Tuesday, 26 June 2012

PENANGANAN KENAKALAN REMAJA MENURUT ZAKIAH DARADJAT (Analisis Bimbingan dan Konseling Islam)

A.     Latar Belakang
Masa remaja adalah masa perjuangan karena tampak bagi remaja, bahwa ia harus menyesuaikan diri dengan tiga macam perubahan yang benar-benar berbahaya. Perubahan-perubahan yang terjadi sekaligus yaitu pertam, remaja telah mencapai kematangan jasmani dan seksual. Kedua, kesukaran emosi yaitu ia ingin menjadi dewasa dalam mendapatkan fasilitas kedewasaan tentang kebebasan dan kemerdekaan. Ketiga, cara perasaan orang dan orang dewasa menghadapinya.
Masa remaja (Adolensi) adalah masa peralihan masa anak-anak dan masa dewasa, anak-anak mengalaami pertumbuhan cepat disegala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak, baik bentuk jasmani, sikap, cara berfikir dan bertindak. Tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Masa ini mulai kira-kira pada umur 13 tahun dan berakhiran kira-kira umur 21 tahun.[1]

Persoalan remaja selamanya hangat dan menarik, baik di negara yang telah maju maupun di negara terbelakang, terutama negara yang sedang berkembang. Karena remaja adalah masa peralihan, seseorang telah meninggalkan usia anak-anak yang penuh kelemahan dan ketergantungan tanpa memikul sesuatu tanggung jawab, menuju kepada usia dewasa yang sibuk dengan tanggung jawab penuh. Usia remaja adalah usia persiapan untuk menjadi dewasa yang matang dan sehat. Kegoncangan emosi, kebimbingan dalam mencari pegangan hidup dan kesibukan mencari pegangan hidup dan kesibukan mencari bekal pengetahuan dan kepandaian untuk menjadi sejata dalam usia dewasa.
Remaja pada hakekatnya sedang sibuk bejuang dari dalam itu, jika dihadapkan pada keadaan luar atau lingkungan yang kurang serasi penuh konteradiksi dan ketidak stabilan, maka akan mudahlah mereka jatuh kepada kesengsaraan batin, hidup penuh kecemasan, ketidak pastian dan kebimbangan. Hal seperti ini telah menyebabkan remaja-remaja Indonesia jatuh pada ke;lainan-kelainan kelakuan yang membawa bahaya terhadap dirinya sendiri baik sekarang, maupun dikemudian hari.[2]
Banyak di antara mereka yang tidak sanggup mengikuti pelajaran, hilang kemampuan untuk konsentrasi, malas belajar patah semanagat dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang telah jatuh kepada kelakuan yang lebih berbahaya lagi.[3] Munculah julikan kenakalan remaja yang dalam terminologi asingnya disebut juvenile delinquency.
Term juvenile delinquency dikemukakan oleh sarjana dalam rumusan yang bervariasi namun, subtansinya sama. Kartini Kartono misalnya menyatakan juvenile delinquency (juvenilis=muda, bersifat kemudian delinquency dari delincuare=jahat, durjana, pelanggar, nakal) ialah anak-anak muda yang selalu melakukan kejahatan, dimotifir untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungannya.[4]
Peter Salim mengartikan juvenile delinquency adalah kenakalan anak remaja yang melanggar hukum, berprilaku anti sosial, melawan orang tua, berbuat jahat, sehingga sampai diambil tindakan hukum. Sedang juvenile delinquenct adalah anak remaja yang ditandai dengan juvenile delinquency.[5]
John M. Echoles dan Hassan Shadily menterjemahkan juvenile delinquency sebagai kejahatan atau kenakalan anak-anak atau anak muda atau muda-mudi.[6]
Dalam ensiklopedi umum dijelaskan juvenile delinquency adalah pelanggaran hukum atau moral yang dijalankan individu di bawah umur, biasanya pelanggaran ringan ( pencurian, penipuan, perusakan dan sebagainya), akan tetapi ada pula termasuk berat (perkosaan, pembunuhan dan sebagainya).[7]
Simanjuntak dengan pendekatan kriminologi, mengartikan juvenile delinquency sebagai perbuatan dari tingkah laku yang merupakan kegiatan perkosaan terhadap norma hukum pidana dan pelanggaran terhadap kesusilaan yang dilkukan oleh para juvenile delinquency.[8]
Dengan mengkaji rumusan-rumusan di atas, maka pada intinya secara sederhana Juvenile delinquency dapat diterjemahkan kenakalan remaja.
Menurut Kartini Kartono, Juvenile delinquency merupakan gejala sakit atau patologi secara sosial sehingga ia berprilaku menyimpang, kemudian disebut cacat secara sosial. Hal ini tidak lepas dari kurangnya tanggung jawab sosial pada anak remaja, kerapuhan pendidikan serta pendidikan masyarakat yang buruk.[9]
Sesungguhnya tidak sedikit faktor-faktor yang mendorong remaja sampai pada kenakalan. Faktor pendidikan, hubungan keluarga, ekonomi, masyarakat, sosial politik dan sebagainya. Memang terlalu banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kepribadian anak remaja. Selain itu juga banyaknya contoh-contoh dari kelakuan yang tidak baik yang mereka dapatkan dari orang dewasa, fiksi-fiksi, cerita-cerita pendek, komik-komik yang bersifat cabul, tidak mengindahkan mutu, tetapi hanya memandang aspek komersilnya saja. Di antara faktor-faktor yang menonjol menurut Zakiah Daradjat antara lain: a) kurangnya pendidikan agama; b) kurangnya pengertian orangtua tentang pendidikan; c) kurang teraturnya pengisian waktu; d) tidak stabilnya keadaan sosial, politik, ekonomi; e) kemerosotan moral dan mental orang dewasa; f) banyaknya film dan buku-buku bacaan yang tidak baik; g) perhatian masyarakat dan pendidikan anak.[10]  
Selanjutnya Zakiah Daradjat memberi solusi yaitu: 1) menanamkan pendidikan agama ; 2) orangtua harus mengerti dasar-dasar  pendidikan; 3) pengisian waktu terulang dengan teratur; 4) membentuk markas-markas bimbingan dan penyuluhan; 5) pengertian dan pengamalan ajaran agama; 6) penyaringan buku-buku cerita komik, film dan sebagainya.[11]
Dalam konteksnya dengan kenakalan remaja, kriminologi W.A. Bonger mengemukakan kejahatan anak-anak dan pemuda-pemuda sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan, lagi pula kebanyakan penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah sejak kecil. Siapa menyelidiki sebab-sebab kejahatan anak-anak dapat mencari tindakan-tindakan pencegahan kejahatan anak yang kemudian akan berpengaruh baik pula terhadap kejahatan orang dewasa.[12]
Dengan diilhami W.A. Bonger inilah yang menjadi latar belakang penulisan skripsi.
Adapun kajian memilih tokoh Zakiah Daradjat adalah karena beliu salah seorang guru besar ilmu pendidikan mempunyai sejumlah pemikiran dan ide menyangkut masalah remaja di Indonesia. Karena itulah penulis skripsi ini memilih judul “PENANGANAN KENAKALAN REMAJA MENURUT ZAKIAH DARADJAT (Analisis Bimbingan dan Konseling Islam) 

B.      Alasan Pemilihan Judul
Alasan yang penulis anggap penting kepada judul “Penanganan Kenakalan Remaja  Menurut Zakiah Daradjat (Analisis Bimbingan dan konseling Islam)” layak diajukan dan dikaji sebagai syarat akhir kesarjanaan adalah adanya asumsi bahwa merebaknya phenomena kenakalan remaja yang terjadi belakangan ini, sebagai salah satu pemicunya adalah minimnya pemahaman orangtua terhadap konsep bimbingan dan konseling. Selain itu perlu dikaji ulang konsep bimbingan dan konseling yang berkembang selama ini, tokoh yang akan penulis telaah pemikirannya adalah Zakiah Daradjat, karena guru besar yang hanya memperhatikan problematika remaja sehingga sebagian besar karyanya mengetengahkan opsesinya untuk pembinaan remaja di Indonesia.
Hal ini dapat dilihat salah satu pemikirannya sebagai berikut: sekarang ini anak manusia sedang menghadapi persoalan yang cukup mencemaskan, kalau mereka tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh masalah akhlak atau moral dalam masyarakat, ketentraman batin telah banyak terganggu, kecemasan dan kegelisahan orang telah banyak terasa, apalagi mereka yang mempunyai anak remaja yang mulai menampakkan gejala kenakalan dan kekurang acuhan terhadap nilai moral yang dianut dan dipakai orangtua mereka.
Di samping itu Zakiah melihat kegelisahan dan kegoncangan banyak keluarga karena antara lain kehilangan keharmonisan dan kasih sayang. Banyak remaja yang enggan tinggal di rumah senang berkeliaran di jalanan, tidak mempunyai selamat belajar bahkan tidak sedikit yang telah sesat.
Untuk mengatasinya Zakiah mengajukan jalan keluar antara lain: melibatkan semua pihak (ulama, guru, orangtua, pemerintah, keamanan dan tokoh masyarakat); mengadakan penyaringan terhadap kebudayaan asing; meningkatkan pembinaan mental; meningkatkan pendidikan agama di sekolah, keluarga dan di masyarakat; menciptakan rasa aman dalam masyarakat; meningkatkan pembinaan sistem pendidikan nasional; dan memperbanyak badan bimbingan dan penyuluhan agama.
C. Penegasan Judul
Sebelum sampai kebahasan pokok masalah penelitian ini, perlu penulis jelaskan dahulu beberapa term pokok guna menghindari kesalahan dalam memahami judul serta mendapatkan gambaran yang akan dibahas.
Juvenile delinquency adalah kenakalan anak remaja yang melanggar hukum, berperilaku anti sosial, melawan orangtua, berbuat jahat sehingga sampai diambil tindakan hukum.[13]
Hj. Zakiah Daradjat lahir di kota Marapak tanggal 6 November 1929. Guru Besar psikoterapi (perawatan jiwa), ahli kedokteran jiwa, ahli kedoteran Islam dan intelektual muslim yang banyak memperhatikan problematika remaja-remaja muslim Indonesia. Sebagai Guru Besar ilmu pendidikan Hj. Zakiah Daradjat tergolong produktif dalam menulis buku di antaranya: Membina Nilai-Nilai Moral Di Indonesia; Pembinaan Remaja; Problema Remaja Di Indonesia; Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak; Islam Dan Kesehatan Mental; Kesehatan (Untuk SD, 4 Jilid); Agama Islam (Untuk SD, 6 Jilid); Shalat Menjadikan Hidup Bermakna; Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental; Zakat Pembersih Harta Dan Jiwa; Haji Ibadah Yang Unik; Kebahagian, Remaja Harapan Dan Tantangan; Doa Meningkatkan Semangat Hidup; Dan Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dan Sekolah.
Istilah bimbingan dan konseling digunakan sebagai terjemahan dari istilah bahasa inggris “Guidance dan Conseling”
Bimbingan adalah pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada seseorang atau sekelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan. Secara bijaksana dan dalam menggunakan penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan hidup. Bantuan itu bersifat psikologi dan











tidak berupa pertolongan finansial, medis dan sebagainya. Dengan adanya bantuan ini, seseorang akhirnya dapat mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya kelak kemudian, ini menjadi tujuan bimbingan. Jadi memberikan bantuan menganggap orang lain mampu meniru dirinya sendiri, meskipun kemampuan itu mungkin harus digali dan dikembangkan melalui bimbingan.[14]
Sedang konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.[15]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konseling diartikan : 1) pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya, pengarahan; 2) proses pemberian bantuan oleh konselor kepada konseling sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah; penyuluhan.
D. Pokok Permasalahan
Yang menjadi pokok permasalahan penulisan skripsi ini :
1.       Bagaimana konsep Hj. Zakiah Daradjat terhadap problematika  kenakalan remaja?
2.       Langkah-langkah apa saja untuk menangani kenakalan remaja dalam hubungannya dengan bimbingan dan konseling Islam?


E.          Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1.       Untuk mengetahui konsep Hj. Zakiah Daradjat terhadap problematika kenakalan remaja.
2.       Untuk mengetahui langkah-langkah apa saja untuk menangani kenakalan remaja dalam hubungannya dengan bimbingan dan konseling Islam.
F.           Signifikansi Penelitian
Dalam skripsi ini penulis hendak mengungkapkan signifikansi penilitian ditinjau dari dua aspek :
1.       Secara teoritis, tulisan ini dapat menambah khasanah pustaka fakultas dakwah khususnya jurusan BPI, setidak-tidaknya sebagai pelengkap kajian kenakalan masalah remaja. Selain itu sebagai syarat akhir untuk memperoleh gelar sarjana strata 1 (S1) dalam bidang ilmu dakwah.
2.       Secara praktis, apa yang ada dalam tulisan ini dapat menjadi salah satu bahan rujukan penulis dalam memberikan bimbingan dan koseling Islam ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang membutuhkan.





G.     Telaah Pustaka
Sejauh penelitian penulis ada beberapa hasil penelitian yang mencoba mengungkapkan permasalahan di antaranya :
Pertama skripsi yang di sususn oleh Encep Idrus (1197011,tahun 2002) yang berjudul : “Konsep Pembinaan Remaja (study komparatif tentang pemikiran Hj. Zakiah Darajat dan sarlito wirawan sarwono)”.
Kesimpulan skripsi ini dapat di ungkap sebagai berikut :
a.   Pertumbuhan seorang remaja sangat di tentukan oleh bagaimana cara keluarga membina anak remaja itu. Seorang yang bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang penuh cinta kasih dan perhatian maka kecenderungan anak itu, mencintai dan mengasihi sesamanya. Sebaliknya remaja yang hidup dalam keluarga yang penuh dengan dendam, kebencian, kekerasan dan masa bodoh, maka remaja itu akan menjadi anak yang cenderung asosial, amoral dan merugikan orang lain.
b.  Baik zakiah darrajat maupun sarlito wirawan sarwono sepakat bahwa dalam membina remaja harus melakukan berbagai pendekatan terutama pendekatan agama menjadi syarat muthlak. Namun demikian agar agama tidak terkesan pemaksaan, maka pendekatan psikologi harus turut dilibatkan.
Kedua skripsi yang disusun oleh yusuf (1197106,tahun 2003)berjudul :”upaya dakwah Islam dalam menanggulangi tindak kekersan dan prilaku amoral di kalangan remaja ( Study Kasus Pada Remaja Di Kecamatan Ciami Kabupaten Bogor)”.
Temuan dari skripsi ini dapat di ungkap sebagai berikut :
a. Dakwah Islam dalam menaggulangi tindak kekerasan dan perilaku amoral di kalangan remaja tidak cukup dengan lisan saja melainkan contoh suritauladan sangat mempengaruhi remaja dalam berperilaku. Dewasa ini terjadi kepincangan antara ucapan dengan perbuatan, sehiongga remaja mengalami kesulitan dalam mencari tokoh anutan untuk berperilaku.
b. Untuk menanggulangi tindak kekerasan dan perilaku amoral, maka dakwah Islam harus lebih dikembangkan dengan arif dan bijaksana dalam arti dapat menyentuh hati sanubari remaja. Namun demikian karena remaja sosok manusia yang sangat sensitif, maka dakwah tidak bersifat menggurui. Itulah yang diharapkan masyarakat, khususnya remaja di Kecamatan Ciamis Kabupaten Bogor.
Ketiga skripsi yang disusun oleh Siti Maimunah (189048 tahun 1996) dengan judul “Metode Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam Terhadap Remaja di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak”.
Temuan dari skripsi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.   Dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan agama terhadap remaja, harus menggunakan metode yang bervariasi, karena boleh jadi metode yang satu kurang pas sementara metode yang lain bisa mengena kurang efektif.
b.   Bimbingan dan penyuluhan agama Islam terhadap remaja di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak dalam metodenya mulai disesuaikan dengan kebutuhan remaja yang terus berubah demikian cepatnya. Sehingga efektifitas bimbingan dan penyuluhan mulai terasa terbukti misalnya remaja mulai menggemari masjid, perpustakaan meskipun kecil dan angka kenakalan remajapun turun secara perlahan.
Dari ketiga skripsi fokusnya perhatiannya hanya pada satu lokasi judul skripsi yang pertama, fokusnya hanya membandingkan pendapat kedua tokoh. Judul skripsi yang kedua, fokusnya hanya menggambarkan peristiwa atau fenomena satu lokasi kecamatan yang belum merepresentasikan keseluruhan populasi (universe) sehingga belum bisa menggeneralisasikan keseluruhan remaja. Judul skripsi ketiga, hanya berpijak pada satu lokasi kecamatan, sehingga belum bisa dijadikan parameter dalam pengertian remaja keseluruhan. Disamping itu obyek remaja dalam arti umum, bukan unsur delinquencynya kalaupun dalam hanya selayang pandang.
H.     METOLOGI PENELITIAN       
Dalam metologi penelitian ini, penulis akan mengetengahkan : sumber data, teknik pengumpulan data, dan metode-metode analisa data penulisan skripsi dapat dipertanggungjawabkan sbagai karya ilmiah, dengan rincian sebagai berikut:
1.       Sumber-sumber Data
Yang menjadi sumber data penulisan skripsi terdiri dari sumber data primer dan sumber data skunder. Sebagai sumber primernya, penulis menggunkan karya-karya ilmiah Hj. Zakiah Daradjat terutama karya ilmiah beliu yang brhungan dengan kenakalan remaja, bukunya di antaranya yaitu seperti pembinaan mental, remaja harapan dan tantangan, kesehatan mental membina nilai-nilai moral di indonesia, pembinaan perawatan jiwa untuk anak-anak.
Adapun sebagai data skunder penulis menggunakan buku kartini kartono tentang kenakalan remaja, selanjutnya buku pengantar kriminologi dan patologi sosial, karangan simanjuntak, bunga rampai kriminologi karangan Soedjono Dirdjosisworo. Penulis juga menggunkan buku-buku lainnya yang ada relevansinya dengan judul skripsi. Demikian pula rujukan berupa dokumentasi, ensiklopedi, majalah, surat kabar dan lain-lain sepanjang ada kontekstualnya dengan skripsi ini.     
2.        Teknik Pengumpulan Data
Adapun yang menjadi pengumpulan data, penulis menggunakan teknik liberary risearch yaitu suatu riset kepustakaan.[16] Dalam meninjau kepustakaan, penulis memilah-milah antar kepustakaan yang memiliki otoritas keilmuan dan kepustakaan yang hanya dijadikan sebagai pelengkap atau penunjang setelah itu antara kepustakaan yang satu dengan yang lainnya diperbandingkan guna dicari persamaan dan perbedaan. Dari perbandingan dapat diketahui apakah pendapat Hj. Zakiah Daradjat masih relevan dengan perubahan masyarakat yang demikian cepatnya dan pada akhirnya dapat dianalisis secara kritis tentang teknik dengan metode bimbingan dan koseling Islam yang berkembang selama ini, apakah masih menjangkau apaya penanganan juvenile delinquency.
3.        Metode Analisis Data
Sebagai analisis data menggunakan metode sebagai berikut:
a.   Metode Deskriptif, yaitu sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki, dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang,








berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.[17]
Dengan metode deskriptif dimaksudkan bahwa pemikiran Hj. Zakiah Daradjat dalam hal juvenile delinquency akan dipaparkan sebagaimana adanya. Sedangkan metode analisis dipergunakan dalam arti secara kritis membahas dan meiti beberapa pengertian yang ditampilkan oleh pemikiran Hj. Zakiah Daradjat.
b.  Metode Komparatif, yaitu dengan membanding-bandingkan antara pendapat Hj. Zakiah Daradjat dengan penulis-penulis lainnya, guna dicari persamaan dan perbedaan.
c.   Metode Deduktif, yaitu pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan atau fakta-fakta umum menuju pada kesimpulan yang bersifat khusus. Dalam hal ini meneliti pendapat para ahli tentang fakta-fakta terjadinya kenakalan remaja.
d.  Metode Induktif, yaitu pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan atau fakta-fakta khusus menuju pada kesimpulanya bersifat umum. Dalam hal ini pendapat Hj. Zakiah Daradjat konklusi (kesimpulan) dari teori dan pendapat-pendapat yang ada.

I.        Sistematika Penulisan
Agar laporan penelitian ini dapat mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan, maka disusun sedemikian rupa secara sistematis yang terdiri dari lima bab yang masing-masing memperlihatkan titik berat yang berbeda namun dalam satu kesatuan titik terpisak atau (inhaerent)
Bab I berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara global namun holistik dengan memuat : latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, penegasan istilah, pokok permasalahan tujuan dan signifikansi penelitian, telaah pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II berisi bimbingan dan konseling terhadap juvenile delinquency meliputi : pengertian bimbingan dan konseling macam-macam bimbingan dan konseling peran dan fungsi bimbingan  konseling, pengrtian kenakalan remaja, faktor-faktor terjadinya kenakalan remaja
Bab II dimaksud sebagai tinjauan umum guna mendukung dan mempermudah uraian pada bab III.
Bab III berisi pemikiran Hj. Zakiah Daradjat terhadap kenakalan remaja  yang meliputi : riwayat hidup Hj. Zakiah Daradjat, karya-karya ilmiah Hj. Zakiah Daradjat, kenakalan remaja dan problematikanya menurut Hj. Zakiah Daradjat, penanganan kenakalan remaja menurut Hj. Zakiah Daradjat.
Bab III ini dimaksud untuk menopang bab ke empat menuju analisis pembahasan.
Bab IV berisi analisis pembahasan yang meliputi : analisis kenakalan remaja menurut Hj. Zakiah Daradjat dan penanganannya inklusif menganalisis tingkat dan metode bimbingan dan konseling Islam dalam konteksnya dengan realitas sosial.
Bab V merupakan penutup berisi kesimpulan dan saran-saran yang layak di kemukakan.


[1] Hj. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Cet. 10, Gunung Agung , Jakarta, 1993, hlm. 101.
[2] Hj. Zakiah Daradjat, Perawatan Jiwa Untuk Anak-anak, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hlm. 356.
[3] Ibid.
[4] Kartini Kartono, Patologi Sosial 3: Gangguan-gangguan Kejiwaan, CV Rajawali ed. 2, Jakarta, 1986, hlm. 209.
[5] Peter Salim, Salim Ninth Collegiate English Indonesia Dictionary, Modern English Press.
[6] John M. Echoles dan Hassan Shadily, Kamus Enggris Indonesia, Cet. 21, PT. Gramedia, Jakarta, 1995.
[7] Ensiklopedi Umum, Yayasan Dana Buku Frangklin, Jakarta, 1991
[8] Simanjuntak, Pengantar Kriminologio dan Patologi Sosial, Transiti, Bandung, 1977, hlm. 292.
[9] Kartini Kartono, Patologi Sosial Kenakalan Remaja, Rajawali Press, Jakarta, 1992, hlm. 7-10.
[10] Hj. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Cet. 10, Gunung Agung, Jakarta, 1983, hlm. 113 – 120.
[11] Ibid, hlm. 121 – 125.
[12] W.A. Bonger, Inleiding tot de Criminologi, (ter. R.A. Koesnoen), Cet. 2, PT. Pembangunan, Jakarta, 1962, hlm. 105 – 106.
[13] Peter Salim, Loc. Cit.
[14] W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling Di Sekolah Menengah, Cet. 8, PT. Grasindo, Jakarta, 1991, hlm. 17.
[15] H. Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Grafika, Yogyakarta, 1998, hlm. 105.
[16] Prof. DR. Sutrisno Hadi, Metodologi Risearch, Cet. 32, Jilid 1, Andi, Yogyakarta, 2001, hlm. 9.
[17] Hadari Nawawi, Minimartini, Penelitian Terapan, Cet. 11, Gajah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 1996, hlm. 73., CF. Sutrisno Hadi, Op. Cit, hlm. 3.

Ditulis oleh: Irvan Hadzuka Perahu Jagad Updated at : 6/26/2012 05:43:00 pm

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Atas Kunjungannya. Jangan Lupa Komentarnya ya.

Kebijakan Admin

Kebijakan Admin
Powered by Blogger.