Pemikiran Al-Ghozali tentang dzikr al-maut implikasinya terhadap kesehatan mental (studi analisis bimbingan konseling Islam)

A.    LATAR BELAKANG
Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah S.w.t dengan segala kelebihan dibanding makhluk lain baik secara fisik maupun psikis, jasmani maupun rohani. Dari segi lahiriah ia mempunyai postur tubuh yang tegak dan anggota badan yang berfungsi ganda sedangkan dari segi rohaniah ia mempunyai akal untuk berfikir sekaligus nafsu untuk merasa. Akal mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sedangkan untuk merasakan keindahan, keenakan, serta merasakan yang lain, keduanya tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling memberi pertimbangan.[1]
Setiap makhluk hidup, sesuai dengan mekanisme pembentukan dirinya atau apa yang dinamakan dengan nurani mempertahankan eksistensi diri dan menjaga kehidupannya akan selalu berusaha menghindari kematian, membencinya dan bahkan melarikan diri darinya.[2] Mengenai tipologi manusia semacam itu, Allah telah berfirman :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ... (سورة الجمعة : 8)

Artinya : Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (QS. Al Jumu’ah : 8)[3]
Al-Ghazali dalam bukunya Metode Menjemput Maut (2001), mengungkapkan bahwa manusia bisa dibagi menjadi tiga golongan yaitu: pertama, golongan yang sibuk dengan dunia. Kedua, golongan pemula dalam bertaubat. Dan golongan yang ketiga adalah golongan ‘arifin.[4]
Orang yang sibuk dengan dunia tidak akan mengingat mati, kalaupun dia mengingatnya itu dilakukan sambil meratapi dunianya dan mencaci maut itu. Bagi orang semacam itu, ingatan akan maut hanya akan semakin menjauhkan dia dari Tuhan. Sedangkan orang yang bertaubat seringkali mengingat maut sehingga rasa takut dan gentar mungkin sekali timbul dalam hatinya dan dengan demikian menyempurnakan taubatnya. Ciri khas orang yang bertaubat adalah persiapannya yang terus menerus untuk hal itu dan sikapnya mengurangi perhatian kepada hal-hal yang lain. Lain lagi dengan orang yang arif akan senantiasa mengingat maut, sebab baginya kematian adalah saat berbahagia bersama kekasihnya dan seorang pecinta yang tak akan pernah melupakan janji pertemuan dengan Dzat yang dicintainya. Biasanya orang yang seperti itu menganggap kedatangan maut merayap lambat dan dia merasa gembira dengan kedatangannya, karena dengan itu ia bisa meninggalkan dunia tempat orang-orang yang berbuat dosa untuk kemudian berada di hadirat Allah semesta alam.[5]
Di kalangan sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan, apalagi bagi mereka yang memandang bahwa hidup hanya sekali di dunia ini saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini sebagai siksaan, dan untuk menghindari siksaan itu mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan menghindari sedapat mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa kendali, berangan-angan panjang demi mewujudkan eksistensinya.[6]
Selama manusia belum menemukan alasan yang logis dan rasional mengenai bayangan kematian, maka bayangan tersebut akan berubah menjadi penyakit yang mengakar kuat di dasar perasaannya. Penyakit ini merupakan penyakit kejiwaan yang sangat krisis dan sulit, yang acapkali menguasai emosi dan perilakunya. Sumber pertama bagi kebanyakan gejala psikologi syaraf dan otak serta keguncangan kepribadian. Pada gilirannya adalah penyakit kecemasan dan ketakutan.[7] Zakiah Daradjat (1983) berpendapat gangguan kejiwaan terbagi menjadi dua macam, yaitu neurose (gangguan kejiwaan) dan psychose (sakit jiwa). Neurose dikategorikan suatu bentuk gangguan mental yang ringan sedang psychose merupakan gangguan mental yang berat. Para penderita neurose hanya perasaannya saja yang terganggu. Oleh karena itu para penderita masih dapat merasakan apa yang dihadapinya sehingga kepribadiannya tidak memperlihatkan kelalaian yang berarti dan masih dalam alam sadar. Sedang para penderita psychose tidak perasaannya saja yang terganggu tetapi juga pikiran dan kepribadiannya, kepribadiannya tampak tidak terpadu karena integritas kehidupannya yang tidak dalam alam kenyataan yang sesungguhnya.[8]
Salah satu upaya dalam mengatasi penyakit kejiwaan yang ditimbulkan dari perasaan takut dan cemas akan kematian. Sehingga mengakibatkan angan-angan yang panjang adalah dengan jalan meningat kematian (dzikr al-maut). Kematian adalah perubahan keadaan jiwa dan kehidupan dunia kepada kehidupan akhirat, yang mungkin bahagia dan mungkin sengsara, dan bukan berarti kepunahan kehidupan jiwa.[9] Karena itulah manusia dianjurkan untuk mengingat mati, dengan mengingat kematian bukan berarti menakut-nakuti diri yang menyebabkan kesengsaraan bathin. Namun justru sebaliknya mengingat mati akan menghilangkan rasa takut dan ngeri, memperbaiki jiwa dan ketabahan hati, mengendalikan hawa nafsu, kecerdasan beramal shaleh dan bebas dari angan-angan panjang. Orang yang mengingat mati memiliki kecenderungan akhlak dan budi pekerti yang baik, sopan, berusaha menjaga diri dari perbuatan tercela, tidak serakah dan terhindar dari sifat congkak dan takabbur.[10] Hal ini merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam mewujudkan mental yang sehat, sehingga muncul perasaan tenang, tentram dan bahagia dalam hidup seseorang (manusia).
Untuk sampai kepada mental yang sehat seperti yang sudah dirumuskan di atas, Islam menawarkan bimbingan dan konseling yang didasarkan pada agama. Sala satu fungsi bimbingan dan konseling yang ditawarkan Islam membantu manusia agar ia menggunakan potensi ikhtiarnya untuk memiliki dan menciptakan lingkungan yang positif sebagai salah satu upaya yang preventif, kuratif, dan developmental dari hal-hal yang mengotori jiwa manusia dalam membanguan kehidupannya yang berbahagia di dunia dan di akhirat secara Islami.[11]
Bimbingan dan konseling Islam tidaklah hanya mengarahkan kepada hal-hal yang religius saja, namun bimbingan dan konseling Islam juga bertujuan mewujudkan manusia yang sesuai dengan unsur dirinya sebagai makhluk individu, sosial dan makhluk yang berbudaya.[12] Dengan demikian bimbingan dan konseling Islam adalah bertujuan membantu menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrowi.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Al-Qur’an dan Sunnah Rosul digunakan sebagai landasan konseptual bimbingan dan konseling Islam. Sedangkan landasan operasionalnya membutuhkan bantuan ilmu-ilmu yang dikembangkan di luar Islam, yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Ilmu-ilmu yang membantu dan dijadikan landasan operasional bimbingan dan konseling Islam antara lain adalah ilmu jiwa (psychology), ilmu hukum Islam (syari’ah), sosiologi, antropologi, filsafat, pendidikan dan ekonomi.
Dari pemaparan di atas, dalam penelitian ini akan mengkaji pemikiran Al-Ghazali tentang Dzikr al-Maut Implikasinya terhadap Kesehatan Mental (Studi Analisis Bimbingan dan Konseling Islam). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai dampak dari dzikr al-maut terhadap kesehatan mental dan juga aplikasi pemikiran Al-Ghazali tersebut dalam proses bimbingan dan konseling Islami.
B.     PENEGASAN ISTILAH
Formulasi judul “Pemikiran Al-Ghozali tentang dzikr al-maut implikasinya terhadap kesehatan mental (studi analisis bimbingan konseling Islam)” masih merupakan konsep abstrak yang perlu dijabarkan dalam definisi operasional sehingga dapat dihindari bisa pengertian dan perbedaan interpretasi yang dapat merusak konsistensi topik.
1.      Pemikiran secara etimologi berasal dari kata pikir yang berarti cara atau hasil berfikir. Berfikir berarti menggunakan akal budi (untuk mempertimbangkan, memutuskan sesuatu) menimbang-nimbang dalam ingatan.13
2.      Dzikr al-Maut berarti: Mengosongkan hati selain dari memikirkan mati dan memikirkannya sebagaimana ia memikirkan perjalanan hidupnya. Sehingga yang berkuasa dalam hatinya adalah tafakkur terhadap kematian dan bersiap-siap menghadapinya.14
3.      Kesehatan Mental berarti: terhindarnya seseorang dari gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagiaan bersama serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup.15
4.      Bimbingan Islam berarti: bantuan yang diberikan kepada seseorang untuk dapat hidup sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah, agar seseorang tersebut dapat mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat16
5.      Konseling Islam berarti: suatu aktifitas memberikan bimbingan, pelajaran dan pedoman kepada individu yang meminta bimbingan (klien) dalam hal bagaimana seharusnya seorang klien dapat mengembangkan potensi akal fikirannya, kejiwaannya, keimanan, dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah S.a.w.17

C.    RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka penelitian ini memfokuskan diri untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan     berikut :
1.      Bagaimana pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut dan implikasinya terhadap kesehatan Mental ?
2.      Bagaimana aplikasi dari pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut tersebut dalam proses bimbingan dan konseling Islami ?

D.    TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pemikiran al-Ghozali tentang dzikr al-maut
2.      Untuk mengetahui pemikiran al-Ghozali tentang dzikr al-maut dan implikasinya terhadap kesehatan mental.
3.      Untuk mengetahui penerapan dzikr al-maut menurut Al-Ghazali dalam proses bimbingan dan konseling Islami sebagai upaya menuju pada kesehatan mental.

E.     MANFAAT PENELITIAN

1.      Manfaat Teoritis
a.       Mengembangkan konsep Bimbingan dan Konseling Islam secara umum.
b.      Mengembangkan Paradigma Islam dalam ruang lingkup pelayanan Bimbingan dan Konseling Islam yang dilakukan di kalangan masyarakat religius khususnya Islam. Serta menambah khasanah keilmuan Bimbingan dan Konseling Islam.
2.      Manfaat Praktis
a.       Memberikan masukan kepada konselor khususnya dalam menangani masalah keIslaman.
b.      Memberikan alternatif yang digunakan dalam proses bantuan konseling yang dapat dipakai oleh para konselor.
c.       Sebagai bahan individu atau sosial yang terkait di dalamnya dalam rangka pengembangan dakwah Islam

F.     METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif atau kajian literatur murni atau disebut juga penelitian pustaka (Library Research). Maka dalam penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut :
1.      Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sumber skunder.18
a.       Sumber Primer
Sumber primer merupakan sumber pokok yang diperoleh langsung dari sumbernya, dalam hal ini adalah pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut yang menjadi obyek pembahasan tersebut dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz IV maupun terjemahnya pada jilid VIII.
b.      Sumber Sekunder
Sumber sekunder merupakan penunjang yang dijadikan alat bantu dalam menganalisis terhadap permasalahan yang muncul, sumber ini yaitu berupa buku-buku bacaan, leteratur-literatur al-Qur’an maupun Hadits yang mendukung pembahasan ini.
Pembahasan tentang Dzikr al-Maut, buku-buku yang penulis gunakan diantaranya adalah; Al-Ghazali, Metode Menjemput Maut yang diterjemahkan oleh Ahsin Muhammad. Al-Ghazali, Sakaratul Maut dan kekerasannya, yang diterjemahkan Ahmad Sunarto. Imam Al-Ghozali, teosofia Al-Qur’an yang diterjemahkan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Jamad. Kemudian Quraish Shihab dalam bukunya Menjemput Maut; Bekal Perjalanan menuju Allah S.W.T serta bukunya Dr.Adnan Syarif, Psikologi Qur’ani.
Buku-buku yang penulis gunakan dalam pembahasan tentang Kesehatan Mental diantaranya meliputi; Kartini Kartono dalam bukunya Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam. Kemudian Kesehatan Mental Peranannya Dalam Pendidikan dan Pengajaran Yang disusun oleh Zakiah Darajat. Serta Hasan Langgulung, dengan Teori-Teori Kesehatan Mentalnya dan juga Penyucian Jiwa (Tazkiat Al- Nafs) dan Kesehatan Mental Karangan  Drs.A.F. Jaelani.
Mengenai  pembahasan tentang Bimbingan dan Konseling Islam buku yang penulis gunakan adalah karangan Priyatno, Erman Anti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Kemudian Thohari Musnamar, Dasar-Dasar Konseptual  Bimbingan dan Konseling Islami dan juga karangan M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Psikoterapi dan Konseling Islam. Harapan penulis buku-buku yang disebut diatas dapat menjadi penunjang dalam penelitian skripsi ini.
2.      Metode Analisis Data
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, artinya data yang tersaji hanya berupa pernyataan, bukan angka baik dalam bentuk tabel maupun grafik. Oleh karena itu dalam menganalisis data, penulis akan menggunakan metode:
a.       Deskriptif
Metode ini penulis gunakan untuk memaparkan pemikiran seorang tokoh secara sistematis, tokoh yang dimaksud disini adalah  Al-Ghazali dengan pemikiran Dzikr al-Mautnya, kemudian akan mengetahui implikasinya terhadap kesehatan mental yang ditinjau dari bimbingan dan konseling Islam.
b.      Content Analysis
Dalam upaya penelitian, Temuan yang hanya deskriptif rendah nilainya, maka untuk mempunyai sumbangan teoritik diperlukannya analisis isi (Content Analysis). Menurut Barcus, Content Analysis merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi.19 Oleh karena itu, maka penulis akan berusaha menganalisis isi dari pokok pikiran Al-Ghazali tentang Dzikr al-Maut yang dilihat dari sudut pandang bimbingan dan konseling Islam.

G.    TELAAH PUSTAKA

Ditinjau dari judul skripsi yang penulis teliti, maka di bawah ini terdapat beberapa kajian yang telah diteliti oleh peneliti lain yang relevan dengan judul yang penulis teliti.
Studi Analisis Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar oleh Fitri Kumalasari yang diteliti pada tahun 2000. Didalamnya ia menyatakan pemikiran Al-Ghazali tentang amar ma’ruf nahi munkar yang meliputi; wajibnya amar ma’ruf nahi munkar beserta keutamaannya, rukun-rukun dan syarat-syaratnya, kemungkaran yang berlaku pada adat kebiasaan, menyuruh pada amir dan sultan berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran.
Sedangkan kajian berikutnya tentang Pemikiran Al-Ghazali tentang Riyâdhah Al-Nafs (Studi Analisis Bimbingan dan Konseling Islami) yang ditulis oleh Hatta Abdul Malik pada tahun 2002. Penelitian ini menjelaskan pemikiran Al-Ghazali tentang riyâdhah al-nafs yaitu jalan menuju akhlak yang baik, Dimana al-Ghazali menyebutkan bahwa al-nafs itu mempunyai tiga tingkatan yaitu Pertama, al-Nafs ammarah, yaitu nafsu yang mendorong kepada kejahatan. Kedua, al-nafs lawwamah, yaitu nafsu yang tidak stabil dan suatu ketika cenderung kepada kejahatan, pada saat yang sama cenderung kepada ketaatan. Dan Ketiga, Al-nafs muthmainah, nafsu yang memiliki ketenangan dan ketentraman dalam mengemban amanat Allah dan tidak mengalami keguncangan disebabkan tantangan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu, dan inilah yang merupakan sebuah kondisi mental yang sehat. Kemudian untuk mencapai al-nafs muthmainah, al-Ghazali menawarkan konsep riyadhah al-nafs, yaitu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan apa saja yang menjadi kecenderungan nafsu yang dilakukan secara bertahap. Dengan tujuan pemikiran Al-Ghazali tentang riyâdhah al-nafs ini dapat menjadi salah satu landasan operasional bimbingan dan konseling Islam.
Berikutnya adalah Pemikiran Al-Ghazali Tentang Syukur Dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental. Kajian yang ditulis oleh Jumiyati pada tahun 2003 mengungkapkan pemikiran Al-Ghazali tentang syukur yaitu  menyadari bahwa kenikmatan yang diterimanya itu semata-mata dating dari Allah dan menyatakan kegembiraan karena memperoleh kenikmatan tadi serta menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan sang pemberi nikmat dan yang dicintai oleh sang pemberi nikmat itu untuk dilaksanakan karena dengan bersyukur dapat meningkatkan keimanan, menjadikan hati tentram, berbuat baik tanpa riya dan bertaqwa, qona’ah, mengetahui potensi yang ada dalam dirinya maupun yang ada dalam lingkungan dan mudah berintegrasi kepada diri sendiri dan lingkungan.Dengan tujuan pemikiran Al-Ghazali tentang syukur ini dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai mental yang sehat.
Berbeda dengan pembahasan penelitian di atas, penulis mencoba meneliti pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut dan implikasinya terhadap kesehatan mental dalam perspektif ilmu bimbingan dan konseling Islam. Penelitian ini menjelaskan pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut yaitu jalan menuju mental yang sehat, dengan tujuan pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut ini dapat menjadi salah satu landasan operasional bimbingan dan konseling Islam.

H.    SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI      

Untuk memudahkan dalam memahami gambaran secara menyeluruh tentang skripsi ini, maka penulis memberikan sistematika beserta penjelasan secara garis besar.
Bahasan dalam skripsi ini terdiri dari lima bab, yang satu sama lainnya berkaitan erat. Adapun penulisan skripsi ini disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut :
Bab I   :




Bab II  :











Bab III            :




Bab IV            :



Bab V  :
Pendahuluan yang berisi gambaran umum menurut pola dasar kajian masalah ini. Dalam bab ini dijelaskan latar belakang masalah, kemudian adanya sebuah penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, telaah pustaka dan sistematika penulisan skripsi.
Landasan Teori. Dalam bab ini diuraikan dasar-dasar teoritis tentang kesehatan mental serta bimbingan dan konseling Islam, adapun mengenahi pembahasannya dibagi menjadi dua sub bab yaitu: Pertama, Kesehatan Mental yang meliputi, Pengertian Kesehatan Mental dan kriterianya, Gangguan Kejiwaan, Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesehatan Mental, Prinsip-prinsip Pembinaan Kesehatan Mental, dan Langkah-langkah Kesehatan Mental. Kedua, Bimbingan dan Konseling yang meliputi, Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling Islami, Fungsi dan Tujuan Bimbingan dan Konseling Islami, dan Tujuan Bimbingan dan Konseling Islam, Metode Bimbingan dan Konseling Islam.
Penyajian data dan hasil penelitian kepustakaan. Dalam hal ini penulis membahas tentang tokoh Al-Ghazali dan pemikirannya tentang dzikr al-maut yang meliputi, Riwayat Hidup (biografi) Al-Ghazali dan Karya-karyanya, dan Pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut.
Analisis. Pada bab ini, penulis mencoba menganalisis pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-maut Implikasinya terhadap kesehatan mental dan penerapan pemikiran Al-Ghazali tentang dzikr al-Maut dalam proses Bimbingan dan Konseling Islam.
Penutup. Dalam bab ini, penulis berusaha menyimpulkan hasil penelitian dan pembahasan yang terdapat dalam bab sebelumnya. Disamping itu penulis juga memberikan saran-saran demi tercapainya sebuah tujuan.




DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Metode Menjemput Maut, Pen: Ahsin Muhammad, Bandung, Mizan, 2001.
_________, Mutiara Ihya ‘Ulumuddin, Pen : Irwan Kurniawan, Bandung, Mizan, 1990.
Adz-Dzaky, M. Hamdani Bakran, Psikoterapi dan Konseling Islam, Yogyakarta, Fajar Pustaka  Baru, 2001
Daradjat, Zakiyah, Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung, 1993.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, 1994.
Harahap, Anwar, Menuju Hari Abadi, Jakarta, Pustaka Widyasarana, 1993.
Irawan, Prasetya, Logika dan Prosedur Penelitian, Jakarta, STIA – LAN Press, 1999.
Jaya, Yahya, Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian Dan Kesehatan Mental, Jakarta, CV. Ruhama, 1994.
Kartono, Kartini, Hygene Mental, Cet IV, Bandung, Mandar Maju, 1989
Musnamar, Thohari, dkk, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islam, Yogyakarta, UII Press,1992.
Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III, Yogyakarta, Rake Sarasin, 1996
Poerwadarwinta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PT. Balai Pustaka, 1985.
Syukur, Amin, Pengantar Studi Islam, Semarang, CV. Bima Sejati, 2000.
Syarif, Adnan, Psikologi Qur’ani, Bandung, Pustaka Hidayah, 2000.
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1998.
Subrata, Sunadi, Metodologi Peneliitan, Jakarta,  Raja Grafindo Persada, 1998.


[1] Amin Syukur, Pengantar Studi Islam, Semarang, CV. Bima Sejati, 2000, hlm. 1.
[2] Adnan Syarif, Psikologi Qur’ani, Bandung, Pustaka Hidayah, 2000, hlm. 104.
[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, 1994, hlm. 933.
[4] Al-Ghazali, Metode Menjemput Maut, Terj. Akhsin Muhamad, Bandung, Mizan, 2001, hlm. 25
[5] Ibid
[6] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1998, hlm. 70
[7] Adnan Syarif, Op. Cit, hlm. 104
[8] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung, 1983,  hlm. 33.
[9] Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian Dan Kesehatan Mental, Jakarta, CV. Ruhama, 1994, hlm. 135
[10] Anwar Harahap, Menuju Hari Abadi, Jakarta, Pustaka Widyasarana, 1993, hlm. 106.
[11] Thohari Musnamar, dkk, Dasar-Dasar Konsep Bimbingan dan Konseling Islami, Yogyakarta, UII Press, 1992, hal. 4
[12] Ibid, hal. 33
13 W.J.S. Poerwadarninta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, P.N. Balai Pustaka, 1985, hlm, 753.
14 Al-Ghazali, Mutiara Ihya ‘Ulumuddin, Pen: Irwan Kurniawan, Bandung, Mizan, 1990, hlm. 403.
15 Zakiyah Daradjat, Kesehatan Mental, Op. Cit, hlm. 14.
16 Musnamar, Op.Cit, hlm. 5
17 M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Psikoterapi dan Konseling Islam, Yogyakarta, Fajar Pustaka  Baru, 2001, hlm. 137
18 Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian, Jakarta, STIA – LAN Press, 1999, Hlm., 86-87.
19 Noeng Muhadjir, Metodelogi Penelitian Kualitatif,  Yogyakarta, Rake Sarasin, 1996,    hlm. 49.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Atas Kunjungannya. Jangan Lupa Komentarnya ya.

Kebijakan Admin

Kebijakan Admin
Powered by Blogger.