komponen-komponen ibadah lainnya.
F.     Metode Penelitian
 Sebagai metode dan teknik yang penulis gunakan dalam penyusunan skripsi ini :
1.      Sumber data
Adapun sumber data yang digunakan terdiri dari [14]:
a.   Sumber data primer yaitu sumber data yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan yang ada relevansinya dengan penelitian ini, seperti buku-buku, majalah, skripsi, tesis, disertasi dan laporan-laporan ilmiah lainnya. Diantara data tersebut Pater Kiswara SJ, Problema Doa dan Kebaktian, Hugh Goddard, Cristians And Muslims: From Double Standarts To Mutual Understanding, Terj Ali Noer Zaman, Menepis Standar Ganda Membangun Saling Pengertian Muslim Kristen, H.M. Arifin, Belajar Memahami Ajaran Agama-Agama Besar, dan sebagainya.
b.  Sumber data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh langsung dari masyarakat. Dalam hal ini hasil wawancara (interview) dengan responden yang memiliki otoritas untuk menjawab sejumlah pertanyaan secara lisan yang diajukan oleh peneliti (sebagai pewawancara).
Dengan demikian penelitian berjenis field research (penelitian lapangan), sekaligus library research (penelitian kepustakaan).[15]
2.      Teknik pengumpulan data
Dalam mengumpulkan data digunakan dua teknik:
a.   Teknik wawancara (interview) yaitu berupa komunikasi langsung dengan responden dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan. Responden yang dimaksud adalah seorang Pendeta dan beberapa orang penganut agama Kristen Katholik di Gereja Santo Henricus Ngaliyan Semarang yang dimulai pada tanggal 19 – 29 November 2003. Sedangkan orang Islam yang peneliti wawancarai adalah K.H. Abdullah Siddiq. Sedangkan dari alumni IAIN Walisongo yaitu Athaillah SH.I. Dengan demikian teknik sampling yang digunakan yaitu teknik non random sampling dengan jenis purposive sampel, artinya pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut  dengan ciri-ciri/sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.[16]
b.  Teknik dokumentasi (studi dokumenter) yaitu mengadakan penelitian sejumlah buku-buku kepustakaan yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
3.      Teknik pengolahan data
Setelah data terkumpul, kemudian penulis mengadakan pemeriksaan atau penelitian kembali terhadap hasil-hasil data yang diperoleh (editing). Dari data yang telah diperiksa kembali, selanjutnya memberi tanda atau kode pada data tersebut (koding). Kemudian data tersebut disusun atau diletakkan dalam bentuk tabel (tabulasi data).
4.      Teknik analisis data
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan pendekatan analisis data kualitatif yaitu menganalisis dengan tidak menggunakan pendekatan angka-angka statistik. Dengan perkataan lain analisis yang tidak bisa diukur atau dinilai secara langsung dengan angka. Analisis data yang penulis gunakan berlandaskan phenomenologi.[17] Phenomenologi secara harfiyah berarti pelajaran mengenai gejala-gejala.[18] Jadi Phenomenologi berarti uraian atau percakapan tentang fenomenon atau sesuatu yang sedang menampilkan diri. Menurut cara berpikir dan berbicara filsafat dewasa ini dapat juga dikatakan percakapan dengan fenomenon atau sesuatu yang sedang menggejala. Dengan keterangan ini mulai tampaklah tendensi yang terdalam dari aliran fenomenologi yang sebetulnya merupakan cita-cita dan jiwa dari semua  filsafat. Yaitu hendak mencari pengertian yang benar sebagai pengertian yang menangkap realitas itu sendiri.[19]
Adapun dalam metode penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki, dengan menggambarkan/melukiskan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.[20] Dalam konteksnya dengan penelitian ini yang digambarkan adalah substansi sembahyang dan pelaksanaannya dengan mengkomparasi antara pelaksanaan sembahyang umat Islam dan Kristen Katholik. Demikian pula penulis menggunakan cara berpikir ilmiah yang berangkat dari kesimpulan yang umum menuju kepada yang khusus (metode deduktif), dan sebaliknya mengurai dari yang khusus menuju pada kesimpulan umum (metode induktif). Dalam hal ini metode deduktif diaplikasikan dalam bab II dan bab III, sedang metode induktif diterapkan dalam bab IV.

G.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan yang berkorelasi.
Bab pertama : bab ini berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang; pokok permasalahan; tujuan penelitian; manfaat penelitian; tinjauan pustaka; metode penelitian; dan sistematika penulisan skripsi.
Bab kedua : bab ini berisi tinjauan umum tentang sembahyang dalam Islam; yang meliputi: pengertian sembahyang dalam Islam, dasar hukum sembahyang dalam Islam, tata cara melaksanakan sembahyang, dan manfaat melaksanakan sembahyang.
Bab ketiga : bab ini berisi tinjauan umum sembahyang dalam Kristen Katholik, yang meliputi pengertian sembahyang dalam Kristen Katholik, tata cara melaksanakan sembahyang, dan manfaat melaksanakan sembahyang.
Bab keempat : bab ini berisi menganalisis dua hal: pertama fungsi- substansi sembahyang antara umat Islam dan Kristen Katholik; kedua implementasi sembahyang bagi umat Islam dan Kristen Katholik dalam kehidupan sosial.
Bab kelima : bab ini berisi penutup meliputi kesimpulan, saran dan penutup. 


[1] H. Zaini Dahlan, et al, Filsafat Hukum Islam, Cet III, Bumi Aksara Jakarta, 1999, hlm. 183
[2] T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Shalat, PT Pustaka Rizki Putra, Cet II, Semarang, 1997, hlm. 64
[3] Mahmud Syaltut, Al-Islam Aqidah Wa Syari’ah, Terj., H. Mustami Abdul Gani dan W. Hamdani, Islam Sebagai Aqidah Dan Syari’ah, Bulan Bintang, Jakarta, 1967, hlm. 120.
[4] DEPAG RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Surya Cipta Aksara, Surabaya, 1993, hlm. 8.
[5] Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi, Musnad Ahmad, Tijariyah Kubra, Kairo, tt, hlm. 30.
[6] Al-Imam Jalalud-Din Abdur-Rahman as-Suyuti, Al-Jami’us-Shagir min Akhaditsil Basyirin Nadzir, Tijariyah Kubra, Kairo, tt, hlm. 190.
[7] Abu Ahmadi,Dja’far Amir, Perbandingan Agama, Bulan Bintang, Bandung,1970, hlm. 39 
[8] Pater Kiswara SJ, Problema Doa dan Kebaktian, Cet VIII, Yayasan Hidup Katholik Kanisius, Yogyakarta, 1994, hlm. 33-34
[9] H. Didi Atmadilaga, Panduan Skripsi, Tesis, Disertasi, Pionir Jaya, Bandung, 1997, hlm.87
[10] Hugh Goddard, Christians and Muslim: From Double Standards to Mutual Understanding, Terjem, Ali Noer Zaman, Qalam, Yogyakarta, 2000, hlm. 126.
[11] Syamsuddin Abdullah, et al, Fenomenologi Agama, Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama / IAIN di Jakarta Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 1985, hlm. 56.
[12] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, UI Press, 1979, hlm. 37.
[13] Nasruddin Razak, Dienul Islam, Cet. 9, PT al Maarif, Bandung, 1986, hlm. 180. 
[14] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian-Penelitian Ilmiah, Edisi 7, Tarsito, Bandung, 1989, hlm. 134, 163.
[15] Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, Jilid I, Cet. 32, Andi Yogyakarta, 2001, hlm. 9.
[16] Marzuki, Metedologi Riset, Cet. 4 BPFE-UII, Yogyakrta, 1986, hlm 45. lihat, Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid I, Andi, Yogyakarta, 2001, hlm. 82.
[17] Metodologi Penelitian Kualitatif berlandaskan phenomenologi menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu konstruksi ganda, melihat obyeknya dalam satu konteks “natural”, bukan parsial. Lihat Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Telaah Positivistik Rasionalistik, Phenomenologik Realisme Metaphisik, Cet. 4, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1992, hlm. 28.  
[18] Syamsuddin Abdullah, et al, Op. Cit, hlm. 1.
[19] N. Driyakara, Percikan Filsafat, PT. Pembangunan, Jakarta, 1962, hlm. 122. lihat juga Romdon, Metodologi Ilmu Pebandingan Agama, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 82.
[20] Hadari Nawawi; Mimi Martini; Penelitian Terapan, Cet. II, Gajah University, Press Yogyakarta, hlm. 73.

Ditulis oleh: Irvan Hadzuka Perahu Jagad Updated at : 6/11/2012 12:56:00 am

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Atas Kunjungannya. Jangan Lupa Komentarnya ya.