PERKAWINAN DALAM AGAMA KRISTEN KATOLIK

A.    PENGERTIAN, FUNGSI, DAN TUJUAN PERKAWINAN DALAM AGAMA  KATOLIK
A.    Pengertian Perkawinan
Dalam kitab kanonik perkawinan di definisikan sebagai berikut: “Dengan perjanjian perkawinan perkawinan pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodrati perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami istri serta kelahiran dan pendidikan anak oleh Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antar orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen

Berfirman Allah:
“Maka Allah menciptakan manusia menurut gambarNYA, menurut gambar Allah diciptakaNYA dia laki-laki dan perempuan diciptakanya mereka. Allah memberkati mereka , lalu Allah berfirman kepada mereka beranak cuculah dan bertambah banya, penuhilah bumi dan taklukaalah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. (Kejadian 1:26-28)[1]
Karena Allah memandang bahwa manusia seorang diri tidak baik Maka dari itu Allah memerintahkan mereka untuk bersekutu dan bersatu, oleh sebab itu dorongan dn hasrat hati manusia untuk bersatu (kawin) adalah kuat kemudian dorongan dan hasrat manusia untuk bersatu dan bersekutu diikat dalam sebuah perkawinan.[2]
Hak atas tubuh suami-istri dalam kodeks lama merupakan tindakan yang sesuai bagi kelahiran anak. Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (GS) no. 48 menekankan pemberian atau penyerahan diri seutuhnya (total self donation, total giving of self). Maka, perkawinan tidak dilihat sebagai suatu kesatuan antara dua badan (tubuh), melainkan suatu kesatuan antara dua pribadi (persona).[3]
Perkawinan juga bisa di definisikan sebagai berikut:
 Lembaga dimana pria dan wanita bergabung dalam sebuah kemandirian legal dan sosial dengan tujuan untuk mendirikan dan memelihara sebuah keluarga[4]
            Dalam agama Katolik terdapat paham dasar perkawinan yang meliputi:
a.       Perjanjian Perkawinan
            Perkawinan itu dari kodratnya adalah suatu perjanjian (covenant, foedus). Dalam tradisi Yahudi, perjanjian berarti suatu “agreement” (persetujuan) yang membentuk (menciptakan) suatu hubungan sedemikian rupa sehingga mempunyai kekuatan mengikat sama seperti hubungan antara orang-orang yang mempunyai hubungan darah. Konsekuensinya, hubungan itu tidak berhenti atau berakhir, sekalipun kesepakatan terhadap perjanjian itu ditarik kembali. Berdasarkan pilihan bebas dari suami-istri, suatu perjanjian sesungguhnya akan meliputi relasi antar pribadi seutuhnya yang terdiri dari hubungan spiritual, emosional dan fisik.
b.      Kebersamaan Seluruh Hidup
      Dari kodratnya perkawinan adalah suatu kebersamaan seluruh hidup (consortium totius vitae. “Consortium”, con = bersama, sors = nasib, jadi kebersamaan senasib. Totius vitae = seumur hidup, hidup seutuhnya). Ini terjadi oleh perjanjian perkawinan. Suami istri berjanji untuk menyatukan hidup mereka secara utuh hingga akhir hayat.


Kebersamaan suami istri itu terjadi dalam seluruh hidup sehingga keduanya bisa senasib-sepenanggunggan. Kebersamaan seluruh  hidup ini tidak hanya kuantitatif, “seumur hidup sampai mati” tetapi juga secara kualitatif seperti terungkap dalam janji perkawinan,
 “Di hadapan Allah aku menerima engkau sebagai istriku/suamiku, aku berjanji setia kepadamu, dalam suka duka, dalam keadaan sehat dan sakit, sampai kematian memisahkan kita, aku mau mencintai engkau, menghormati dan menghargai engkau, sepanjang hidupku.”
Hal ini juga diungkapkan secara simbolis dalam upacara saling menerima cincin, “terimalah cincin ini sebagai lambang cinta dan kesetiaanku padamu”.[5] Larangan bercerai ini mempunyai dasar yang kokoh pada penegasan Tuhan Yesus sendiri atas kehendak Allah dari semula.
 “Apa yang dipersatuka Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).
c.       Antara Pria dan Wanita
Pria dan wanita diciptakan menurut gambaran Allah dan diperuntukkan satu sama lain, saling membutuhkan, saling melengkapi, saling memperkaya. Menjadi “satu daging” (Kej 2:24).
Gereja Katolik hanya mengakui perkawinan antara pria dan wanita. Pria dan wanita yang menikah itu harus hidup bersama. Memang adakalanya karena tugas suami dan istri terpisah untuk sementara waktu. Banyak kesulitan yang dialami oleh paangan suami istri yang hidup terpisah lama, oleh karena itu sebisa mungkin diupayakan agar suami istri dapat hidup bersama.
Pria dan wanita yang saling memilih untuk menjadi temam hidup sebagai suami istri, tentulah dilandasi rasa saling menyintai. Rasa tertarik pada seseorang, mencintainya, kemudian memilihnya menjadi pasangan hidup merupakan suatu anugerah yang saling diberikan secara bebas.
d.      Sifat Kodrati Keterarahan Kepada Kesejahteraan Suami-Istri (Bonum Coniugum)
Selain tiga “bona” (bonum = kebaikan) perkawinan yang diajarkan St. Agustinus, yakni:
1)      Bonum prolis: kebaikan anak, bahwa perkawinan ditujukan kepada kelahiran dan pendidikan anak,
2)      Bonum fidei: kebaikan kesetiaan, menunjuk kepada sifat kesetiaan dalam perkawinan, dan
3)      Bonum sacramenti: kebaikan sakramen, menunjuk pada sifat permanensi perkawinan; gaudium et spes no. 48 menambah lagi satu “bonum” yang lain, yakni bonum coniugum (kebaikan, kesejahteraan suami-istri).
4)      Sifat Kodrati Keterarahan kepada Anak
Perkawinan terbuka terhadap kelahiran anak dan pendidikannya. KHK 1983 tidak lagi mengedepankan prokreasi sebagai tujuan pertama perkawinan yang mencerminkan tradisi berabad-abad sejak Agustinus, melainkan tanpa hirarki tujuan-tujuan menghargai aspek personal perkawinan dan menyebut lebih dahulu kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum)
e.       Perkawinan Sebagai Sakramen
Perkawinan Kristiani bersifat sakramental. Bagi pasangan yang telah dibabtis, ketika mereka saling memberikan konssesnsus dalam perjanjian, maka perkawinan mereka menjadi sah sekaligus sakramen.[6]
Dalam agama Kristen Katolik hanya mengenal paham monogamy yang bertitik tolak dari matabat pribadi manusia. Dalam Kej 2:8-25, dikisahkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Itu berarti wanita mempunyai kesejajaran dengan laki-laki, wanita diciptakan sebagai penolong yang sepadan (Kej 2:18). Sebagai manusia pria dan wanita memiliki kesamaan martabat pribadi. Bahkan Rasul Paulus dengan berani menulis: “Di dalam Kristus tidak ada pria dan wanita” (gal 3:28).
Dari paham kesamaan martabat pribadi pria dan wanita ini mengalir sifat perkawinan: monogamy. Bila istri mencintai suaminya 100% semestinya demikian pula sebaliknya. Praktek poligami menggadaikan martabat wanita lebih rendah daripada laki-laki.[7]
Secara eksplisit alkitab memang tidak menyebut soal monogamy, bahkan terkesan perjanjian lama menolelir poligami para tokoh perjanjian lama. Namun dalam perjanjian baru, Tuhan Yesus menganggap perkawinan orang yang sudah cerai sebagai zinah. Hal ini menggadaikan monogamy sebagai satu-satunya bentuk perkawinan yang dibenarkan oleh Tuhan Yesus.
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah” (Mat : 5 : 32)
Perkawinan secara Katolik tidak bisa dilangsungkan secara mendadak dan dalam waktu singkat. Ada banyak prosedur yang mesti dilewati dan berbgai persyaratan yang harus dilengkapi dan hal ini tidak dimaksudkan untuk mempersulit umat, melainkan untuk keabsahan perkawinan dan keagungan perayaan perkawinan gerejani. Hal ini meliputi; pendaftaran ke paroki, perlengkapan administrative, kursus perkawinan, penyelidikan kanonik, gladi bersih dan sakramen tobat.[8]
B.     Fungsi Perkawinan
Ada tiga hal yang penting dalam fungsi perkawinan:

1.      Fungsi keagamaan
Karena Allah memandang bahwa manusia seorang diri tidak baik Maka dari itu Allah memerintahkan mereka untuk bersekutu dan bersatu, oleh sebab itu dorongan dan hasrat hati manusia untuk bersatu (kawin) adalah kuat kemudian dorongan dan hasrat manusia untuk bersatu dan bersekutu diikat dalam sebuah perkawinan.[9]
Perkawinan yang sempurna adalah kesatuan antara tiga pribadi seorang pria, seorang wanita, dan Allah! Inilah yang membuat perkawinan menjadi kudus. Iman dalam Kristus adalah bagian terpenting dari semua prinsip penting lainnya untuk membangun suatu perkawinan dan rumah tangga yang bahagia. "Perkawinan adalah perintah Allah yang di firmankan:
“Maka Allah menciptakan manusia menurut gambarNYA, menurut gambar Allah diciptakaNYA dia laki-laki dan perempuan diciptakanya mereka. Allah memberkati mereka , lalu Allah berfirman kepada mereka beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukaalah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. (Kejadian 1:26-28)[10]
2.      Fungsi Cinta Kasih
Sudah menjadi kodrat manusia bail laki-laki maupun perempuan untuk mengenal cinta serta ingin mendapatkanya. Bagi manusia cinta adalah sesuatu yang teramat mahal harganya. Dengan cinta manusia akan  hidup bersemangat. Digambarkan cinta itu bagaikan api yang kuat membara.
Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina (Kid. 8:7)
St. Paulus yang menyatakan bahwa  saling cinta kasih suami istri adalah sebagai lambang kesatuan mesra antara Kristus dan gerejanya.[11] Kasih kristus terhadap umatnya digambarkan Rasul Paulus sebagai kasih seorang suami terhadap istrinya. Tuhan Yesus adalah sang pengantin pria, yang dalam perjanjian lama dinyatakan sebagai suami bangsa Israil.[12] 
3.      Fungsi Reproduksi
Fungsi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan dan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia hal ini di ungkapakan oleh tuhan Allah dalam firmaNYA:
Lalu Allah berfirman kepada mereka beranak cuculah dan bertambah banyak.(Kej 1:27)[13]
a.      Tujuan Perkawinan
Perkawinan merupakan perjalanan bersama suami istri. Perjalanan itu memiliki tujuan. Tujuan inilah yang menentukan arah dan apa saja yang musti diupayakan agar tujuan itu tercapai. Gereja mengajarkann tujuan perkawinan sebagai berikut:
1.      Kesejahteraan Suami Istri (Bonum Coniugum)
      Dalam perkawinan suami istri mau dan berupaya untuk salingb menyejahterakan pasangan (dan anak-anak). Hal ini berarti mengupayakan apa yang terbaik bagi pasangannya baik jasmani maupun rohani.
      Berkaitan dengan kesejahtaraan suami istri ini, gereja tidak mengajarkan bahwa perkawinan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis, yang akhirnya bisa mengizinkan bercerai atau berpoligami manakala tujuan ini tidak tercapai. Para Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa persetubuhan dalam perkawinan merupakan ungkapan cinta yang puncak (masih ada pelbagai ungkapan cinta lain) dan khas dari suami istri .
2.      Terarah Pada Prokreasi (Kelahiran) dan Edukasi (Pendidikan) Anak
      Kata “terarah kepada” kelahiran anak berarti mereka yang hendak menikah harus mau mempunyai anak. Sama sekali tidak dibenarkan perkawinan orang yang sengaja tidak mau mempunyai keturunan. Perkawinan Katolik mesti terbuka dengan anak yang di anugerahkan tuhan. Apakah nanti dianugerahi anak oleh tuhan atau tidak itu hal lain, sebab anak bukanlah hak suami istri yang bisa dituntut kepada tuhan. Tujuan perkawinan dirumuskan dengan “terarah kepada” kelahiran anak, bukan untuk mengadakan keturunan. Sebab bila tujuan ini tidak tercapai-perkawinan tidak membuahkan keturunan- kemudian orang bisa bercerai atau berpoligami.
      Suatu anugerah tentu sekaligus mengandung tugas. Demikian juga anugerah anak menuntut tugas dan tanggung jawab orang tua untuk mendidik secara Katolik. Dalam pelaksanaanya tentulah mereka akan dibantu oleh gereja dan masyarakat (sekolah).[14]
4.      STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK SUAMI ISTRI DALAM AGAMA KRISTEN KATOLIK
1.      Konflik Suami Istri
Mempunyai keluarga yang harmonis dan sehat jiwa raga adalah idaman setiap orang. Di dalam keluarga seperti inilah setiap anggota akan mempunyai rasa sukacita, saling memiliki, saling mendukung, dan aman. Apalagi jika kasih Kristus melandasi kehidupan keluarga, maka keluarga tersebut adalah keluarga yang sempurna.Perkawinan adalah jalan satu-satunya bagi pasangan untuk dapat hidup dalam satu keluarga tersendiri. Dan dengan perkawinan inilah berarti pasangan siap menyatukan dua pribadi yang berbeda yang memiliki latar belakang yang berbeda. Merupakan hal yang wajar jika dalam menyatukan dua pribadi yang berbeda ini sepasang suami istri mengalami hambatan dan rintangan dalam perjalananya menuju mahligai kebahagian dalam kristus. Agama Katolik memberikan perhatian besar kepada urusan keluarga karena keluarga berperan penting dalam membentuk pribadi yang taat dan kuat. 
Kepercayaan kepada Allah memainkan peran penting dalam memperkokoh ikatan dan kasih sayang dalam keluarga. Orang yang mempunyai kepercayaan pada agama akan lebih berpegang teguh kepada janji atau ikatan perkawinan. Iman kepada Tuhan akan memberikan kesabaran dan keteguhan kepada manusia dalam menghadapi tekanan kehidupan dan memelihara diri dari pengkhianatan terhadap pasangan mereka.
Dalam kehidupan berumah tangga sepasang suami istri akan selalu mendapati batu sandungan yang berupa konflik (pertengkaran). Bahkan pasangan yang paling bahagiapun mendapati diri mereka saling bertentangan dari waktu ke waktu. Konflik suami istri adalah salah satu wilayah “di luar batas” sesuatu yang tak satupun pasangan ingin memikirkanya secara berlebihan. Setiap pasangan lebih suka konflik (pertengkaran) tidak pernah terjadi[15]. 
Setiap pasangan akan selalu berpikir bahwa diri mereka tidak pernah bertengkar, tidak pernah kecewa dan marah, dan dapat memasuki kebahagiaan abadi dalam kristus tanpa ada kesedihan. Namun, walaupun Yesus ada dalam bahtera keluarga setiap penganut Katolik, bukan berarti tidak akan ada badai, ombak, maupun gelombang yang datang dan  mengguncangkan keluarga. Konflik akan selalu muncul dalam samudra kehidupan rumah tangga. Dalam hal ini penganut katolik harus berbangga, karena mempunyai ajaran agama yang begitu melindungi umatnya, serta mengatur hal perkawinan dengan begitu detail dan memadai.
2. Penyelesaian Konflik
            Ketika dua kehidupan dipersatukan bersama dalam suatu hubungan intim jangka panjang dalam lembaga perkawianan, maka sewaktu-waktu akan selalu muncul masalah. Banyak pasangan memasuki perkawinan hanya dengan sedikit persiapan untuk menghadapinya. Kadang-kadang mereka kurang memiliki kedewasaan emosional, kemantapan atau keluwesan, yang harus dimiliki.
            Maka dari itu hendaklah pasangan Katolik hendaknya mengetahui, memahami serta dapat mengmalkan unsur-unsur pembentuk suatu perkawinan yang baik yaitu:
1.      Saling menghormati.
Saling menghormati berarti masing-masing menerima pasangannya    sebagaimana adanya, tidak berusaha memperalat, membantu    pasangannya untuk bertumbuh sesuai rencana Allah dengan tidak    mementingkan dirinya sendiri, saling menghargai, membedakan antara    yang ideal dan yang merupakan kenyataan, serta tidak menuntut    terlalu banyak, alkitab berkata:
"Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan    istri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:33)
2.         Penyerahan diri yang tulus
Hakekat janji yang diucapkan dalam pemberkatan nikah ialah penyerahan diri secara tulus, satu kepada yang lain, sambil meninggalkan segala hal lainnya. Alkitab berkata:
"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:24).
Waktu dan pengalaman membuktikan bahwa "menjadi satu daging" dalam perkawinan, tidak berarti pelepasan kepribadian atau hak-hak pribadi. Justru penyerahan diri yang memperkaya kepribadian    keduanya.
3.         Komunikasi yang baik
Agar dapat berkomunikasi, harus ada pengertian tentang perbedaan-perbedaan emosional, mental dan jasmani, antara pria dan wanita. Perlu dikembangkan suasana persahabatan. Percakapan,bukan saja berdiskusi ketika muncul perbedaan, tetapi pertukaran informasi yang berarti, baik dalam tingkat intelektual maupun emosional.
4.         Waktu dan usaha
Kasih harus diberi kesempatan untuk tumbuh dewasa. Suasana untuk itu, terdapat dalam Firman Tuhan. Ketika perjalanan hidup menjadi berat, pasangan tersebut tidak "membuang cinta" mereka; tetapi mereka bertahan bersama dan berusaha menyelesaikannya.Mereka tidak menganggap diri mereka "korban" dari "salah perhitungan", tetapi "teman pewaris kasih karunia". (1Petrus 3:7)
5.      Kesatuan rohani
Mengerti dimensi rohani dalam perkawinan akan membawa dampak yang    dalam. Paulus membandingkan perkawinan-kesatuan suami dan istri-dengan hubungan kekal antara Kristus dan Gereja.[16]
Konflik suami istri adalah hal yang wajar dalam rumah tangga, bahkan kalau kita mau mengkaji lebih jauh, disamping konflik berakibat buruk, di sisi yang lain konflik juga bermanfaat bagi pasangan suami istri. Dengan konflik-konflik keluarga yang terjadi maka satu dengan yang lainnya bisa lebih saling mengenal dan memahami sifat serta keinginan masing-masing. Ini sangat berguna dalam proses adaptasi bagi pasangan rumah tangga. Terlebih itu merupakan pasangan baru[17]. 
Tetapi sisi buruk dari konflik akan muncul seiring dengan ketidakmampuan mengendalikan dan menyelesaikan sebuah konflik. Rasa tidak puas bahkan sakit hati akan menyelimuti pihak yang berkonflik. Ini bisa mengganggu hubungan pasangan tersebut.
Perkawinan bukan hanya puncak dari sebuah kisah cinta. Bukan pula sekedar perwujudan dari cinta dua anak manusia. Esensi perkawinan melampaui itu semua. Perkawinan atau perkawinan adalah wujud dari misi Allah bagi manusia. Perkawinan digagas sendiri oleh Allah. Di jelaskan dalam Kejadian I:27-28:
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
Jika dua orang berkomitmen menikah, maka ada berkat Allah di sana. Berkat itu macam-macam,bukan saja materi tetapi juga sukacita, bahagia dan sebagainya. Ada damai sejahtera dari Allah. Kalau sampai tidak merasakan berkat atau damai sejahtera ini dalam sebuah keluarga berarti ada sesuatu yang salah.
Meskipun perkawinan adalah menyatukan dua pribadi dengan dua latar belakang dan nilai yang berbeda, perkawinan tetap merupakan komitmen di hadapan Allah. Sebuah komitmen yang membutuhkan ketaatan untuk menjaganya[18].
Konsekuensinya apapun konflik yang dialami dan seberat apapun konflik itu, sepasang suami istri harus melaksanakan ketaatan untuk menjaga kesatuan. Ada 3 kesatuan yang harus dijaga oleh pasangan suami isteri Katolik, yaitu :
1.      Kesatuan Fisik
        Kesatuan ini pada pasangan suami istri terwujudkan dalam hubungan seksual. Dalam hubungan suami isteri, seks itu penting tetapi bukan segalanya. Konflik akan muncul jikalau umur perkawinan semakin tua sehingga intensitas hubungan seks tidak lagi menjadi hal penting. Banyak pasangan yang merasa hambar karena merasa sama-sama sudah tua. Bisa jadi salah satu (baik suami atau isteri) masih mau melakukan hubungan seks tetapi pasangannya malas dengan berbagai macam alasan. Ini berbahaya.
Sesungguhnya dalam hubungan seks mempunyai banyak fungsi. Ada bersifat prokreasi, dimana hubungan seks dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan anak atau keturunan. Rekreasi, hubungan seks dilakukan untuk memperoleh kesenangan atau kenikmatan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah fungsi relasi. Dimana seks dilakukan untuk meningkatkan hubungan suami dengan isteri agar lebih mendalam. Seks dilakukan untuk membentuk dan memperkokoh lembaga perkawinan.
2.      Kesatuan Jiwa
Kesatuan yang kedua adalah kesatuan secara jiwa, meskipun perkawinan itu pada dasarnya adalah menjadi satu tetapi masing-masing tetap mempunyai latar belakang dan nilai yang berbeda. Disinilah pasangan harus menjaga kesatuan jiwa agar jangan muncul konflik, intinya, suami dan istri harus saling menyenangkan. Seperti yang tertulis dalam I Korintus 7 : 4, 33-34:
 Lakukan apa yang suami atau isrimu senangi dan jangan melakukan apa yang suami atau istrimu tidak senang.
3.      Kesatuan Secara Roh
Ini agak komplek sebab berhubungan dengan Allah. Disinilah alasan mengapa perkawianan dengan perbedaan iman akan menemui masalah kelak. Karena cara memahami Allah dan berpikir serta bersikap dalam kehiduapan sehari-hari sangat berkaitan. Jika amat berbeda konflikpun cepat tersulut. 
Bagi pasangan yang berbeda gereja juga harus segera menetapkan dimana mereka akan bergereja. Boleh mereka beda gereja tetapi pasca perkawinan, mereka harus menentukan satu gereja dimana mereka akan bertumbuh. Ketidakmampuan menjaga ketiga kesatuan ini akan menjadi pemicu sebuah konflik. Jika mampu menjaga kesatuan fisik, jiwa dan roh, dalam kehidupan rumah tangga maka sisi konflik yang buruk bisa dikendalikan[19].
Dalam banyak literature katolik banyak dijelaskan strategi-strategi dalam menghadapi konflik yang terjadi antara suami istri, seperti yang di jelaskan seorang pakar Marriage Encounter katolik, Paulus Subiyanto bahwa :
1.      Jangan menghina
Menghina berarti merendahkan pasangan dengan tujuan untuk menyakiti. Bentuk penghiaan bisa berupa ejekan sinis seperti “dasar orang kampong !”, “sulit ngomong sama orang tak berpendidikan ”, “goblok!”, “kampungan!” hinaan-hinaan semacam ini bukan hanya melukai pasangan, namun bisa “membunuh” atau merusak kepribadian.kritik hendaknya hanya tertuju pada pendapat dan pikirannya bukan pada pribadi orangnya. Berfirman Allah :
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Ef. 4:2)
Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh.(Ams. 22:10)
2.      Jangan melarikan diri
Ketika pasangan bertengkar, jangan melarikan diri baik secara fisik dengan lari dari rumah maupun secara psikis yakni menghindari masalah. Kalau suami atau istri benar-benar sudah tidak tahan lagi dan cenderung saling menyakiti, sebaiknya ungkapkan terus-terang, “kelihatannya aku perlu udara segar sebentar” atau “bagaimana kalau kita berhenti sejenak untuk menenangkan diri?” sentuhan-sentuhan mesra akan mendiinginkan emosi, dan menyadarkan pasangan bahwa anda tetap mencintainya. Kembali pada masalah awal, rumuskanlah kembali seperti pada awal pembicaraan. Sering kali pokok persoalan sudah bergeser jauh, apa yang semula kita tuntut dan sudah dipenuhi oleh pasangan, namun kita mencari masalah dan tuntutan baru lagi.
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. (Ams. 15:1)
3.      Jangan menggunkan kata-kata ekstrim
Sering kali tanpa sadar dalam pertengkaran kita menghakimi pasangan secara tidak fair dengan kata-kata seperti, “kau selalu meremehkan aku” Kata-kata seperti itu di samping tidak realistic, juga meniadakan hal-hal positif yang pernah (bukan sering) dilakukan pasangan. Daripada “menuduh” lebih baik anda “meminta” seperti, “aku ingin kau mengerti aku lebih baik”; dan lain-lain. Tuhan berkata:
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. (Ams. 15:1)
Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. (Kol. 3:8)
4.      Jangan mengungkit masa lalu
Godaan terbesar dan termudah saat pertengkaran adalah mengungkit kesalahan masa lalu untuk mengalahkan pasangan. Namun dengan cara demikian, anda kehilangan kepercayaan dari pasangan di masa mendatang. Besar kemungkinan persoalan bergeser ke masalah masa lalu yang dulu sudah terselesaikan. Orang memang tidak bisa berkutik bila berhadapan dengan kesalahan masa lalu, namun anda tidak boleh memanipulasi kelemahan pasangan untuk memenangkan pertengkaran.
5.      Jangan memanggil pihak ketiga
Pada saat anda bertengkar, hindari kehadiran pihak ketiga siapapun dia. Yang punya masalah adalah anda dan pasangan. Pihak ketiga bisa dimintai tolong membantu, namun tidak pada saat pertengkaran. Selesai atau tidak masalahnya, pertengkaran harus anda selesaikan sendiri dengan pasangan. Dorongan memasukan orang ketiga karena kita ingin meyakinkan bahwa pasangan salah.
6.      Bukan pengadilan
Pengadilan selalu mengandaikan ada yang menang ada yang kalah, ada yang benar dan salah. Yang dicari dalam pertengkaran suami-istri adalah kemenangan bersama melalui saling mengerti dan menerima. Pertengakaran tidak perlu saksi- pihak ketiga- untuk menjadi wasit, suami dan istri sendirilah wasit yang memutuskan kapan akan berhenti atau terus. Menyerang dengan mengungkapkan kekurangan dan kelemahan pasangan justru memancing untuk membela diri dan balas menyerang. 
7.      Ingat bahwa pasangan kita lebih penting daripada masalahnya 
Inilah dalil utama setiap pertengkaran yang harus dipegang oleh suami-istri : orangnya lebih penting daripada masalahnya. Pasangan anda jauh lebih berharga daripada “kemenangan” atau “kebenaran” yang anda peroleh. Apa artinya anda berhasil memenangkan kebenaran pendapat jika pasangan anda terluka? Ingatlah bahwa pertengkaran adalah salah satu bentuk komunikasi, yang buahnya harus berupa “kebersatuan”, bukan penjauhan atau perpecahan. 
8.      Ungkapkanlah luka-luka ynag selama ini terpendam
Pertengkaran bisa menjadi kesempatan untuk mengungkapkan luka-luka yang selama ini terpendam. Suasana emosional akan mendorong orang terbuka mengungkapkan kekecewaan, keinginan terpendam, dan kebutuhan psikologis yang diharapkan pasangan bisa dipenuhi. Orang benar-benar bisa bobol benteng persembunyiannya, dan keluar apa adanya”. Justru inilah kesempatan untuk memperlihatkan kepada pasangan siapa diri anda sesungguhnya. Dalam kondisi seperti ini, pasangan harus berani mendengarkan sebaik mungkin, inilah kesempatan baginya untuk mengenal siapa pasangannya.
9.      Mengungkapkan perasaan terdalam
Untuk mengungkapkan perasaan terdalam, orang takut mengambil resiko ditolak atau terlukai. Namun dalam pertengkaran, resiko itu sudah diterima, tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Ungkapan perasaan anda yang terdalam, yang mungkin  selama ini tak berani disampaikan, tentu tanpa harus menuduh dan menyalahkan pasangan. Perasaan itu milik anda sendiri, ungkapkan dengan subyek AKU bukan KAU.
10.        Tidak ada jalan lain selain saling mengampuni 
Entah kadarnya berapa, setiap pertengkaran bisaanya menggoreskan luka kendati persoalan sudah terselesaikan. Sisa-sisa luka ini harus disembuhkan melalui saling mengampuni baik secara verbal maupun nonverbal. Peluklah dengan hangat da katakana “maafkan aku” tanpa perlu penjelasan apa-apa katakana juga bahwa anda sangat mencintainya dan membutuhkannya. perkawinan sebagai relasi antar pribadi yang paling mendalam tak mungkin tanpa pengampunan, sama halnya tak mungkin menghindari luka-luka. Oleh sebab itu, setiap pertengkaran harus diakhiri dengan saling mengampuni, tidak peduli apa yang dipertengkarkan, tidak perduli sudah ada penyelesaianya atau belum, tak perduli siap salah siapa benar[20]. 
Tetapi hendaknya kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam kristus telah mengampuni kamu (Ef. 4:32)
Strategi-strategi lain untuk menyelesaikan konflik suami istri di ungkapkan oleh tokoh konselor keluarga Tim Lahaye yaitu:
 
1.      Kendalikan emosi dengan Roh Kudus 
         Manusia adalah makhluk emosional. Serumit dan seberagam apapun dia, tidak ada yang lebih mempengaruhi pribadi seseorang secara keseluruhan dibandingkan dengan emosi dalam diri. Jika seorang tidak baik mengendalikan emosi, maka ia juga tidak baik dalam mengendalikan diri. Kurangnya pengendalian diri menandakan bahwa Roh Kudus tidak memerintah dalam dalam kehidupan seseorang. Tuhan berkata:
“Sebab dalam hati orang timbul pikiran jahat, percabulan pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, keleicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebala”. (Mrk. 7: 21-22).
         Ada dua sumber emosi dalam hati orang kristen : “roh manusia” Paulus dan roh Allah – sifat rohani yang baru yang masuk dalam hidup seseorang ketika ia lahir kembali karena iaman dalam tuhan yesus kristus. Roh manusia adalah sumber emosi yang tidak tepat. Dan roh yang kedua Paulus menyebutnya “manusia baru”, hanya bisa mengalami emosi-emosi yang berguna. Ketika emosi yang kedua ini ditumbuh kembangkan, emosi-emosi tersebut akan mengendalikan emosi alami seseorang.
         Ketika seseorang mementingkan diri sendiri, marah atau ketakutan, maka ini menunjukan roh manusia mempengaruhi emosi orang tersebut. Dan ketika seseorang mengasihi, suka cita, dan penuh damai sejahtera – terutama ketika situasi atau tempramen menguasai dirinya, maka ia harus mengarahkanya pada arah yang berlawanan – maka sifat baru (Roh Kudus) sedang mengawasi ia secara efektif. Orang katolik yang dikendalikan Roh Kudus tidak pernah kehilangan pengendalian emosi. Mereka mungkin mengalami pergolakan, emosional ditengah-tengah trauma dan penderitaan, tetapi mereka dimampukan untuk mengatasinya. Paulus berkata “kami ditekan dari segala arah tetapi tidak ditinggalkan”, inilah kemenangan dari anak-anak Allah melalui pelayanan Roh Kudus yang tinggal dalam diri mereka.
         Pasangan suami istri akan lebih mudah membina komunikasi dan hubungan interpersonal dengan pasanganya ketika suami istri tersebut dapat mengendalikan emosinya. Emosi yang dikendalikan Roh Kudus akan sangat berperan di saat sepasang suami istri menghadapi konflik dalam rumah tangganya.
2.      Menghindari kritik
         Semakin orang mengasihi orang lain, semakin ia menginginkan pujian dari orang yang dikasihi. Sebaliknya, kritik dari orang yang dikasihi merupakan hal yang menghancurkan. Untuk itulah daripada saling menyalahkan, semua pasangan harus mempelajari seni memuji.. karena tidak ada satupun yang lebih cepat merusak cinta daripada kritik yang terus menerus.
         Kritik sama sekali tidak akan membangun hubungan. Berilah pujian jika suami istri ingin cinta diantara mereka berkembang. Terutama bagi suami. Jika ia gagal memuji istrinya, maka istrinya akan mengembangkan citra diri yang tidak benar. 
3.      Terimalah tempramen pasangan anda
                     Dengan mempelajari tempramen pasangan yang menikah akan mendapat berkat, yaitu penjelasan mengapa seseorang membuat keputusan, menunjukan prasangka, atau memperlihatkan pilihanya. Memahami tempramen akan membantu pasangan suami istri mengetahui “mengapa” tetapi hanya Allah yang dapat membantu mereka dalam penyelesaian konflik.
Pasangan yang mengetahui tempramen masing-masing akan lebih mudah untuk menerimadan bekerja sama daripada bertengkar karena perbedaan. Untuk dapat menerima tempramen pasangan ini perlu menyadari hal-hal sebagai berikut:
a)       Pasangan suami istri harus mengakui bahwa masing-masing dari mereka mempunyai kelemahan.
b)       Menerima fakta bahwa masing-masing pasangan merupakan mempunyai kelemhan (tidak sempurna).
c)       Hadapi kelemahamn masing-masing pasangan dengan kasih.
d)      Serahkan masalah itu kepada Allah.
e)       Bekerja sama dengan kelemahan pasangan-jangan menentang-dan jangan pernah mengkritik apa yang dilihat sebagai kelemahan tempramen.[21]
 
   Dalam menyelesaikan konflik, pasangan Kristen katolik haruslah menutup dua pintu yang tidak diperkenankan oleh tuhan dalam kehidupan perkawinan yaitu :
1.      Pintu perceraian
         Jika ada seorang katolik perceraian bukanlah suatu alternative- kecuali pasangan tidak setia itulah perkecualian yang diberikan oleh (Mat 19.9) selain ketidak setiaan tidak ada alasan lain untuk bercerai.hal itu tidak berarti bahwa seorang wanita harus tinggal bersama seorang pria yang kehilangan control karena marah, alcohol, atau obat-obat dan memukuli dirinya. 
         Dalam kasus seperti itu seorang wanita harus pergi kepengadilan dan mendapatkan perintah penahanan untuk melindungi dirinya. Pria yang kejam perlu menyadari bahwa wakil-wakil hokum akan melakukan penahanan. Terlepas dari perbedaan antara dua orang, Allah bermaksud agar mereka tetap bersama-sama.
2.      Pintu bagi orang ketiga
         Cinta dalam perkawinan berbeda dengan cinta paternal, yang membolehkan seseorang untuk memberikan cinta kepada beberapa anak pada waktu yang sama. Karena tingginya aspek sksual dalam perkawinan, maka hati manusia tidak dapat mencintai dua orang lawan jenis secara adil. Kehadiran orang ketiga bukanlah dari Allah. Alkitab dengan jelas mengatakan suami istri haruslah “menyenangkan pasanganya” setiap pasangan katolik membutuhkan pertolongan Allah untuk membuat cinta dalam perkawinan mereka tetap hidup, tetapi para pasangan tidak da[pat mengharapkan bantuan yang hebat diluar ikatan kesetiaan[22].
Dalam menyelesaikan konflik, pasangan Kristen katolik haruslah mengenakan Tujuh Moral Kristiani, agar dalam proses penyelesaian konflik mereka menemuai jalan terbaik yang penuh berkat. Tujuh moral kristiani tersebut adalah :
1.      Kenakanlah belas kasihan
2.      Kenakanlah kebaikan hati
3.      Kenakanlah kerendahan hati 
4.      Kenakanlah kelemah lembutan
5.      Kenakanlah kesabaran
6.      Kenakanlah penguasaan diri
7.      Kenakanlah pengampunan
                     Banyak pasangan terlalu sombong, terluka, atau sakit hati untuk mengakui ketika mereka telah membuat orang sakit. Tetapi Allah sendiri memerintahkan pengakuan dosa supaya penyembahan kita di benarkan. Dia mengajarkan, “sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mizebah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada didalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mizebah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu (pasanganmu), lalu untuk mempersembahkan persembahan itu ” (mat. 5: 23,24).
                     Membereskan luka hati diantara pasangan sangat penting dimata Allah, sehingga ia menyatakannya sebagai pengantar yang hakiki dari penyembahan. Setiap orang membutuhkan pengampunan, tidak sekali, tetapi berkali-kali. Semua perkawinan yang berbahagia mempunyai satu karaksteristik umum pengampunan. Tetapi ingatlah, selalu lebih mudah untuk mengampuni jika orang yang berbuat salah meminta maaf. Tetapi jika diperintahkan untuk mengampuni, baik orang lain meminta maaf atau tidak, anda tidak dapat memutuskan apakah pasangan anda mengampuni, tetapi and dapat memutuskan untuk diri anda sendiri[23].
                        
                        Setelah konflik dapat diredakan dan masalah dapat tersesaikan pasangan menyediakan diri untuk berdamai dengan pasanganganya ini sangat penting untuk membina kerukunan di masa selanjutnya. Alkitab mengatakan :
Segala kepahitan, keraman, kemarahan, pertikaian,dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah didalam kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4 : 31-32)
 
                        Ketika pasangan menjadi terganggu, tegang dan masing-masing merasa jauh satu sama lain saatnya untuk mengambil keputusan “aku mau lebih mencintaimu”. Aku bertanggung jawab terhadap baik buruknya relasi, karenanya aku harus berani mengambil inisiatif. Menunggu berarti membiarkan diriku dicekam kesepian. Pengampunan tak bisa dipisahkan dalam hubungan antar pribadi apalagi hubungan suami-istri. Semakin mendalam hubungan itu semakin rentang untuk saling melukai. Mengampuni berarti memulihkan hubungan, dan menatap kedepan.
1.      Bersikap aktif bukan reaktif
         Anda bertanggung jawab atas relasi, maka bersikaplah aktif untuk memulihkan ketegangan atau kerenggangan. Seringkali orang hanya menunggu, dan berharap pasangan memulai sesuatu. “apa yang bisa saya buat agar relasi menjadi lebih baik” merupakan pertanyaan pertama yang harus setiap hari muncul setiap menghadapi gangguan relasi. Dengan demikian, anda bukan hanya bertanggung jawab, melainkan juga menjadi pribadi yang mandiri dan bebas. Inilah tipikal pribadi yang dewasa, yang sikap dan prilakunya tidak hanya sebagai reaksi atas prilaku orang lain. 
2.      Perilaku lebih penting daripada kata-kata
         Kadang kala sulit untuk memulai dengan kata-kata namun salah satu pasangan bisa memulai dengan menawarkan perbuatan baik yang tertuju pada pasangannya. Menawarkan pada pasangan seperti : (bagaimana kalau besuk makan bersama?), melaksanakan kegiatan sehari-hari tanpa dipengaruhi suasana juga akan membantu untuk memulai hubungan baik kembali. Cara-cara seperti ini menunjukan kepada pasangan bahwa anda tetap mencintai-tanpa berkurang-setelah peristiwa yang tidak mengenakan sekalipun. Masalah yang muncul bukan karena anda kurang mencintainya, melainkan hal lumprah yang tak terelakkan dalam relasi suami-istri. 
3.      Pahami kebutuhan pasangan
         Pengertian, kemesraan, atau kebebasan? Hanya pasangan yang bisa memenuhi kebutuhan itu. Dengan memenuhi kebutuhan pasangan berarti seseorang  melibatkan diri dan meyakinkan pasangan bahwa dia dibutuhkan. Ketegangan dan kerenggangan dalam relasi sering kali bukan karena ada masalah melainkan karena ada kebutuhan salah satu yang tak terpenuhi. Hal ini menimbulkan perasaan negative yang tak terungkapkan, akibatnya suasana menjadi kaku dan dingin.
4.      Berkorban demi relasi
         Berkorban tidak sama dengan mengalah. Berkorban didasari oleh kesadaran dan kebebasan demi nilai yang lebih tinggi. Setelah anda berdebat sengit dengan pasangan dan pendapat anda yang akhirnya menang, namun anda tahu sebenarnya pasangan terluka karenanya. Masalah memang sudah terpecahkan, namun suasana tetap tegang dan tidak nyaman. Buanglah kemenangan anda dan beri perhatian pada pasangan. Untuk sementara tak perlu membicarakan masalah yang baru saja diperdebatakan, tunggu sampai pasangan mampu untuk mengatasi perasaannya.    
5.      Menikmati kesukaan berdua
         Untuk mencairkan relasi yang dingin karena suasana yang masih kaku akibat pertengkaran atau perbedaan pendapat, anda salah satu pasangan harussssslah memulai hubungan dengan melakukan kegiatan berdua yang bisaa anda lakukan. Misalnya, jalan-jalan, makan di luar, dan lain sebagainya, yaitu kebisaaan-kebisaaan yang anda lakuakan berdua selama ini tunjukan bahwa anda merindukan saat-saat kebersaan semacam itu, anda sangat membutuhkan pasangan. Dalam pertengkaran yang paling terluka adalah harga diri maka cara-cara ini bisa memulihkan harga diri. 
6.      Tegaskan bahwa anda mencintainya 
         Hal yang biasa jika orang begitu gampang mengungkapkan cinta baik secara verbal maupun secara nonverbal pada saat relasi sedang hangat, padahal justru pada saat-saat sulitlah orang sangat membutuhkan ungkapan cinta. Disinilah pasangan  ditantang bahwa cinta bukan sekedar perasaan, melainkan komitmen yang terusmenerus harus ditegaskan khususnya pada saat masa-masa sulit. “inilah saatnya aku lebih mencintai pasanganku.”
7.      Tegaskan bahwa pasangan kita  lebih penting daripada apapun 
         Tunjukan bahwa anda lebih mementingkan pasangan daripada apapun pertengkaran atau ketegangan setiap saat bisa terjadi, namun cinta anda terhadap pasanagan tidak boleh terhalang karenanya. Lupakan sementara persoalan yang membuat relasi terganggu, mulailah dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan pasanagan. Seringkali dalam relasi yang hangat, persoalan bisa dengan mudah dipecahkan.
8.      Ungkapkan maaf secara verbal
         Seringkali orang sulit meminta maaf, apalagi kalau merasa pendapatnya benar. Tidak perduli apakah pendapatnya benar atau salah, yang jelas relasi terganggu. Kesalahan bukan pada pendapat melainkan kenyataan bahwa pendapat itu “merusak” relasi maka pantaslah meminta maaf. Katakana secara verbal tanpa alasan, “maafkan aku.” Kata maaf sering tidak tulus, maka disertai keterangan. 
9.      Ungkapkan maaf secara non verbal
         Di samping ungkapan maaf tulus secara verbal kata maaf juga diungkapkan secara nonverbal melalui pelukan atau rangkulan. Dengan demikian, jarak yang tercipta bisa dihilangkan melalui kontak fisik yang kongkrit terasakan. Pelukan yang hangat dan cukup lama akan memecahkan kebekuan dan mengalirkan daya kemesraan seolah-olah anda berkata “jangan biarkan aku kesepian tanpa dirimu.”
10.        Memaafkan itu menyembuhkan
         Ketika anda terluka oleh pasangan jangan anda mencari penyembuhan di luar diri anda dan pasangan karena obatnya hanya dapat diperoleh dalam relasi. Memaafkan berarti anda menyembuhkan diri sendiri, sekaligus memberi kesempatan pasangan untuk memasuki diri anda kembali. Sebaliknya menyimpan dendam berarti membiarkan luka itu semakin terinfeksi dan menggerogoti diri anda.[24]
Tidak ada konflik yang tidak bisa diselesaikan, semua itu tergantung dari pasangan yang berkonflik itu sendiri. Mudah diselesaikan kalau mereka tidak keras kepala dan mau tunduk di bawah firman Tuhan. Waktu dan kata-kata yang tepat termasuk hal yang bisa mempercepat penyelesaian konflik.. pasangan katolik haruslah selalu ingat firman tuhan :Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak, ” (Amsal 25 : 11 ).
 
 


[1] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Perjanjian Lama, Jakarta: 1992,hlm. 11-12
[2] Warren W. Wiersbe, Hikmat Di Dalam Kristus, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993, hlm.91
[3] Romo Antonius Dwi Joko, Pr, Paham Perkawinan Menurut  Kitab Hukum Kanonik 1983, http://yesaya.indocell.net/id814.htm, (17/12/2006).
[4] Leanne Bell, Sebelum Anda Memutuskan Untuk  Menikah (What A Marriage Is),  Jogjakarta , Zenith Publisher 2004. hlm.1
[5] F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr, Bergandengan Tangan Menuju Altar Tuhan , Yogyakarta Yayasan Pustaka Nusatama 2006 hlm.38-40.

[6] Romo Antonius Dwi Joko, Ibid.  http://yesaya.indocell.net/id814.htm, (17/12/2006)
[7] F.X. Didik Bagiyowinadi, Ibid. hlm. 36.
[8] F.X. Didik Bagiyowinadi, Ibid. hlm. 75-83
[9] Warren W. Wiersbe, Ibid. hlm.91
[10] Lembaga Alkitab Indonesia, Ibid. hlm. 11-12
[11]Thomas P. Rausch, Katolisme Teologi Bagi Kaum Awam, (Yogyakarta: Kanisius, 2001) hlm.12
[12] Dorothy I. Max, Itu Kan Boleh ?  (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1997 ) hlm.54
[13] Lembaga Alkitab Indonesia, Ibid. hlm. 11-12
[14] F.X. Didik Bagiyowinadi, Ibid. hlm.38-40.
[15] Leanne Bell, Ibid. hlm.106.
[16] Billy Graham, Buku Pegangan Pelayanan, Persekutuan Pembaca Alkitab, 1993: Topik 17684) hlm.200-201. 
[17] Pdt. Dr. Judhianto Winoto, manajemem konflik? Mungkinkah…www.bethanygraha.org is owned by Gereja Bethany Indonesia (5/12/2006)

[18] Pdt. Dr. Judhianto Winoto, Ibid.  (5/12/2006)

[19] Pdt. Dr. Judhianto Winoto, Ibid.  (5/12/2006)
[20] Subuiyanto, Komunikasi Suami Istri, Jakarta PT. Gramedia Pustaka Utama, th. 2003, hlm.133-169.
[21] Tim Lahaye, Ketika Anda Merasa Salah Memilih Pasangan, Yogyakarta, Harvest Hous Publiser, 2000. hlm.273
[22] Tim Lahaye, Ibid. hlm.319.
[23] Tim Lahaye, Ibid. hlm. 337
[24] Paulus Subiyanto, Ibid. hlm.175-211.

Kebijakan Admin

Kebijakan Admin
Powered by Blogger.