Search

Memuat...

Pandangan Tauhid Kaum Sufi Menurut Imam Al-Qusyairi Dalam Kitab Risalatul Qusyairiyah

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Modernisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah banyak membawa perubahan bagi masyarakat dalam cara berfikir, bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut akan membawa konsekuensi positif sekaligus berdampak negatif.[1]

Keberhasilan dunia modern juga menunjukkan suatu perubahan yang fantastis. Kemajuan di bidang industri telah banyak menghasilkan peralatan yang canggih, sehingga kebutuhan yang bersifat jasmaniah dapat dengan mudah terpenuhi, akan tetapi suatu kenyataan telah membuktikan hasil kemajuan yang tidak seimbang telah mendorong manusia mendewa-dewakan akal, sehingga segala sesuatu senantiasa diuji dengan akal. Bahkan tentang eksistensi Tuhan pun mulai diragukan. Bersamaan dengan itu terjadi krisis akidah yang cukup tajam. Karenanya tidak heran bila kemudian Sayyid Sabiq menerangkan:
Sebenarnya umat manusia seluruhnya di dunia pada zaman kita sekarang ini memiliki ilmu pengetahuan yang berlimpah ruah dan akal pikiran yang amat luas, tetapi boleh dikatakan masih dalam periode kanak-kanak yang baru tumbuh, oleh karena itu mungkin akan merupakan suatu bahaya terhadap jiwa perikemanusiaan bahkan bahaya itu mungkin akan mengenai seluruh manusia pada umumnya.[2]

Keterangan di atas menunjukkan sangat pentingnya mengadakan perubahan secara radikal terhadap jiwa manusia itu dengan jalan menanamkan aqidah yang benar dan sehat yang tidak tercampur dengan pemikiran-pemikiran yang dibuat-buat oleh siapapun dan tidak pula diselundupi oleh pendapat dan pengaruh hawa nafsu.[3] Kondisi di atas telah menyebabkan umat Islam mengkaji kembali pemikiran para ulama di antaranya pemikiran Imam al-Qusyairi. Mengapa peneliti memilih tokoh Imam al-Qusyairi karena penulis ingin mengetahui pemikiran Tauhid seorang ahli tasawuf seperti al-Qusyairi.
Kata Tauhid terdiri dari perkataan “theos” artinya Tuhan, dan “logos” yang berarti ilmu (science, study, discourse). Jadi Theologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan. Definisi theologi yang diberikan oleh para ahli-ahli ilmu agama antara lain dari Fergilius Ferm, yaitu: The discipline which concerns God (or the Divine Reality) and God’s relation to the world (Tauhid ialah pemikiran sistematis yang berhubungan dengan alam semesta).[4]
Alam semesta dan Tuhan merupakan dua hal yang berbeda. Alam semesta bersifat makhluk dan Tuhan merupakan khaliq. Tuhan dipelajari dalam berbagai disiplin ilmu di antaranya di dunia Barat masuk dalam disiplin Tauhid dan dalam dunia Islam masuk dalam kajian ilmu Akidah, Ushuluddin, Tauhid dan sebagainya. Dan ada yang menyebutkan lagi ilmu kalam sedangkan pakarnya disebut Mutakallimin.
Al-Qusyairi, lengkapnya Abul-Qasim Abdul-Karim al-Qasyairi adalah sufi terkemuka dari abad ke-11 (5 H). la lahir pada 986 (376 H) di Istiwa, dekat dengan salah satu pusat pengajaran ilmu-ilmu agama, kota Nisyapur (di Iran). Sebelum menyelami dan mengamalkan ilmu tasawuf, terlebih dahulu ia mendalami fikih, ilmu kalam, usul fikih, sastra Arab, dan lain-lain. la belajar dan bergaul dengan banyak ulama, antara lain dengan Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar at-Tusi (w. 1014/405 H), ahli fikih, dengan Abu Bakar bin Faurak (w. 1016/407 H), ahli usul fikih dan ilmu kalam, dengan Abu Ishaq al-Isfarayaini (w. 1027/418 H), dan lain-lain.
Setelah matang menyelami ilmu lahir, sehingga ia pantas disebut ahli fikih, yang menganut mazhab Syafi'i, dan ahli ilmu kalam, yang menganut aliran Asy’ariyah atau Ahlus Sunnah wal-Jamaah, ia melanjutkan studinya pada seorang sufi terkenal di Nisyapur yaitu Syekh Abu Ali ad-Daqqaq (w. 1023/412 H). Syekh ini mempunyai pengaruh yang besar atas pribadi al-Qusyairi, dan hasil membimbingnya menjadi bagian dari kelompok murid-murid yang istimewa (khawas). Al-Qusyairi bahkan dikawinkan dengan putri Syekh Ali ad-Daqqaq.
Dengan latar belakang kematangan dalam ilmu lahir (syariat), tidak mengherankan bahwa tasawuf yang dianut dan diajarkan oleh al-Qusyairi adalah tasawuf  yang sejalan dengan ajaran syariat. Dari tulisan-tulisannya yang dijumpai, terlihat bahwa ia berupaya menyadarkan orang bahwa tasawuf yang benar itu adalah tasawuf yang bersandarkan pada akidah yang benar, seperti yang dianut oleh para salaf atau ahlus sunnah, dan tidak menyalahi ketentuan syariat.[5]
Sebagai pengikut Tauhid Asy'ariyah, ia juga aktif membela.akidah Ahlus Sunnah wal-Jamaah, dan menyerang aliran-aliran lain, seperti Syi'ah, Mu'tazilah, dan lain-lain. Karena aktivitas demikian, ia pernah dipenjarakan pada 1055 (445 H), selama lebih sebulan, oleh pihak penguasa (Tugrul Bek), berdasarkan saran menterinya yang berpaham Syi'ah. Dua puluh tahun kemudian, ia wafat dan dikuburkan di Nisyapur (pada 1075/465 H).
Karya al-Qusyairi yang amat berharga bagi sejarah kesufian adalah karya tulisnya yang bernama ar-Risalat al-Qusyairiyyat, karena dengan karya tulis tersebut ia telah berhasil mengabadikan warisan rohaniah kaum sufi abad ke-3 dan 4 Hijrah, berupa keterangan-keterangan tentang perjalanan hidup dan wejangan-wejangan para tokoh sufi. Karya tulisnya yang lain, yang cukup penting pula adalah Lataifal-Isyarat, sebuah kitab tafsir al-Quran dengan penafsiran kesufian. Selain dari kedua karyatulis di atas (sudah dicetak), masih ada 13 buah judul lagi karya tulisnya, sebagian sudah diterbitkan dan yang lain masih berupa manuskrip (tulisan tangan).[6]
Dalam konsepnya tentang Tauhid, Al-Qusyairi membagi Tauhid dalam tiga kategori: pertama, tauhid Allah  untuk Allah, yakni mengetahui bahwa Allah itu Esa. Kedua, mengesakan Allah untuk makhluk, yaitu keputusan Allah bahwa seorang hamba adalah yang mengesakan-Nya dan Allah menciptakannya sebagai hamba yang mempunyai tauhid. ketiga, tauhid makhluk untuk Allah, yaitu seorang hamba yang mengetahui bahwa Allah adalah Esa. Dia memutuskan sekaligus menyampaikan bahwa Allah itu Esa. Uraian ini merupakan penjelasan singkat tentang makna tauhid.   
Menurutnya seorang hamba Allah yang telah bertauhid maka ia akan merasakan betapa nikmatnya bisa mengenal Tuhan. Dengan begitu manusia bisa mencapai marifatullah sebagai marifat sejati. Namun tauhid yang demikian hanya bisa dicapai melalui itikad yang bersih tanpa ada lagi rasa ketergantungan dirinya dengan selain Allah. Esensi (inti) Tauhid adalah penyerahan diri secara mutlak kepada khalik dengan keyakinan tinggi terhadap keberadaan zat yang tak bisa diserupakan dengan makhluk. Tauhid seperti ini akan menimbulkan gairah bagi seorang hamba untuk berbakti terhadap segala perintah dan larangan Allah. Masalahnya, apa yang menjadi alasan Imam al-Qusyairi berkata seperti itu?  Selain mengkaji persoalan tadi yang termasuk dalam pembahasan ma’rifatullah al-Qusyairiyah juga memasuki pembahasan sifat-sifat Tuhan, iman, kufur, ars, Allah Yang Hak.
Berdasarkan uraian di atas, mendorong peneliti mengangkat judul ini dengan tema: Pandangan Tauhid Kaum Sufi Menurut Imam Al-Qusyairi Dalam Kitab Risalatul Qusyairiyah

B.     Pokok Permasalahan

Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya.[7] Bertitik tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan :
  1. Bagaimana pandangan Tauhid kaum Sufi?
  2. Bagaimana pandangan Al-Qusyairi tentang tauhid kaum Sufi?
C.    Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pandangan Tauhid kaum Sufi
2.      Untuk mengetahui  pandangan Al-Qusyairi tentang tauhid kaum sufi
Adapun manfaat penulisan dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Secara teoritis, yaitu untuk menambah khazanah kepustakaan fakultas ushuluddin, khususnya jurusan Akidah Filsafat yang pada gilirannya diharapkan dapat dijadikan studi banding oleh penulis atau peneliti   lainnya.
  2. Secara praktis, untuk memperluas wawasan keilmuan guna dapat menjawab permasalahan yang muncul dan berkembang di masyarakat.
D.    Tinjauan Pustaka
Berdasarkan penelitian di perpustakaan fakultas ushuluddin tidak dijumpai skripsi yang judulnya mirip dengan judul ini. Namun demikian ada  beberapa buku yang telah dipubliksikan berkaitan dengan judul di atas di antaranya:
1.      Pengantar Studi Aqidah Islam disusun oleh Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan, Dalam temuannya penulis buku ini menguraikan bahwa Tauhid merupakan bagian paling penting dari keseluruhan substansi aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jamaah. Bagian ini harus dipahami secara utuh agar maknanya yang sekaligus mengandung klasifikasi jenis-jenisnya dapat terealisasi dalam kehidupan. Dalam kaitan ini tercakup dua hal: pertama, memahami ajaran tauhid secara teoritis berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an, Sunnah dan akal sehat. Kedua, mengaplikasikan ajaran tauhid tersebut dalam kenyataan sehingga ia menjadi fenomena yang tampak dalam kehidupan manusia. Secara teoritis, tauhid dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ Wa ash-Shifat.[8]
2.      Pelajaran Agama Islam, dikarang oleh Hamka. Pengarang buku itu mengungkapkan secara luas dan mendalam tentang dasar-dasar atau pokok-pokok kepercayaan dalam Islam yang sangat  fundamntal yaitu Aqidah Islamiyah. Pembahasannya mempergunakan cara dan metode baru serta bersifat filosofis. Isinya diolah dalam gaya bahasa khas Hamka yang populer dan menarik. Di dalamnya digabungkan antara dalil-dalil aqli dan dalil-dalil naqli, atau antara fikiran dan wahyu. Soal-soal pokok yang dibahas antara lain tentang: Manusia Dan Agama – Dari Sudut Mana Mencari Tuhan – Tentang Allah – Percaya Kepada Yang Gaib – Percaya kepada kitab-kitab  - Percaya Kepada Rasul-rasul – Percaya Kepada Hari Kiamat -  Percaya Kepada Taqdir, Qadla dan Qadar – Iman dan Amal Shaleh.[9]
3.      Risalah Tauhid, disusun oleh Syekh Muhammad Abduh. Penyusun buku itu mengungkapkan bahwa manusia hidup menurut akidahnya. Bila akidahnya benar, maka akan benar pulalah perjalanan hidupnya. Dan akidah itu bisa betul, apabila orang mempelajarinya dengan cara yang betul pula. Pendirian inilah yang mendorong Abduh u menegakkan tauhid dan berjuang untuk itu dalam hidupnya. Ia mengajar dan menulis tentang tauhid untuk umum dan untuk mahasiswa. Salah satu di antara karangannya ialah kitab Risalah Tauhid, buku ini berasal dari diktat-diktat kuliah beliau pada universitas al-Azhar yang kemudian untuk keperluan pengajaran ilmu tauhid, sengaja dibukukan oleh pengarang.[10]
4.      Tauhid Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan disusun oleh Harun Nasution. Menurutnya salah satu tujuan dari penyusunan buku ini ialah meperkenalkan aliran-aliran Tauhid yang berlainan itu kepada umat Islam Indonesia. Mungkin di antara pembaca-pembaca, terutama yang berpendidikan Barat, ada yang merasa ragu-ragu tentang keyakinan keagamaannya, dan mungkin perkenalan dengan aliran-aliran Tauhid yang berlainan itu, dapat membantu pembaca demikian dalam mengatasi persoalan yang dihadapinya.[11]      

E.     Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data.[12] Maka dalam hal ini penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1.     Sumber data
 a. Data primer, yaitu Al-Qusyairi, Risalah al-Qusairiyah
 b. Sumber sekunder, yaitu Muhammad Hasan, ar-Rasailah Al-Qusyairiyah, Abdul ‘Ala ‘Afifi, Mausuatu Turatsil Insaniyah, Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan, Pengantar Studi Akidah Islam; Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin; Hanafi, Tauhid Islam; Hamka, Filsafat Ketuhanan; Hasbi Ash-Shiddiqi, Al-Islam; Syekh Mahmud Syaltut, Islam, Akidah dan Syarah, Ibnu Katsir; Tafsir Ibnu Katsir, Syekh Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, dan  sejumlah kepustakaan lainnya yang relevan dengan judul di atas baik langsung maupun tidak langsung. Pengambilan kepustakaan didasarkan pada otoritas keunggulan pengarangnya dibidang masing-masing.
2.     Teknik pengumpulan data
Menurut Sumadi Suryabrata, kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya.[13]  Berpijak dari keterangan tersebut, penulis menggunakan teknik liberary research yaitu suatu riset kepustakaan.[14]
3.     Teknik pengolahan data
Mengolah data berarti menimbang, menyaring, mengatur dan mengklasifikasikan.[15] Maka dalam konteksnya dengan judul skripsi di atas, terhadap data-data yang bersifat dokumenter atau liberary research, penulis gunakan analisis data kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur /dinilai dengan angka secara langsung.[16]
4.     Teknik analisis data. Analisis data adalah proses menyusun data agar data tersebut dapat ditafsirkan.[17] Sebagai pendekatannya, penulis menggunakan metode deskriptif, di maksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, atau gejala-gejala lainnya.[18] Dengan demikian penulis akan menggambarkan, atau memaparkan konsep Tauhid Al-Qusyairi, kelebihan dan kekurangannya serta implikasinya dengan krisis akidah saat ini. Dengan demikian digunakan pula metode komparasi, yaitu membandingkan pendapat Al-qusyairi dengan ulama lain. Dari perbandingan tersebut diharapkan dapat ditemukan perbedaan dan persamaan yang pada akhirnya akan diketahui kelemahan dan kelebihannya. Dari hasil deskripsi dan komparasi, diharapkan dapat menjawab rumusan masalah di atas dengan  jelas.
F.     Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dart lima bab yang masing­masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan yang berhubungan sehingga  tak dapat dipisahkan.
Bab pertama berisi pendahuluan yang meliputi: latar belakang; pokok permasalahan; tujuan dan manfaat penulisan; tinjauan pustaka; metode penulisan; sistematika penulisan. Dalam bab pertama ini tampak penggambaran isi skripsi secara keseluruhan namun dalam satu kesatuan yang ringkas dan padat guna menjadi pedoman untuk bab kedua, ketiga, keempat dan kelima.
Bab kedua berisi tinjauan umum tentang Teologi meliputi pengertian teologi, sebab-sebab lahirnya teologi, sumber Teologi Islam, dan Madzhab-Madzhab Teologi
Bab ketiga berisi pandangan teologi kaum Sufi menurut al-Qusyairi meliputi biografi al-Qusyairi, latar belakang pemikirannya, pendidikan dan lingkungan pemikirannya, karya-karyanya). Pandangan al-Qusyairi tentang Teologi kaum Sufi yang meliputi: pemikiran Teologi kaum Sufi; dan pandangan al-Qusyairi.
Bab keempat berisi:  analisis terhadap pandangan al-Qusyairi tentang Teologi kaum Sufi yang meliputi: Ma’rifatullah; Sifat-Sifat Tuhan; Iman; Kufur, Ars; dan Allah Yang Hak 
Bab kelima berisi penutup meliputi kesimpulan, saran dan penutup.



[1] Umar Abdurrahman, Epistimologi Kesehatan Mental dan Relevansinya dalam Kehidupan Moderen, Laporan Penelitian Individu Pusliot IAIN Walisongo, Semarang, 1999, hlm. 17.

[2]  Sayyid Sabiq, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Terj. Muhammad. Abdai Rathomy, CV. Diponegoro, Bandung, 2001, hlm. 9.

[3] Ibrahim ibn Muhammad ibn Abdullah al-Buraikan, Almadkhalu Lidiraasatil ‘Aqidatil Islamiyyah ‘ala Madzhabi Ahlisunnah wal-Jama’ah, Dar al-Kutub al-Ijtimaiyyah, Beirut Libanon, tth, hlm. 37.
[4] A. Hanafi, Pengantar Tauhid Islam, Pustaka al-Husna Baru, Jakarta, 2003, hlm 1.
[5] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia,  Djambatan Anggota IKAPI,  Jakarta, 1992, hlm. 796-798.
[6] Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, Abul, Risalah Qusyairiyah,  disadur umar faruq, pustaka amani Jakarta, 2002, hlm. 4.
[7] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993, hlm. 312.
[8] Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan, Pengantar Studi Aqidah Islam, Robbani Press. Jakarta, 1998, hlm. 141.
[9]  Hamka,  Pelajaran Agama Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1956, hlm 3.
[10] Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, Alih Bahasa Firdaus AN, Bulan Bintang, Jakarta 1992, hlm. xi
[11] Harun Nasution, Tauhid Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta UII Press, 1986. 10.
[12] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hlm. 194. Cf. Noeng Muhajir, Metodologi Penelititin Kualitatif, Telaah Positivistik Rasionalistik, Phenomenologik Realisme Metaphisik, Rake Sarasin, Yogyakarta,  1991 hlm. 15. Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985, hlm. 51.
[13] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hlm. 84.
[14] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, Andi, Yogyakarta, 2001, hlm. 9. Winarno Surakhmad, Paper, Skripsi, Tesis, Disertasi, Tarsito, Bandung, 1981, hlm. 17, Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Sosial, Alumni, Bandung, 1986, hlm. 28.
[15] Ibid, hlm. 76.
[16] Tatang M. Amirin, Menyususn Rencana Penelitian, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm. 134.
[17] Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, CV Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 102.
[18]Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial,  Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1993, hlm. 63.

Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2011. PERAHU JAGAD . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by PUBLIK KASIH . Published by Tikus Templates