Monday, 11 June 2012

Islam adalah agama dakwah yang menyebarkan ajarannya melalui jalan damai dan bijaksana. Ajakan itu terkonfigurasikan kedalam dua jenis; yakni ajakan bilkhal dan ajakan billisan. Ajakan bilkhal menitik beratkan pada tindakan dan keteladanan, sedangkan ajakan billisan menitik beratkan pada pengajaran dan pendidikan melalui ucapan baik lisan maupun tulisan.

Sebagaimana diketahui dakwah Islam adalah “suatu usaha dalam rangka proses Islamisasi manusia agar taat dan mentaati ajaran Islam guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat kelak”.[1] Dengan demikian dakwah Islam dimaksudkan untuk menciptakan manusia yang sejahtera lahir dan batin, dunia dan akherat melalui aturan-aturan agama. Dan Allah telah menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Oleh karena itu ketaatan melaksanakan ajaran agama merupakan jalan yang harus ditempuh bagi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan yang didambakan oleh setiap manusia. Termasuk juga di dalamnya adalah anak-anak, karena anak dilahirkan, dirawat, dididik, tumbuh dan berkembang serta bertingkah laku sesuai dengan martabat manusiawi di dalam lingkungan kultural kelompok manusia.[2] Dalam hal ini diperlukan adanya suatu usaha pembimbingan yang tepat. Salah satu di antaranya adalah bimbingan hidup beragama Islam secara kontinyu. Bimbingan agama Islam harus senantiasa diberikan kepada setiap manusia kapan dan di mana saja mereka berada, baik di sekolahan, masjid ataupun di lembaga-lembaga sosial. Hal ini seperti yang dilakukan di lembaga sosial keagamaan Panti Asuhan Muhammadiyah, sebagai  lembaga yang berusaha untuk memperbaiki taraf kehidupan bagi anak-anak pada umumnya, yang sangat membutuhkan adanya rasa kasih sayang, perhatian, pembinaan dan perlindungan dari orang yang lebih dewasa.
Keberadaan anak di Panti Asuhan yang jelas berbeda dengan keberadaan anak pada umumnya, akan dapat menimbulkan sikap mental yang kurang, antara lain; sikap minder, sikap malu, dan lain sebagainya. Pembinaan mental merupakan faktor yang dominan dalam membimbing anak sehingga perlu adanya penanaman sikap terpuji kepada anak-anak asuh, baik dengan pemberian pengertian maupun contoh teladan yang diberikan oleh orang dewasa di sekitarnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Zakiah Darajat bahwa untuk membina anak agar mempunyai sifat terpuji tidaklah mungkin dengan penjelasan saja, akan tetapi perlu membiasakan diri untuk melakukannya yang diharapkan nantinya dia mempunyai sifat-sifat itu dan menjauhi sifat-sifat tercela.[3]  Dalam hal ini maka untuk menumbuhkan sikap mental anak-anak asuh di Panti Asuhan perlu adanya bimbingan keagamaan sebagai masukan bagi mereka dan sekaligus sebagai motivasi untuk hidup yang lebih baik. Untuk itu penulis mengedepankan permasalahan tersebut dengan memilih judul penelitian  “HUBUNGAN BIMBINGAN HIDUP BERAGAMA ISLAM TERHADAP KESEHATAN MENTAL (STUDY KASUS DI PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH KECAMATAN KALIWUNGU).

A.     Alasan Pemilihan Judul

Adapun beberapa pertimbangan atau alasan yang menjadi dasar penulis mengangkat judul skripsi atas permasalahan yang berhubungan dengan bimbingan hidup beragama Islam pada Panti Asuhan Muhammadiyah Kaliwungu, adalah :
1.       Masalah bimbingan hidup beragama Islam perlu dilaksanakan di manapun manusia berada, termasuk dilembaga sosial.  Hal ini melihat kesempatan yang ada yang lebih baik dari pada yang lain. Oleh karenanya perlu ditanamkan sikap mental yang sehat yang religius guna menumbuhkan sikap hidup anak yang kuat, yang selalu bersikap optimis dalam menjalani kehidupannya, sehingga tercipta suatu kondisi harmonis dan kesehatan mental/jiwa yang dapat menyelesaikan ataupun menjalani segala persoalan kehidupan.
2.       Kesehatan mental merupakan faktor yang sangat dominan dalam menghadapi segala macam cobaan hidup, sedangkan bimbingan agama Islam dapat dijadikan suatu cara untuk menumbuhkan kesehatan mental tersebut.
Mental yang sehat  merupakan perintah agama, dengan demikian dapat terwujud suatu kekuatan yang tertanam dalam jiwa umat Islam, yang pada akhirnya akan tertanam dalam kehidupan sehari-hari anak di Panti Asuhan tersebut. Hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk meneliti hubungan  bimbingan hidup beragama Islam terhadap kesehatan mental, pada Panti Asuhan Muhammadiyah Kaliwungu.

B.      Penegasan Judul

Untuk menghindari adanya kesalah pahaman, salah pengertian dan guna terbentuknya suatu pengertian yang utuh sesuai dengan maksud yang sebenarnya, maka perlu penulis jelaskan tentang-kata-kata yang termaktub dalam judul, yaitu sebagai berikut ;
1.     Keterkaitan
Berasal dari kata “kait”. Yang berarti hubungan.[4] Yang dimaksud hubungan dalam hal ini adalah antara bimbingan hidup beragama Islam dengan kesehatan mental.
2.      Bimbingan
HM Arifin mengatakan pengertian harfiyyah “bimbingan” adalah “menunjukkan, memberi jalan, atau menuntun” orang lain ke arah tujuan yang bermanfaat bagi hidupnya di masa kini, dan masa mendatang. Istilah “bimbingan” merupakan terjemahan dari kata bahasa inggris guidance yang berasal dari kata kerja “to guide” yang berarti “menunjukkan”.[5]
Priyatno dan Ermananti memaparkan :
Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni para peminat dan ahlinya. Dalam kaitan ini Priyatno dan Ermananti sebagaimana mengutip pendapat Crow & Crow, 1960, bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri.[6]
3.     Hidup Beragama Islam
Yaitu suatu bentuk penghayatan hidup bersama yang dilandasi dengan iman kepada sang pencipta, dalam aktivitasnya selalu mencerminkan perilaku-perilaku ajaran agama Islam. Kelakuan religius menurut sepanjang ajaran agama berkisar dari perbuatan-perbuatan ibadah, atau amal shaleh dan ahklak, baik secara vertikal terhadap Tuhan maupun secara horisontal sesama manusia.[7]
4.     Islam
Islam menurut etimologi, berasal dari bahasa Arab, terambil dari asal kata salima yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memeliharakan dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Kata aslama itulah menjadi pokok kata Islam, mengandung segala arti yang terkandung dalam arti pokoknya, sebab itu orang yang melakukan aslama atau masuk Islam dinamakan muslim. Berarti orang itu telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah SWT. Dengan melakukan aslama, selanjutnya orang itu terjamin keselamtan hidupnya di dunia dan di akherat.[8]  
5.     Kesehatan Mental
Menurut Zakiah Darajat kesehatan mental adalah terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapai masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan biasa, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa (tidak ada konflik) dan merasa bahwa dirinya berharga berguna dan bahagia, serta dapat menggunakan potensi yang ada padanya seoptimal mungkin.[9]
Gangguan kesehatan mental dapat mempengaruhi :
a.     Perasaan; misalnya cemas, takut, iri/dengki, sedih tak beralasan, marah oleh hal-hal remeh, bimbang, merasa diri rendah, sombong, tertekan (frustasi), pesimis, putus asa, apatis, dan sebagainya.
b.    Pikiran; kemampuan berpikir berkurang, sukar memusatkan perhatian, mudah lupa, tidak dapat melanjutkan rencana yang telah dibuat.
c.     Kelakuan; nakal, pendusta, menganiaya diri atau orang lain, menyakiti badan orang atau hatinya dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya.
d.    Kesehatan tubuh; penyakit jasmani yang tidak disebabkan oleh gangguan pada jasmani.[10]

C.     Permasalahan

Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya.[11] Bertitik tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan :
1.     Bagaimana metode bimbingan hidup beragama Islam di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu?
2.     Bagaimana tingkat kesehatan mental anak asuh Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu?
3.     Bagaimana hubungan antara bimbingan hidup beragama Islam terhadap kesehatan mental anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu?
 

D.     Tujuan Penelitian

1.  Untuk mengetahui metode bimbingan hidup beragama Islam dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental anak di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu.
2.  Untuk mengetahui hubungan antara bimbingan hidup beragama Islam terhadap kesehatan mental anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu.

E.      Metode Penelitian

1.     Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil yang diteliti.[12] Dalam menentukan populasi dan sampel, Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa; “untuk sekedar memberi ancer-ancer, maka apabila subjek kurang dari 100 maka diambil semua, sehingga penelitiannya berupa penelitian populasi, selanjutnya kalau subjeknya besar maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.[13] Dalam hal ini penulis mengambil keseluruhan anak di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu yang berjumlah 30 anak.
2.     Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan metode yang valid , maka penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data. Adapun teknik yang digunakan adalah sebagai berikut :


a.     Library Researc adalah suatu research kepustakaan.[14]
b.     Field Research
      Adalah research yang dilakukan dikancah atau medan terjadinya gejala-gejala.[15] Dalam research kancah ini digunakan metode-metode pengumpulan data sebagai berikut :
1.        Metode Observasi yaitu kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.[16]  Metode ini mendapatkan data yang dapat di amati secara langsung.
2.        Metode Interview yaitu berupa dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.[17]
3.        Metode Angket yaitu sejumlah pertanyaan secara tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi dari sumber data (responden).[18]
Metode Dokumentasi yaitu metode pengumpulan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip, buku tentang pendapat atau teori yang berhubungan dengan masalah.[19]
3.     Metode pengolahan data
Mengolah data berarti menimbang, menyaring, mengatur dan mengklasifikasikan.[20] Maka dalam konteksnya dengan judul skripsi di atas, terhadap data-data yang bersifat dokumenter atau liberary research diperiksa kembali atau diteliti satu persatu (editing), kemudian data-data tersebut diberi tanda atau kode (koding). Selanjutnya data-data itu disusun atau di tempatkan dalam bentuk tabel ( tabulasi data ). Teknik tersebut di maksudkan untuk menghasilkan data yang cukup reliabel dan valid.
4.     Teknik analisis data
Analisis data adalah proses menyusun data agar data tersebut dapat ditafsirkan.[21] Dalam hal ini penulis menggunakan analisis data kualitatif Yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung.[22] Sebagai pendekatannya, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.[23]

F.      Sistematika penulisan

Untuk memudahkan dalam memahaminya, maka dalam penulisan skripsi ini di bagi menjadi lima bab, yaitu :
Bab pertama  :   merupakan pendahuluan berisi tentang alasan pemilihan judul,           permasalahan, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab  kedua     :Tinjauan tentang bimbingan hidup beragama Islan dan Kesehatan mental. Dalam bab ini dibagi menjadi tiga sub bab. Pertama; bimbingan hidup beragama Islam, meliputi; pengertian, dasar-dasar, prinsip-prinsip, macam-macam, metode, serta materi bimbingan hidup beragama Islam. Kedua : Kesehatan Mental, meliputi; pengertian, ciri-ciri kesehatan mental, upaya mencapai kesehaatn mental, serta kesehatan mental dalam Islam.
Bab  ketiga     :Dalam bab ini berisi tentang bimbingan hidup beragama Islam kepada anak di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu. Bab ini dibagi menjadi tiga sub bab, pertama ; situasi umum Panti Asuhan Muhammadiyah yang meliputi; sejarah berdirinya, letak geografis , struktur organisasi, keadaan anak asuh dan prasarananya. Kedua; pelaksanaan bimbingan hidup beragama Islam, meliputi; konselor dan konseli, matyeri dan metode, tangapan anak terhadap pelaksanaan bimbingan hidup beragama Islam serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan bimbingan ketiga. Kesehatan mental anak yang meliputi; faktor yang mempengaruhu dan frekuensi mental anak.
Bab  keempat  :     Dalam bab ini di bahas tentang bimbingan hidup beragama Islam di Panti Asuhan Muhammadiyah Kaliwungu, yang meliputi; analisis tentang bimbingan hidup beragama Islam, tanggapan anak asuh terhadap pelaksanaan bimbingan hidup ebragama Islam, faktor yang mempengaruhi mental anak, serta keterkaitan bimbingan hidup beragama Islam terhadap kesehatan mental anak di Panti Asuhan Muhammadiyah kecamatan Kaliwungu.

Bab   kelima :    Penutup
Bab ini merupakan bab terakhir dalam skripsi yang meliputi; kesimpulan, saran-saran dan penutup.



[1] Aminuddin Sanwar, Pengantar Ilmu Dakwah, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 3.
[2] Kartini Kartono, Psikologi Anak, Alumni Bandung, 1979, hlm. 33.
[3] Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 62.
[4] Mas’ud Khasan Abdul Qohar, Kamus Populer, CV Bintang Pelajar, Gresik, tt, hlm. 13.
[5] HM. Arifin Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, PT Golden Terayon Press, Jakarta, 1994, hlm. 1.
[6] Priyatno dan Ermananti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Renika Cipta, Jakarta, 1999, hlm.93-94.
[7] HM. Hafi Ansori, Dasar-Dasar Imu Jiwa Agama, Usaha Nasional, Surabaya 1991, hlm. 48.
[8] Nasruddin Razak, Dienul Islam, Cet. 9, Al Ma’arif, Bandung, 1986, hlm. 56.
[9] Zakiyah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1983, hlm. 9. lihat juga Zakiyah Daradjat, Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1983, hlm. 11-14.
[10] Ibid, hlm. 9.
[11] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993, hlm. 312.
[12]  Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Reneka Cipta, Jakarta 1998, hlm. 115-117
[13] Ibid. hlm. 120
[14] Strisno Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1987, hlm. 9
[15] Ibid. hlm. 10
[16] Suharsimi Arikunto, Op.Cit., hlm. 146
[17] Ibid., hlm. 145
[18]  Hadari Nawawi, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 1995, hlm. 120
[19] Ibid. hlm. 136
[20] Kartini Kartono, Op. Cit, hlm. 76.
[21] H. Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, CV Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 102.
[22] Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, him. 134.
[23] Hadari Nawawi; Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet. 6, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1993, hlm. 63.
Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

0 komentar:

Post a Comment