KOMPETENSI PERSONAL

Diposkan oleh TIKUS di 6/08/2012
A.    Pengertian Kompetensi Personal (Kepribadian)
Untuk memberikan pengertian tentang kompetensi personal guru, di sini akan diuraikan terlebih dahulu tentang pengertian kompetensi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kompetensi berarti kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu”.[1] sedangkan menurut Barlow (1985) “kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak”.[2]

Sementara Moh. Uzer Usman menjelaskan pengertian kompetensi sebagai berikut:
  1. Kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif.
  2. Kompetensi juga merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. [3]
Definisi lain tentang kompetensi yaitu : “Competency is knowledge skill, ability or characteristic associated with hight performance an a job, some definition of competency include motives, believes and values.”[4] Dalam hal ini kompetensi diartikan sebagai perpaduan pengetahuan, ketrampilan, kemampuan atau sifat-sifat lain melakukan sebuah pekerjaan atau tugas. Beberapa definisi kompetensi juga mencakup motivasi, kepercayaan dan nilai.
Dari pengertian kompetensi di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan profesi keguruannya secara bertanggung jawab dan layak diperoleh melalui pendidikan dan latihan sesuai dengan apa yang dipersyaratkan.
Sedangkan kompetensi dalam penelitian ini adalah kemampuan yang merupakan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.[5]
Kepribadian dalam Bahasa Inggris adalah “Personality”, sedangkan dalam bahasa latin adalah “personal” yang berarti kedok atau topeng,[6] yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak atau peribadi seseorang. Kepribadian dapat diartikan sebagai sifat yang hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dari orang atau bangsa lain.[7]
Upaya memahami pengertian kepribadian, berikut ini penulis mengutip beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:
  1. GW Allport, berpendapat “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophisical systems that determine his unique adjustments to his environment.” Artinya personality adalah suatu organisasi psycopysis yang dinamis dari pada seseorang yang menyebabkan ia dpat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  2. M. Prince, berpendapat tentang kepribadian yaitu “Personality is the sum total of all the biological innatedisposition impluses, tendencies, appitites, instites, instincof individual and acqured disposition and tendencies acquered by experience.” Dalam hal ini kepribadian dibawa sejak lahir, berperan juga disposisi-disposisi lainnya yang diperoleh dari pengalaman.[8]
Jadi kompetensi personal (kepribadian) guru didefinisikan sebagai kemampuan seorang guru yang berkaitan langsung dengan pribadi masing-masing guru terhadap individu yang unik yang berbeda dengan guru lainnya, menyangkut sifat serta sikap, baik terhadap diri sendiri, orang lain yaitu peserta didik yang terlihat dari cara memperlakukan, menyampaikan materi, juga terhadap orang lain, terutama di lingkungan sekolah. Hal ini tercermin dari ucapan serta tindakan dalam berinteraksi.

B.     Kompetensi Personal (Kepribadian) Guru PAI
Bagi guru PAI kompetensi personal (kepribadian) menjadi kunci utama keberhasilan pengajarannya. Ia bertugas menanamkan nilai-nilai islam sehingga peserta didik berkomitmen untuk melaksanakan nilai-nilai islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu guru harus terlebih dahulu berperilaku islami serta menjadi teladan bagi peserta didiknya.
Meskipun kompetensi personal sangat sulit diukur, namun untuk menentukan ataupun menilai kompetensi personal seorang guru PAI dapat dilihat dari seluruh performannya, dan bagi guru PAI khususnya telah ada standar kepribdian yakni Rasulullah saw. Dan Allah mengajarkan kepada kita untuk meneladani pribadi beliau. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an Surat al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً) (الأحزاب:٢١)
“Sesungguhnya telah ada pada  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  (yaitu) bagi orang yang mengharap  (rahmat) Allah dan  (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)[9]

Seorang guru dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik karena disamping mengajarkan ilmu guru juga membimbing dengan membina anak didiknya. Tingkah laku dan perbuatannya harus dapat dijadikan sebagai teladan.
Dengan kata lain guru harus bersikap yang terbaik dan konsekuen terhadap perkataan dan perbuatannya, karena guru adalah sentral figure yang akan dicontoh dan diteladani anak didiknya, mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
اتأمرون الناس بالبر وتنسون انفسكم ...  (البقرة: ٤٤)
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri … (QS. Al-Baqarah: 44).[10]

Dalam tugas guru, Al-Ghazali menyebutkan tentang kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, yaitu sebagai berikut:
a.      Sabar
b.      Bersifat kasih sayang dan tidak pilih kasih.
c.      Sopan dan tunduk, tidak riya’ (pamer).
d.     Tidak takabur (sombong).
e.      Besikap tawadlu’.
f.       Sikap dan pembicaraannya tidak main-main.
g.      Menanam sikap bersahabat.
h.      Menyantuni
i.        Membimbing dan mendidik
j.        Berani berkata “saya tidak tahu”.
k.      Ketrampilan hujjah (argumen) yang benar.[11]
Team Didaktik metodik kurikulum IKIP Surabaya mengemukakan sifat-sifat seorang guru yang baik yaitu bewibawa, jujur, bertanggung jawab, adil, bijaksana dalam memutuskan sesuatu, rajin, mudah bergaul dan tidak sombong, cinta kepada tugasnya, bisa mendisiplinkan diri sendiri, pemaaf, tidak lekas marah, mau mendengar pendapat orang lain, serta loyalitas terhadap bangsa dan negaranya.[12]
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat:
Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (ma’nawi) sukar dilihat atau diketahui secara nyata yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan, misalnya dalam tindakannya, ucapan, cara bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi sikap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.[13]

Menurut Undang-undang Guru dan Dosen pada Bab IV, pasal 10 ayat (1) yang dimaksud kompetensi personal (kepribadian) adalah kemampuan kepribadian yang mentap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.[14]
Dari beberapa pendapat tentang kepribadian guru di atas, penulis hanya akan meneliti tentang beberapa kompetensi personal (kepribadian) yang harus dimiliki oleh guru sebagai teladan bagi anak didiknya yang meliputi: kedisiplinan, penampilan, tanggung jawab, dan kesopanan.
  1. Kedisiplinan
a.       Pengertian kedisiplinan
Kedisiplinan berasal dari kata disiplin yang mendapat awalan ke- dan akhiran –an yang dalam bahasa Inggrisnya diciplin. [15] Beberapa definisi disiplin yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:
1)      Made Pidarta, disiplin adalah tata kerja seseorang yang sesuai dengan aturan dan norma yang telah disepakati sebelumnya.[16]
2)      Ma’rat, “Disiplin adalah sikap perseorangan atau kelompok yang menjamin adanya kepatuhan terhadap perintah-perintah dan berinisiatif untuk melakukan suatu tindakan yang perlu seandainya tidak diperintah”.[17]
3)      Soegarda Poerbakawatja dan H.A. Harahap, “Disiplin adalah suatu tingkat tata tertib tertentu untuk mencapai kondisi yang baik guna memenuhi fungsi pendidikan”.[18]
4)      Robert M. Goldenson, “Dicipline is the process of learning to adapt one’s behavior to the requirement of society.”[19] Artinya : disiplin adalah proses pembelajaran untuk menyesuaikan tingkah laku seseorang terhadap tuntutan masyarakat.
5)      Ali Imron, “disiplin adalah suatu keadaan dimana sesuatu itu berada dalam keadaan tertib, teratur dan semestinya, serta tiada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung.[20]
Dari beberapa pendapat para ahli tentang kedisiplinan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa kedisiplinan adalah suatu kondisi dimana seseorang taat dan patuh terhadap ketentuan, peraturan, dan norma yang berlaku untuk mencapai suatu kondisi yang tertib dan teratur.
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan
Disiplin tidak terbentuk secara otomatis pada diri seseorang, menurut Made Pidarta dalam bukunya yang berjudul peranan kepala sekolah pada pendidikan dasar menyatakan bahwa ada disiplin yang bersumber dari luar, ada juga disiplin yang bersumber dari dalam diri seseorang.”[21]
Ada faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan antara lain:
1)      Faktor intern
Yang dimaksud faktor intern yaitu yang berada atau bersumber dari dalam diri seorang guru yang meliputi:
a)      Faktor fisik
Kondisi fisik yang sehat lebih menguntungkan daripada kondisi fisik yang terganggu. Kondisi fisik guru yang sehat akan membantu guru untuk selalu berdisiplin dalam segala hal, baik itu ibadah sholat, mengajar maupun lainnya. Karena kalau kondisi fisik kurang sehat akan sangat mengganggu guru dalam aktivitas mengajarnya. Guru akan selalu tidak masuk sekolah dikarenakan kondisi fisiknya sakit. Oleh karena itu kondisi fisik guru akan mempengaruhi kedisiplinan dalam berbagai aktifitasnya.
b)      Faktor psikis
Faktor psikis yang mempengaruhi kedisiplinan guru adalah :
-          adanya keinginan guru untuk melaksanakan tugas mengajar sebaik mungkin.
-          Adanya kebutuhan untuk memenuhi cara agar tugas mengajarnya berhasil baik. Karena adanya pemenuhan kebutuhan untuk berhasil mengajar dengan baik, akan mendorong guru untuk berdisiplin dalam melaksanakan tugasnya.
-          Adanya inisiatif untuk selalu berusaha memperbaiki profesionalisme mengajar sehingga akan mendorong guru berdisiplin dalam mengerjakan apa-apa yang menyangkut tentang keberhasilan mengajar.
2)      Faktor ekstern
Faktor ekstern yaitu hal-hal yang berada di luar individu yang merupakan rangsangan untuk membentuk bahkan megubah sikap. Yang termasuk dalam faktor ini adalah lingkungan guru itu berada yaitu lingkungan sekolah yang terdiri dari siswa, guru lain, dan tata tertitb sekolah itu sendiri.
a)      Siswa
Guru dalam pandangan siswa adalah seorang yang  patut digugu dan ditiru dalam segala tindakannya. Perlu disadari bahwa anak banyak belajar dengan meniru. Anak bertingkah laku baik, dengan meniru cara bertingkah laku dari orang-orang yang ada di lingkungannya.[22] Sehingga guru akan selalu bertingkah laku yang baik karena menjadi sorotan siswa. Di antaranya dengan cara mendisiplinkan diri dalam segala tindakannya baik dalam melaksanakan ibadah, maupun dengan sesama manusia. Karena hal ini akan berdampak pada keberhasilan guru dalam mendidik siswa.
b)      Guru
Keadaan rekan-rekan guru dalam sekolah berpengaruh terhadap kedisiplinan guru dalam berbagai hal. Misalnya guru yang selalu tidak masuk dalam mengajar akan membuat guru lain mengikuti untuk tidak mengajar. Begitu juga sebaliknya apabila rekan-rekan guru berdisiplin dalam segala hal maka guru pun akan ikut rajin atau disiplin dalam segala hal.
c)      Tata Tertib
Tata tertib sekolah yang harus dilakukan guru juga akan membantu guru untuk berdisiplin dalam berbagai hal.
c.       Bentuk-bentuk kedisiplinan
Mengingat begitu pentingnya peranan kedisiplinan dalam membentuk  perilaku siswa, maka di sini akan penulis uraikan bentuk-bentuk kedisiplinan tersebut, antara lain:
1).    Ibadah shalat
Ibadah shalat merupakan salah satu bentuk latihan bagi pembinaan kedisiplinan pribadi. Ketaatan melaksanakan shalat pada waktunya menumbuhkan kebiasaan untuk secara teratur dan terus menerus melaksanakannya pada waktu yang ditentukan.[23] Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nisa’ ayat 103 :
... إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً. (النساء:۱۰۳)
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisa’ : 103)[24]

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa shalat itu selain amalan fardlu (wajib) juga ditentukan waktunya baik pagi, siang dan malam. Ini mempunyai maksud yaitu menekankan ketergantungan total manusia terhadap Penciptanya dan mengingatkan posisinya sebagai hambaNya.[25]
Kedisiplinan dalam menjalankan ibadah shalat di antaranya adalah tepat waktu dalam menjalankannya, karena ibadah tepat waktu itu merupakan amalan yang sangat disukai oleh Allah SWT sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
عن أبي عمرو الشيباني يقول, حدثنا صاحب هذه الدار إلى دار عبد الله قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم أي العمل أحب ألى الله قال الصلاة على وقتها. (رواه البخاري)[26]
Dari Abi Amrin Asy-Syaibani berkata: telah menceritakan kepada kita orang yang mempunyai rumah ini dan memberi isyarat kepada rumah Abdullah dan berkata: saya bertanya kepada Nabi Muhammad SAW : amal apakah yang paling disukai Allah? Nabi bersabda: “shalat tepat pada waktunya.” (HR. Bukhari)

Di samping tepat waktu, ibadah shalat dengan disiplin di antaranya yaitu selalu melaksanakan shalat secara berjamaah, berdo’a dan membaca wirid setelah shalat sunnah selain shalat fardlu dan sebagainya.
2).    Mengajar
“Mengajar adalah usaha guru memimpin murid ke perubahan situasi dalam arti kemajuan dalam proses perkembangan intelek pada khususnya dan proses perkembangan jiwa, sikap pribadi serta ketrampilan pada umumnya.”[27]
Dalam pembinaan disiplin, guru bertugas untuk selalu meningkatkan disiplin dirinya sendiri dengan mematuhi pertauran dan norma-norma yang berlaku sesuai dengan kedudukannya sebagai guru yang menjadi contoh siswa dan masyarakat.
Di antara peraturan dan ketentuan mengajar itu adalah:
-      Hadir di sekolah sejak permulaan jam pelajaran dan tidak meninggalkan sekolah sebelum jam pelajaran berakhir.
-      Melaksanakan tugas sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya tepat pada waktunya.
-      Membantu pelaksanaan ketertiban sekolah
-      Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat mengurangi kewibawaannya
-      Meningkatkan pengetahuannya.
-      Menjaga nama baik sekolah
-      Membuat persiapan mengajar menurut tuntutan kurikulum
-      Melaksanakan program pengajaran secara efektif, efisien termasuk melaksanakan evaluasi, analisis dan tindakan remidial.
-      Memberi kesempatan tumbuhnya kreatifitas siswa.
-      Memberikan bimbingan dan penyuluhan sesuai dengan keperluan siswa.[28]
  1. Penampilan guru
Penampilan dalam bahasa adalah “Performance”, yang berarti proses, cara, perbuatan menampilkan.[29]
Penampilan guru di sini meliputi penampilan fisik guru. Hal ini dikarenakan siswa akan menilai bagaimana seorang guru itu untuk pertama kalinya dengan apa yang dilihatnya, melalui penampilan fisik guru yang berupa tindakan, cara berpakaian serta ucapan guru.[30]
Sedangkan secara istilah penampilan guru merupakan ujung tombak dalam proses pendidikan di sekolah. Dia dapat menjadi pendorong semangat belajar anak didiknya atau sebaliknya dapat menjadi faktor yang melemahkan semangat belajar siswa. Hal itu akan tergantung begaimana penampilan guru dihadapan siswa-siswanya, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
Gerakan yang dilakukan oleh guru pada saat mengajar mempunyai pengaruh yang besar pada siswa. Gerakan guru dapat menegaskan atau memperjelas hal-hal yang penting karena biasanya seseorang dapat lebih jelas dalam memahami sesuatu di samping melalui pendengarannya juga disertai dengan pengamatan pada apa yang dilihatnya. Semakin banyak indera yang dipergunakan hasilnya akan semakin baik.
Gerakan yang baik adalah gerakan yang efisien dan efektif, artinya gerakan yang cukup tetapi benar-benar mendukung penjelasan atau uraian guru.[31] Untuk itu pada saat guru mengajar, hendaknya memperlihatkan gerakan-gerakan yang dilakukannya, termasuk juga posisi berdiri. Guru hendaknya berada di tengah dan tidak terlalu dekat dengan deretan kursi terdepan agar semua siswa dapat melihat dan mendengarkan ucapan guru dengan baik.
Guru harus dapat membuat variasi dalam gerakan dan sikapnya secara tepat. Perlu dihindari sikap-sikap yang  terlalu sering atau jarang, karena akibatnya yang ditimbulkan juga tidak baik. Yang penting guru hendaknya selalu mengusahakan agar gerakan dan sikap yang ia tampilkan benar-benar dapat mendukung ulasan yang disampaikan.
Selain itu guru hendaknya juga memperlihatkan gerakan-gerakan lain yang biasa dilakukan, tetapi perlu dihindari  seperti gerakan menggaruk-garuk anggota badan, memegang celana atau gaun tanpa alasan yang jelas, mempermainkan kapur, berjalan hilir mudik dan gerakan-gerakan lain yang tampak kaku yang biasanya tidak disadari.
Selain gerakan, guru juga perlu memperhatikan suara yang meliputi kekuatan lagu bicara atau intonasi tekanan bicara, dan kelancaran bicara.[32]
Guru sebaiknya berbicara dengan bahasa yang jelas dan sederhana yang akan memudahkan siswa dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Kalimat yang dipergunakan untuk menjelaskan lebih baik singkat tetapi jelas. Kalimat yang terlalu panjang akan mengaburkan penjelasan yang disampaikan.
Kata-kata yang diucapkan guru hendaknya jelas, bila tidak ucapan guru tidak akan terdengar oleh siswa. Tidak jarang ucapan guru yang kurang jelas akan menyebabkan siswa saling menanyakan hal yang diucapkan guru sehingga timbul kegaduhan yang membuat suara guru lebih tidak jelas.
Dalam berbicara guru juga hendaknya memperhatikan kekuatan suara. Bila suara terlalu keras atau terlalu lemah akan memberikan hasil belajar yang buruk. Suara yang terlalu keras dan memekakkan telinga justru sulit untuk ditangkap arah atau isi pembicaraan. Di samping itu dengan suara yang terlalu keras akan mengakibatkan siswa mempunyai kesan bahwa gurunya seorang yang kejam sehingga mengakibatkan siswa diliputi oleh rasa cemas dan ketakutan saat pelajaran berlangsung. Demikian juga dengan suara yang terlalu lemah akan tidak jelas terdengar oleh siswa terutama yang duduk di bangku belakang.
Seorang siswa sangat sensitif terhadap pesan-pesan guru yang non-verbal. Mereka akan dapat menebak sikap guru yang sebenarnya. Apakah sedang kelihatan angker, raut muka mengandung marah, mata yang berkaca-kaca atau gerakan-gerakan tubuh yang lain. Apabila “bahasa tubuh” ternyata berbeda artinya dengan bahasa verbal yang diucapkan oleh guru, maka murid akan bingung, atau bahkan mereka akan melihat sesuatu yang lucu atas perbedaan “bahasa” guru itu.[33] Untuk itulah hendaknya guru selalu menyesuaikan pesan yang akan disampaikan baik melalui “bahasa tubuh” maupun “bahasa verbal”.
Berpakaian merupakan penampilan lambang yang terus menerus dari seluruh kepribadian.[34] Guru sebagai orang yang menjadi pusat perhatian para siswa harus bisa selalu tampail rapi dan sopan dalam berpakaian karena mengingat cara itu guru juga harus berpakaian seragam pada hari-hari yang diharuskan berpakaian seragam.
Maka kalau berpakaian indah dan rapi patut diperhatikan oleh orang-orang yang biasa, apalagi bagi guru, karena guru menjadi contoh dan suri tauladan. Pandangan murid-murid selalu tertuju kepadanya dan mengamatinya, maka hendaklah pandangan murid-murid selalu pada sesuatu yang elok dan terpuji.[35]
Sebagai guru perlu juga memperhatikan penampilan fisiknya seperti cara berpakaian. Penampilan guru dalam cara berpakaian seara tidak langsung akan mencerminkan kepribadian dari guru tersebut.
Seorang guru tidak boleh berpakaian secara mewah dan berkesan glamor. Akan tetapi hendaklah guru dapat menyesuaikan cara berbusana. Dengan berbusana sopan dan terlihat rapi akan menambah kesan baik di mata siswa sehingga dapat menambah rasa percaya diri bagi guru tersebut.[36]
Guru yang berpenampilan lusuh dan tekesan kotor akan mengakibatkan siswa menjadi malas dan tidak bergairah mengikuti pelajaran. Sepatutnya guru berpenampilan bersih dan rapi agar terlihat baik dalam pandangan siswa.

  1. Tanggung jawab guru
Manusia dapat disebut sebagai manusia yang bertanggung jawab apabila dia mampu membuat pilihan dan membuat keputusan atas dasar nilai-nilai dan norma-norma tertentu, baik yang bersumber dari dalam dirinya maupun yang bersumber dari lingkungan sosialnya.
Guru sebagai pendidik bertanggung jawab mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepada generasi muda. Sehingga terjadi proses konversi nilai. Bahkan melalui proses pendidikan diusahakan terciptanya nilai-nilai baru.[37] Firman Allah :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. (آل عمران:١٠٤)
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.”[38]

Dan sabda Rasulullah SAW:
وعن ابن عمر رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته. (رواه البخاري)[39]
“Dan dari ibnu uar RA berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpin.” (HR. Bukhori).

Dari ayat di atas jelaslah setiap orang, tak terkecuali guru sebagai pendidik dan pembimbing siswa atau anak didiknya, bertanggung jawab untuk membekali anak didiknya dengan akhlak yang baik. Tidak hanya itu, guru juga harus dapat membimbing anak didiknya ke arah mencerdaskan kehidupan anak didik menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa dan agama.
Berikut ini beberapa pendapat yang dikemukakan sehubungan dengan tugas dan tanggung jawab guru. Menurut Peters sebagaimana yang dikutip oleh Nana Sudjana dalam bukunya “dasar-dasar proses belajar mengajar”. Mengemukakan ada tiga tugas dan tanggung jawab guru, yaitu: a) guru sebagai pengajar, b) guru sebagai pembimbing, c) guru sebagai administrator kelas.[40]
Sebagai pengajar, guru lebih ditekankan pada usahanya untuk menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa dan anak didik. Jadi sebagai pengajar, guru lebih cenderung melakukan “transfer of knowledge”.
Guru sebagai pembimbing, yaitu dapat menuntun anak didik dalam perkembangannya dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, temasuk dalam hal ini ikut memecahkan persoalan-persoalan atau kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh anak didik. Dengan demikian diharapkan dapat menciptakan perkembangan yang lebih baik pada diri siswa, baik perkembangan fisik maupun mentalnya.[41]
Tugas ini berkenaan dengan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan peyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyengkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa. Sedangkan tugas sebagai adminstrator kelas, pada hakekatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya.
Dalam sumber lain, dijelaskan bahwa tanggung jawab guru adalah membentuk anak didik menjadi orang yang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa dan bangsa di masa yang akan datang yakni dengan memberikan sejumlah norma kepada anak didik.[42]
Sementara itu Oemar Hamalik dalam bukunya “pendidikan guru berdasarkan pendekatan kompetensi” mengemukakan tanggung jawab guru di antaranya:
1)      Tanggung jawab moral
Setiap guru profsional berkewajiban menghayati dan mengamalkan pancasila dan mewariskan nilai-nilai UUD 1945 kepada generasi muda. Sebelum melaksanakantanggung jawab ini guru harus memiliki kompetensi dalam bentuk kemampuan menghayati dan mengamalkan pancasila sehingga moral pancasila mendasari semua kepribadiannya.
2)      Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah
Tanggung jawab ini mempunyai arti bahwa guru memberi bimbingan dan pengajaran kepada siswa. Maka guru harus kompetensi seperti menguasai cara belajar yang efektif, mampu membuat satuan model pelajaran, memahami kurilulum secara baik, melaksanakan prosedur penilaian dan sebagainya.
3)      Tanggung jawab dalam bidang kemasyarakatan
Guru merupakan bagian dai masyarakat yang juga bertanggung jawab turut serta memajukan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
4)      Tanggung jawab dalam bidang keilmuan 
Dalam bidang ini guru bertanggung jawab memajukan ilmu, terutama ilmu yang menjadi spesialisasinya. Tanggung jawab ini dapat dilaksanakan dalam bentuk penelitian dan pengembangannya.[43]
  1. Kesopanan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kesopanan diartikan sebagai adat sopan santun, tingkah laku (tutur kata) yang  baik, tata krama, keadaan dan kesusilaan.[44]
Al-Qur'an merupakan sumber pedoman hidup yang paling utama bagi manusia terutama Islam, di dalamnya berisi petunjuk-petunjuk yang harus diamalkan dalam kehidupannya. Untuk itu, guru harus menjadi penuntun bagi yang lainnya, guru harus memiliki sifat-sifat yang diajarkan dalam Al-Qur'an.
Dengan demikian seorang guru harus dapat menjadi panutan bagi peserta didiknya, maka ia harus memiliki akhlak yang agung, sebagaimana dalam diri Rasulullah saw. Untuk lebih rincinya, bahwa akhlak mulia bagi seorang guru muslim sebagai sifat-sifat terpuji yang harus dimilikinya adalah sebagai berikut:
1).        Ikhlas dan tidak tamak
Ikhlas adalah sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata demi memperoleh ridla atau perkenaan Allah, dan bebas dari pamrih lahir dan batin tertutup maupun terbuka. Dengan sikap yang ikhlas orang akan mampu mencapai tingkat tertinggi nilai karsa batinnya dan kaya lahirnya, baik pribadi maupun sosial. Dengan sikap ikhlas pula, manusia tidak akan menganggap bahwa segala sesuatu itu harus diukur dengan materi. Dengan dasar keikhlasan seseorang akan menerima apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.[45]
Dengan demikian guru bukan hanya semata-mata untuk menambah wawasan keilmuannya lebih jauh dari itu harus ditujukan untuk meraih ridla Allah serta mewujudkan kebenaran. Dengan demikian seorang pendidik semaksimal mungkin menyebarkan kebenaran kepada anak didiknya dan berusaha untuk ikhlas atas segala hal yang telah diperbuatnya.
2).        Jujur
Ketika menyampaikan ilmunya kepada anak didik, seorang pendidik harus memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang dia ajarkan dalam kehidupan pribadinya. Jika apa yang diajarkan guru sesuai dengan apa yang dilakukannya, anak didik akan menjadikan gurunya sebagai teladan. Namun jika perbuatan gurunya bertentangan dengan apa yang dikatakan, anak didik akan menganggap apa yang diajarkan gurunya sebagai materi yang masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Yang terpenting guru harus jujur dalam banyak hal, asalkan dapat membawa sikap yang positif bagi peserta didik.[46]
3).        Adil dan Taqwa
Taqwa adalah sikap yang sadar dan penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berusaha berbuat hanya sesuatu yang diridlai Allah, dengan menjaga diri dari sesuatu yang diridlai-Nya. Sikap taqwa harus selalu dijaga dalam mengembangkan potensi dan dalam kondisi apapun.
Begitu juga guru harus bersikap adil diantara peserta didiknya, tidak cenderung kepada salah satu golongan diantara mereka, dan tidak melebihkan seorang atas yang lain, dan segala kebijaksanaan dan tindakannya ditempuh dengan jalan yang benar dan dengan memperhatikan peserta didik sesuatu dengan kemampuan dan perbuatannya. Seorang guru yang selalu berbuat adil, dimana ia berbuat berdasarkan kebenaran berarti berusaha untuk menjadikan orang lebih bertaqwa, yakni melaksanakan apa-apa yang merupakan kebenaran dan meninggalkan apa-apa yang merupakan kesalahan.[47]
4).        Lemah Lembut, Pemaaf, dan Musyarawah
Dengan sifat yang lemah lembut, guru akan menjadikan dirinya disenangi dan dihormati oleh peserta didiknya. Ia mengajar dan mendidik peserta didiknya dengan rasa kasih sayang sebagaimana mengasihi anaknya sendiri. Ia juga harus bersifat pemaaf terhadap peserta didiknya, ia sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, sabar dan jangan marah karena sebab kecil, serta ia harus dapat menjalin hubungan dengan peserta didiknya secara demokratis. Yakni selalu mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan tentang permasalahan-permasalahan yang menyangkut kepentingan bersama, sehingga murid tidak akan berani melawan guru.[48]
5).        Rendah Hati
Guru merupakan orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan lebih bila dibandingkan dengan peserta didiknya. Namun  demikian dengan kelebihan yang dimilikinya, jangan sampai membuat guru menjadi sombong, melainkan tetap rendah hati dan mau menghargai kemampuan peserta didiknya. Disini guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan metode yang tepat yang akan disajikan.[49]
6).        Wibawa
Wibawa diartikan sebagai sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat sehingga peserta didik merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan. Kewibawaan didasari oleh kerelaan, kasih sayang dan kesediaan mencurahkan kepercayaan.[50]
Kewibawaan ini dapat terwujud karena kemampuan lebih yang dimiliki oleh guru dibanding dengan peserta didiknya, sehingga membuat yang dididiknya itu menjadi patuh dan tunduk.
7).        Berilmu Luas dan Bertubuh Sehat
Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka guru harus memiliki ilmu yang luas dan tubuh yang sehat, kesehatan merupakan syarat utama bagi seorang guru, sebagai orang yang setiap harinya bekerja dan bergaul dengan anak-anak.[51]
8).        Menguasai bahan pengajaran
Guru harus menguasai bahan-bahan yang akan diajarkan kepada peserta didiknya. Sehingga apabila timbul permasalahan yang berkaitan dengan bahan pengajaran akan dapat menjawabnya, begitu juga guru harus terampil dan cerdik dalam menciptakan metode pengajaran yang variatif serta sesuai dengan materi pelajaran.[52]
9).        Mencintai pekerjaan
Seorang yang memiliki profesi sebagai guru, berarti ia harus mencintai dan menjunjung tinggi citra pekerjaannya, karena barang siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan yang penting dan besar.[53] Sehingga ia akan merasa senang dan terpanggil untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
10).    Menguasai Kapasitas Akal peserta didiknya
Hendaknya guru mengetahui kemampuan akal yang dimiliki oleh peserta didiknya, sehingga dapat memberikan ilmu pengetahuan dan perlakuan terhadap mereka sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.[54]
Dengan mengetahui dan memahami kapasitas kemampuan yang dimiliki oleh peserta didiknya, membuat mudah bagi guru untuk melaksanakan tugas proses pendidikan, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara kedua belah pihak.



11).    Selalu ingin menambah keilmuannya.
Guru harus senantiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kajiannya.[55] Guru sebagai pentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya, maka ia harus mau berusaha dan berdo’a agar bertambah ilmunya.
12).    Selalu mengajak kepada kebaikan
Seruan dan anjuran seorang guru, hendaknya tercermin pula dalam sikap keluarganya atau para sahabatnya.[56]
Sedangkan menurut Al-Ghazali, sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru adalah sebagai berikut:
1).        Guru hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri, menyayangi dan memperlakukan mereka seperti layaknya anak sendiri.
2).        Dalam menjalankan tugasnya, guru hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian, tetapi hendaknya mengharapkan keridlaan Allah dan berorientasi mendekatkan diri kepada-Nya.
3).        Guru hendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberi nasihat dan bimbingan kepada murid bahwa tujuan menuntut ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memperoleh kedudukan atau kebanggan duniawi.
4).        Terhadap murid yang bertingkah laku buruk, hendaknya guru menegurnya sebisa mungkin dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang, bukan dengan terus terang dan mencela, sebab teguran yang terakhir dapat membuat murid berani membangkang dan sengaja terus menerus bertingkah laku buruk.
5).        Hendaknya guru tidak fanatik terhadap bidang studi yang diasuhnya, lalu mencela bidang studi yang diasuh guru lain. Sebaliknya, hendaknya ia mendorong murid agar mencintai semua bidang studi yang diasuh guru-guru lain.
6).        Hendaknya guru memperhatikan fase perkembangan berfikir murid agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berfikir murid.
7).        Hendaknya guru memperhatikan murid yang lemah dengan memberinya pelajaran yang mudah dan jelas, serta tidak menghantuinya dengan hal-hal yang serba sulit dan dapat membuatnya kehilangan kecintaan terhadap pelajaran.
8).        Hendaknya guru mengamalkan ilmu, dan tidak sebalinya bertentangan dengan ilmu yang diajarkannya kepada murid.[57]
Tentang kesopanan guru juga terdapat dalam kode etik guru. Kode etik disini berarti sumber etik. Etik artinya tata-susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Jadi “kode etik guru” diartikan atusan tata-susila keguruan. Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang menyangkut pekerjaan guru) dilihat dari segi susila. Maksud kata susila adalah hal yang berkaitan dengan baik dan tidak baik menurut ketentuan-ketentuan umum yang berlaku. Dalam hal ini kesusilaan diartikan sebagai kesopanan, sopan-santun dan keadaban.
Kode etik guru merupakan statment formal yang merupakan norma (aturan tata-susila) dalam mengatur tingkah laku guru. Sehubungan dengan hal itu tidaklah terlalu salah kalau dikatakan bahwa kode etik guru merupakan semacam penangkal dari kecenderungan manusiawi seorang guru yang ingin menyeleweng. Kode etik guru merupakan perangkat untuk mempertegas atau mengkristalkan kedudukan dan peranan guru sekaligus untuk melindungi profesinya.
Kode etik guru merupakan landasan untuk menjaga dan mempertahankan kemurnian profesi keguruan sehingga terhindar dari bentuk penyimpangan dan menjadikan guru tetap sebagai tenaga profesional perlu memiliki “kode etik guru” dan menjadikannya sebagai pedoman yang mengatur pekerjaan guru selama dalam pengabdian. Kode etik tersebut harus merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru. Kode etik guru harus tetap dipegangi dalam kondisi apapun. Sebab kode etik ini merupakan ciri khas dari kepribadian guru. Adapun rumusan kode etik guru yang merupakan kerangka pedoman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan hasil konggres XIII di Jakarta tahun 1973 dan kemudian disempurnakan dalam konggres PGRI XVI tahun 1989 juga di Jakarta.
Adapun teks kode etik yang telah disempurnakan adalah sebagai berikut:
1).    Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang berpancasila.
2).    Guru memiliki kejuruan profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing-masing.
3).    Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4).    Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5).    Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untruk kepentingan pendidikan.
6).    Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7).    Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
8).    Guru secara  hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
9).    Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.[58]
Kode etik guru ini merupakan suatu yang harus dilaksanakan sebagai barometer dari semua sikap dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan baik dalam keluarga sekolah maupun masyarakat.


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 516.
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 230.
[3] Moh. Uzer Usman, Manjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 4
[4] Richard J. Mirable, “Everything You Wanted To Know About Competency Modelling”, (http://             , 1997), hlm. 73-77.
[5] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, Dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 37.
[6] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1980), hlm. 8.
[7] Departemen P dan K, Kamus Besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 701.
[8] Agus Suyanto, dkk., Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Bumi Aksara, t.th.), hlm. 11.
[9]  Departeman Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara penterjemah Al-Qur’an, 1983), hlm. 670.
[10] Departemen Agama RI, op.cit,  hlm.
[11] Zainuddin, dkk., Seluk Beluk Pendidikan Dari Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 57.
[12] Tim Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktif Metodik Kurikulum PBM, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 20-21.
[13] Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hlm. 16.
[14] Undang-undang RI, No.14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, (Bandung, Nuansa Aulia, 2006) hal.77.
[15] John M. Echols dan Hassan Shadily, kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1984), hlm. 189.
[16] Made Pidarta, Peranan Kepala Sekolah Pada Pendidikan Dasar, (Jakarta: PT. Gramedia Widisarana Indoesia, 1995), hlm. 64..
[17] ma’rat, Pimpinan dan Kepemimpinan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), hlm. 90.
[18] Soegarda Poerbakawatja dan H.A. Harahap, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 81.
[19] Robert M. Goldenson, The Ensyclopedia Of Human Behavior Psycology, Psychyatry And Mental Health Volume I, (New York: doubleday and Company. Inc., 1970), hlm. 335
[20] Ali Imron, Pembinaan Guru Indonesia, (Jakarta: PT. Dunia Pustakajaya, 1995), hlm. 183.
[21] Made Pidarta, op.cit.,  hlm.   64.
[22] Y. Singgih D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk Keluarga, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1979), hlm. 132.
[23] Zakiah Darajat, Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, (Jakarta: CV. Ruhana, 1996), hlm. 37.
[24] Departeman Agama RI, op. cit., hlm. 138
[25] Suzane Haneef, Islam Dan Muslim, terj. Siti Zaenab Luxfiati, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), hlm. 91.
[26] Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-bukhari, Shohih Bukhari, Juz I, (indonesia: Maktabah Dahlan Firdaus, 1993), hlm. 91.
[27] A.G. Soejono, Pendahuluan dedaktik Metodik Umum, (Bandung: Bina Karya, tth.), hlm. 10
[28] direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah Dasar, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996), hlm. 185.
[29] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm. 1131.
[30] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 148.
[31] Ibid,  hlm. 198.
[32] Ibid, hlm. 99.
[33] Thomas Gordon, Guru  yang Efektif, Cara untuk Mengatasi Kesulitan dalam Kelas, (Jakarta: Rajawali, 1980), hlm. 43.
[34] Earl V. Pullias dan James D. Young, Guru Makhluk Serba Bisa, Terjemahan Ibrahim Anan, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, tth.), hlm. 56.
[35] Ahmad Syalabi, Sejarah pendidikan Islam, Terjemahan Muhtar Yahya dan M. Sanusi Latef, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 274.
[36] Zakiyah Darajat, Kepribadian Guru,  (Jakarta: Bulan Bintang, 1982,)  hlm. 16.
[37] Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdsasarkan pendekatan Kompetensi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004),  hlm. 39.
[38] Departeman Agama RI, op. cit., hlm. 93.
[39] Imam Jalal al-Din Al-Suyuti, Jami’ al-Shoqir, (Bandung: Al-Ma’arif, tth.), hlm. 36.
[40] Nana Sujana, Dasar-dasar Proses belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Al-Gensindo, 1995),  hlm. 15.
[41] Sardiman A.M., op. cit., hlm. 6.
[42] Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Renika Cipta, 2000), hlm. 36.
[43] Oemar Hamalik, op. cit., hlm. 39-42.
[44] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, op.cit,  hlm. 1084.
[45] Indrajati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar Menggagas, Paradigma Baru Pendidikan, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001), hlm. XV.
[46] Abdur Rahman An-Nahlawi, Ushul at-Tarbiyah wal-Islamiyah wa Ashalibiha fil Baiti wal Madrasati wal Mujtama’, Terjemah Syihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press., 1995), hlm. 170.
[47] Ibid.
[48] Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Menuju Filsafat dan Kesucian Hati dan Bidang Insan dan Ikhsan, disunting oleh KH. Misbach Zainul Mustofa, (Semarang: CV. Bintang Pelajar, t.th.), hlm. 178.
[49] Abdurrahman An-Nahlawi, loc.cit.
[50] H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: PT. Grasindo, 1992), hlm. 48.
[51] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 141.
[52] Abdurrahman An-Nahlawi, op.cit., hlm. 173.
[53] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 76.
[54] Abdurrahman An-Nahlawi, op.cit., hlm. 170.
[55] Ibid.
[56] Kamal Muhammad Isa, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Fika Hati Aneka, 1994), hlm. 66.
[57] Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 49-50.
[58] Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, (Semarang: Toha Putra, t.th.), hlm. 55-58.
Related Posts :

Search Form

PERAHU JAGAD - Powered by Blogger. Template Designs: Dejoer Tekno by Adheens San