Search

Memuat...

RELEVANSI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH MENENGAH UMUM (SMU) DENGAN PENGEMBANGAN RELIGIUSITAS SISWA

A.    LATAR BELAKANG
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 menetapkan asas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebagai asas pertama pembangunan nasional. Dengan asas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tersebut, segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebagai nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral dan etik dalam rangka pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.[1]
Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Bab II Pasal 4 disebutkan bahwa, Pendidikan Nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.[2] Dan dalam Pasal 39 ayat 2 UUSPN disebutkan juga, bahwa isi setiap kurikulum, setiap jenis, setiap jalur dan setiap jenjang pendidikan wajib memuat:

a.    Pendidikan Pancasila
b.    Pendidikan Agama
c.    Pendidikan Kewarganegaraan.[3]
Di dalam penjelasannya, yaitu pasal 39 ayat 2 diatas, disebutkan bahwa, “Pendidikan Agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional”.[4]
Dengan dicantumkanya kata-kata keimanan dan ketaqwaan dalam asas pertama pembangunan nasional dan dalam tujuan pendidikan nasional diatas, menunjukkan bahwa keimanan dan ketaqwaan merupakan ciri utama kualitas manusia Indonesia, disamping ciri-ciri kualitas yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak bisa menafikan keberadaan agama Islam. Karena konsep ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebenarnya berasal dari ajaran Islam, begitu pula dengan budi pekerti dalam tujuan tersebut, tidak lain juga harus sesuai dengan kriteria akhlaqul islami.[5] Oleh karena itu, hendaknya Pendidikan Agama Islam (PAI) ditujukan kearah tercapainya keserasian dan keseimbangan pertumbuhan pribadi yang utuh lewat berbagai latihan yang menyangkut kejiwaan, intelektual, akal, perasaan dan indera.[6]
Disamping itu, berdasarkan Pasal 39 ayat 2 diatas, menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan mata pelajaran atau bidang studi yang wajib diajarkan dalam setiap kurikulum, jenis, jalur dan jenjang pendidikan. Dengan demikian sudah menjadi keputusan sistemik di Indonesia bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum, merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Karena sudah ada ketentuan hukum yang secara tegas menjamin dan mewajibkan adanya Pendidikan Agama Islam (PAI) di setiap jalur dan jenjang pendidikan. Hal ini menunjukkan eksistensi Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum sudah sangat kokoh dan prospek masa depan dari pendidikan Agama Islam (PAI) sangat cerah.
Berdasarkan hal-hal yang telah disebutkan diatas, dilihat dari latar belakang dasar hukum, Pendidikan Agama Islam (PAI), sudah menjadi kesepakatan nasional, akan tetapi dilihat dari teknik penyelenggaraan pendidikan dan kegiatan proses belajar mengajarnya, kedudukan Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya merupakan satu bidang studi atau mata pelajaran yang dalam beberapa kasus, peranannya tidak termasuk komponen yang menentukan indeks prestasi peserta didik. Disamping itu, masih banyak lagi permasalahan yang dihadapi Pendidikan Agama Islam (PAI), sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Ludjito, bahwa permasalahan yang dihadapi Pendidikan Agama Islam (PAI) antara lain: kurangnya jumlah jam pelajaran, metodologi pendidikan agama yang kurang tepat, adanya dikotomi pendidikan, heteroginitas pengetahuan dang penghayatan agama peserta didik, serta perhatian dan kepedulian pimpinan sekolah dan guru-guru yang lain.[7]
Disamping permasalahan dalam hal pelaksanaan tersebut, ada hal lain yang menjadi realitas dalam masyarakat Indonesia saat ini, yaitu masih banyak ditemukan “out put” dari Sekolah Menengah Umum (SMU) yang belum mampu membaca, menulis, apalagi mengartikan ayat-ayat suci al-Qur’an. Kemudian tingginya frekuensi perkelahian antar pelajar (tawuran), pelajar yang menkonsumsi narkoba, pergaulan bebas dan masih banyak lagi kasus-kasus kriminal yang melibatkan pelajar. Pada hakikatnya kasus-kasus tersebut tidak bisa secara general sebagai bentuk kegagalan dari pendidikan di sekolah, khususnya pendidikan agama. Karena proses pendidikan, khususnya pendidikan moral, merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.
Banyak faktor lain yang lebih dominan dalam pembentukan moral, watak atau perilaku mereka, terutama faktor pergaulan di lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga. Sebagaimana dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa proses pendidikan berlangsung dalam tiga lingkungan, yaitu: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Hal tersebut dikenal dengan istilah “Tri Pusat Pendidikan”.[8] Ketiga lingkungan pendidikan ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling berkaitan dan sama-sama bertanggung jawab dalam masalah pendidikan anak didik. Karena ketiga-tiganya satu rangkaian dari tahapan-tahapan pendidikan yang tidak terpisahkan.
Menggeneralisasikan bahwa terjadinya kasus-kasus kriminal yang dilakukan pelajar merupakan bentuk kegagalan atau kesalahan pendidikan di sekolah, khususnya pendidikan agama, merupakan sikap yang tidak adil. Karena membebankan pembinaan IMTAQ hanya pada pendidikan agama, berarti mengingkari keberadaan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai subsistem yang integral dari pendidikan nasional, yang berorientasi pada kurikulum yang harus berjalan bersama dan saling terkait. Sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hadjar, bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu subjek pelajaran yang bersama-sama dengan subjek studi yang lain, dimaksudkan untuk membentuk manusia yang utuh.[9] Begitu juga dengan yang diungkapkan Achmadi, bahwa pendidikan Islam berfungsi strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam berbagai disiplin ilmu yang dipelajari oleh subjek didik.[10]
Terlepas siapa yang salah dalam Sistem Pendidikan Nasional ini, namun kenyataanya dalam kehidupan keberagamaan selama ini, agama belum mampu menampilkan perannya sebagai faktor sublimatif (mensucikan dan menjadikan ikhlas segala amal perbuatan dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT) dan sebagai faktor integratif (menciptakan kebersamaan dan kedamaian dalam masyarakat). Disinilah perlunya mengkaji dan menelaah kembali kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI), apakah kurikulum PAI sudah dapat menempatkan dirinya tidak hanya secara terpisah sebagai salah satu bidang studi, tetapi sebagai bagian yang integral dari seluruh bidang studi yang ada. Bahkan, diharapkan posisi Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum mampu mendasari bidang-bidang studi yang lain.[11] Sehingga pendidikan tidak hanya mampu mencetak kader –kader intelektual semata, tetapi juga mampu mencetak kader-kader intelektual yang beriman dan bertaqwa (bereligius), yang berimbas pada perilaku sosialnya dalam mengembangkan intelektual. Karena keimanan dan ketaqwaan merupakan landasan untuk mengembangkan teknologi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Muslih Usa dan Aden Wijdan SZ., bahwa aspek pengembangan imtaq akan mampu mengembangkan iptek, yang belum secara meyakinkan termuat dalam peran dan proses pendidikan di Indonesia pada umumnya.[12]
Pada hakikatnya, sikap religius tidak hanya berkisar pada dataran aktifitas ritual, tetapi juga aktifitas-aktifitas yang lain. Karena ajaran Islam bukan hanya menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya (ibadah ritual), tetapi juga menjadi pedoman hidup yang mencakup segenap aspek kehidupan pribadi dan masyarakat (komprehensif).[13] HAR. Gibb, menyatakan bahwa, “Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization”  (Islam sesungguhnya lebih luas dari hanya suatu sistem atau ajaran ketuhanan. Dia merupakan kebudayaan yang lengkap).[14] Dengan demikian, dalam agama Islam, keberagamaan seseorang harus mempunyai komitmen dan usaha-usaha, yang menurut istilah sekarang, keberagamaan hendaknya menegaskan keadilan sosial.[15] Melaksanakan aktifitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keberagamaan yang benar. Oleh karena itu, sebagai wujud aktifitas keagamaan, perlu adanya aktualisasi diri dalam tindakan-tindakan yang bersifat sosial. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat al-Ma’uun:






Artinya : “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong) dengan barang yang berguna”. (QS. Al-Ma’uun: 1-7).[16]

Pendidikan Islam (termasuk Pendidikan Agama Islam), merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan dan mengarahkan anak didik supaya menjadi manusia masa depan yang bereligius, dengan cara menjadikan anak didik tersebut sebagai manusia yang lebih lengkap dalam dimensi religiusnya. Karena Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan bagian integral dari Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan Agama Islam (PAI) secara esensial mempunyai tugas pokok untuk menggali, menganalisa dan mengembangkan serta mengenalkan ajaran Islam  yang bersumber pada al-Qur’an dan hadits, karena pada hakikatnya dalam al-Qur’an dan hadits memuat dasar-dasar dari segala teknologi. Dari sinilah Pendidikan Agama Islam (PAI) dituntut untuk dapat menerapkan pendekatan dan orientasi baru yang relevan dengan kondisi kekinian, dengan tidak mengabaikan nilai-nilai ajaran Islam.
Untuk mengetahui lebih jauh, apakah Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Umum (SMU) pada saat ini sudah relevan dengan tuntutan masyarakat untuk mampu menumbuhkembangkan sikap religius pada anak didiknya, maka dalam skripsi ini penulis mengadakan penelitian dengan “library research” atau penelitian kepustakaan, dengan menggunakan judul, ”RELEVANSI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH MENENGAH UMUM (SMU) DENGAN PENGEMBANGAN RELIGIUSITAS SISWA”.

B.     PENEGASAN ISTILAH

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami makna dalam skripsi ini, penulis akan membatasi pengertian beberapa istilah yang digunakan, yaitu sebagai berikut:
1.    Relevansi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, relevansi mempunyai arti, “hubungan atau kaitan”.[17]  Dalam dunia pendidikan, relevansi mempunyai maksud adanya kesesuaian antara hasil pendidikan (lulusan sekolah) dengan tuntutan kehidupan yang ada di masyarakat.[18] Yang penulis maksud adalah kesesuaian atau kaitan dari Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan pengembangan religiusitas siswa.
2.    Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kurikulum diartikan sebagai perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan.[19] Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan sebutan yang diberikan pada salah satu subjek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa Muslim dalam menyelesaikan pendidikannya pada tingkat tertentu. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum suatu sekolah, sehingga merupakan alat untuk mencapai salah satu aspek tujuan sekolah yang bersangkutan. Karena itu, subjek ini diharapkan dapat memberi keseimbangan dalam kehidupan anak kelak, yakni manusia yang memiliki “kualifikasi” tertentu, tetapi tidak lepas dari nilai-nilai agama Islam.[20] Berdasarkan UUSPN Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 39, Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu bidang studi pendidikan yang menjadi kurikulum wajib bagi setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan, disamping pendidikan Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan.[21] Dengan demikian, Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan semua pengetahuan, aktifitas-aktifitas (kegiatan-kegiatan) dan pengalaman-pengalaman serta nilai-nilai atau norma-norma dan sikap yang dengan sengaja dan sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam suatu lembaga pendidikan, dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Yang penulis maksud adalah Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Umum (SMU) berdasarkan kurikulum 1994. Karena luasnya kajian tentang kurikulum, maka dalam skripsi ini penulis membatasi atau memfokuskan pada sisi materi, dari kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU).
3.    Sekolah Menengah Umum (SMU)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekolah diartikan sebagai bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatnya).[22] Tingkatan atau jenjang dalam sekolah umum meliputi: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU). Dan dalam skripsi ini penulis fokuskan pada jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU).
4.    Pengembangan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “pengembangan” mempunyai makna proses, cara, perbuatan mengembangkan.[23] Yang penulis maksud dalam skripsi ini adalah suatu proses mengembangkan sikap religius pada siswa. Penggunaan istilah “pengembangan” ini, dikarenakan keyakinan terhadap agama sudah menjadi fitrah pada diri manusia. Fitrah manusia yang dibawa sejak lahir adalah keyakinan akan adanya Tuhan.
5.    Religiusitas
Religiusitas berasal dari bahasa Inggris, dari kata “Religion”,yang berarti agama.[24] Sehingga , Religiusitas dapat diartikan sebagai keberagamaan. Religiusitas dalam skripsi ini adalah religiusitas Islam. Dimana Islam mempunyai arti menyerah penuh (total submission), yakni kepada petunjuk dan peraturan Allah,[25] atau dapat dikatakan Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya, untuk diajarkan kepada manusia. Jadi religiusitas Islam yang penulis maksudkan adalah religiusitas sesuai dengan apa yang diajarkan Allah dan rasul-Nya. Dengan kata lain, religiusitas Islam adalah keberagamaan dalam Islam. Dari pengertian istilah-istilah tersebut, penulis dapat menegaskan bahwa dari judul yang penulis ajukan, penulis ingin mengetahui relevansi atau kesesuaian atau kaitan dari Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU), dengan pengembangan religiusitas pada siswa.
C.     PERMASALAHAN
Sesuai dengan judul dan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah Deskripsi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) ?
2.    Bagaimanakah relevansi dari Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan pengembangan religiusitas pada siswa ?

D.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah:
1.    Untuk mengetahui deskripsi dari Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU), berdasarkan kurikulum 1994.
2.    Untuk mengetahui relevansi dari Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan pengembangan religiusitas siswa.

E.     METODE PENULISAN
1.    Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini, penulis mengadakan riset kepustakaan atau “Library Research”, yaitu penelitian yang didasarkan atas pengumpulan data yang tersedia dalam literatur kepustakaan.
Dari penelitian kepustakaan tersebut, diperoleh dua sumber data, yaitu; sumber data primer dan sumber data skunder. Yang dimaksud sumber data primer dalam skripsi ini adalah buku kurikulum / GBPP Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) Tahun 1994. Sedangkan sumber data sekunder adalah buku-buku, bahan-bahan atau karangan-karangan ilmiah lain yang isinya dapat dijadikan pelengkap.
Metode ini digunakan untuk mendapatkan data dalam menyusun teori sebagai landasan ilmiah dengan mengkaji dan menelaah dari Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) tahun 1994, buku-buku tentang religiusitas dan buku-buku lain yang menunjang.    
2.      Fokus penelitian
Yang menjadi fokus penelitian adalah semua variabel atau cakupan yang mendukung dan ada kaitanya dengan tujuan penelitian. Adapun fokus dari penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
a)         Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU).
Yang mencakup pengertian kurikulum dan deskripsi dari kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU), yang meliputi unsur pokok keimanan, unsur pokok ibadah, unsur pokok al-Qur’an, unsur pokok akhlak, unsur pokok mu’amalah, unsur pokok syari’ah dan unsur pokok tarikh.
b)        Religiusitas
Yang mencakup tinjauan umum tentang religiusitas dan dimensi-dimensi religiusitas yang meliputi dimensi keyakinan, dimensi praktek agama, dimensi pengalaman agama, dimensi  pengetahuan agama, dan dimensi konsekuensi.
3.    Metode Analisis Data
Dalam membahas dan menelaah data, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
a)    Deduktif dan Induktif
Metode deduktif adalah cara atau jalan yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah, dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat umum, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.[26] Sedangkan metode induktif adalah suatu cara atau jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah-masalah yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.[27] Metode ini penulis gunakan dalam membahas tentang deskripsi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) dan tentang religiusitas.
b)   Interpretasi
Yang dimaksud dengan interpretasi adalah dengan cara menyelami isi buku, untuk ditangkap arti dan nuansa uraian yang disajikanya.[28] Metode ini penulis gunakan dalam memahami maksud yang terkandung dalam buku dan menetapkan inti pikiran penulis dan topik sentral yang ada dalam buku tersebut.
c)    Analisis
Analisis adalah melakukan pemeriksaan secara konsepsional atas suatu pernyataan, sehingga dapat memperoleh kejelasan arti yang terkandung dalam pernyataan tersebut.[29] Penulis menggunakanya untuk menganalisis tentang relevansi antara Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) berdasarkah kurikulum 1994 dengan religiusitas.
    
F.     SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang skripsi ini, penulis menyusunya dengan sistematika sebagai berikut:
1)        Bagian Muka Sripsi.
Berisikan : halaman judul, nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
2)        Bagian Isi / Tengah Skripsi
BAB I     : Pendahuluan, berisikan tentang latar belakang, penegasan judul atau istilah, permasalahan, tujuan penulisan, sifat dan metode penulisan skripsi dan sistematika penulisan skripsi.
 BAB II : Bab ini akan membahas tentang DeskripsiKurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU), yang mencakup : pengertian kurikulum dan deskripsi kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU), yang meliputi: unsur pokok keimanan, ibadah, al-Qur’an, akhlak, mu’amalah, syari’ah dan tarikh.
BAB III :  Bab ini akan membahas tentang tinjauan umum tentang religiusitas, yang meliputi: pengertian religiusitas dan dimensi-dimensi religiusitas (dimensi keyakinan, praktek agama, dimensi pengalaman, dimensi pengetahuan agama dan dimensi konsekuensi.
BAB IV   :  Bab ini akan membahas tentang relevansi dari kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan pengembangan religiusitas siswa, yang meliputi: relevansi kurikulum Pendidikan Agama Islam dengan dimensi keyaklinan, dengan dimensi praktek agama, dengan dimensi pengalaman, dengan dimensi pengetahuan agama dan dengan dimensi konsekuensi.
BAB  V      : Berisikan Kesimpulan, Saran dan Penutup.
3)        Bagian Akhir Skripsi
Bagian akhir skripsi ini berisikan, daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat hidup penulis.





[1] Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, CV. Amisco, Jakarta, 1997/1998, hal. 77.
[2] Departemen Agama RI., Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tentang Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1991, hal. 4.
[3] Ibid, hal. 16.
[4] Ibid, hal. 41.
[5] Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992, hal. 102.
[6] Prof. Drs. H. Ahmad Ludjito, Pendekatan Integralistik Pendidikan Agama Pada Sekolah di Indonesia, dalam buku Drs. H.M. Chabib Thoha, M.A.,dkk. (penyunting), Reformulasi Filsafat Pendidikan Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, Yogyakarta, 1996, hal. 299.
[7] Prof. Dr. H. Ahmad Ludjito, Pendidikan Agama Sebagai Subsistem dan Implementasinya Dalam Pendidikan Nasional, dalam buku Chabib Thoha dan Abdul Mu’ti (penyunting), PBM-PAI  di Sekolah (Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam), Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, yogyakarta, 1998, hal. 5.
[8] Dr. dr. Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren (Pendidikan Alternatif Masa Depan), Gema Insani Press, Jakarta, 1997, hal. 21.
[9] Ibnu Hadjar, Pendekatan Keberagamaan Dalam Pemilihan Metode Pengajaran Pendidikan Agama Islam, dalam buku Chabib Thoha, dkk., (tim perumus), Metodologi Pengajaran Agama, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, hal. 4.
[10] Achmadi, Op. Cit., hal. 103.
[11] Prof. H.M. Arifin, M. Ed., Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Bumi Aksara, Jakarta, hal. 91.
[12] Muslih Usa dan Aden Wijdan SZ. (penyunting), Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, Aditya Media bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, 1997, hal. 4.
[13] Dr. Bustanuddin Agus, M.A., Al-Islam (Buku Pedoman Kuliah Mahasiswa Mata Ajaran Pendidikan Agama Islam), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hal. 67.
[14] Ibid., hal. 67.
[15] Nurcholish Madjid, Masalah Simbol dan Simbolisme Dalam Ekspresi Keagamaan, dalam buku Budhy Munawar Rachman, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995, hal. 451.
[16] Departemen Agama RI.,  Al-Qur’an  dan  Terjemahnya,  Toha  Putra,  Semarang,  1989, hal. 1108.
[17] Depdikbud., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Edisi Kedua, cetakan ketiga, 1994, hal. 374.
[18] Burhan Nurgiyantoro, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah (sebuah pengantar teoritis dan pelaksanaan), BPFE, Yogyakarta, 1998, hal. 150.
[19] Depdikbud.,Op. Cit., hal. 546.
[20] Ibnu Hadjar, dalam buku Chabib Thoha, Op. Cit., hlm. 4.
[21] Departemen Agama RI., Op. Cit., hal. 17.
[22] Depdikbud, Op.Cit., hal. 892.
[23] Ibid., hal. 473.
[24] Johns M. Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta, 1992, hal. 476.
[25] Dr.Bustanuddin Agus, M.A., Op. Cit., hal. 59.
[26] Ibid., hal 58.
[27] Ibid., hal. 57.
[28] Drs. Sudarto, Metodologi  penelitian Filsafat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hal. 103.
[29] Drs. Sudarto, Op. Cit., hal 60.

Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2011. PERAHU JAGAD . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by PUBLIK KASIH . Published by Tikus Templates