Wednesday, 13 June 2012

A.    Latar Belakang Masalah
Di antara Ibadat Islam, shalatlah yang membawa manusia terdekat kepada Tuhan. Di dalamnya terdapat dialog antara manusia dengan Tuhan dan dialog, berlaku antara dua pihak yang saling berhadapan.[1] Sedangkan untuk melaksanakan shalat, orang harus suci baik dari hadats besar maupun dari hadats kecil. Apabila ia berhadats, ketika akan shalat, terlebih dahulu harus bersuci guna menghilangkan hadatsnya. Untuk menghilangkan hadats kecil adalah dengan wudlu dan bila ada udzur yang dibenarkan syara, maka orang boleh tayammum. Syarat ini di dasarkan kepada firman Allah dalam al-Qur'an surat (5) al-Maidah ayat 6 :
 


Artinya : …  dan  jika kamu dalam perjalanan atau kembali dari tempat  buang  air  (kakus)  atau  menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempunakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.[2]

Dalam ayat di atas ada kata “tayammum”. Perkataan itu menjadi indikator bahwa dalam Islam manusia diberi keringanan dalam menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Keringanan itu tentunya dengan syarat antara lain telah masuk waktu shalat; tidak mendapatkan air setelah berupaya maksimal mencarinya; berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit, apabila menggunakan air bertambah parah penyakitnya dan dengan tanah suci dan berdebu.[3]
Yang menjadi masalah, apakah boleh satu kah tayammum digunakan untuk beberapa kali shalat, baik shalat fardlu maupun sunnat. Terhadap hal itu terjadi khilafiah di kalangan ulama. Pendapat yang satu menganggap, satu kali tayammum boleh dipakai untuk beberapa kali shalat, baik shalat fardlu ataupun sunnah. Kekuatannya sama dengan wudlu, karena tayammum itu pengganti wudlu bagi orang yang tidak dapat memakai air. Jadi, hukumnya sama dengan wudlu. Yang lain berpendapat, satu kali tayammum hanya sah untuk satu kali shalat fardlu dan beberapa shalat sunnah.

 Perbedaan pendapat tersebut, akan tampak jelas jika merujuk pada hadits yang menegaskan :
وعن ابن عباس رض الله تعالى عنه قال: من السنة أن لا يصلى الرجل بالتيمم، إلا صلاة واحدة، ثم يتيمم للصلاة الاخرى. (رواه الدارقطنى)
Artinya : Ibnu Abbas r.a berkata: menurut sunnah, tidak boleh seseorang shalat dengan satu tayammum, selain dari satu shalat saja, kemudian la bertayammum lagi untuk shalat lain (HR. Ad-Daruquthni).[4]


Terhadap keterangan hadits di atas, muncul berbagal interpretasi yang berbeda di kalangan ulama dan para pengikutnya. Namun sangat disayangkan, kenyataan yang terjadi di masyarakat terhadap polarisasi yang berbeda dipertentangkan, sehingga perlu adanya solusi yang bisa mengakomodir perbedaan itu. Dengan harapan firqah yang satu tidak menyalahkan yang lain sehingga tidak  sampai pada titik kulminasi merasa paling benar, seakan-akan ia pemilik otoritas satu-satunya dalam menterjemahkan suatu dalil. Keadaan inilah salah satu penyebab munculnya kesan bahwa fiqih Islam itu bersifat rigid dan hanya mempertahankan status quo yang out of date.
Dengan berpijak pada paparan sebagaimana di atas, maka yang diharapkan dari penulisan ini adalah dapat mengembalikan citra fiqih yang luwes dan penuh dengan keringanan konsisten dengan semangat al-Qur'an, sehingga nantinya masyarakat memperoleh kejelasan bahwa fiqih Islam bukanlah harga mati  karena  ada bagian-bagian  yang merupakan resultansi dari pemikiran manusia yang kemudian kita sebut ijtihad. Dan ijtihad  itu  sebagai   sebuah penafsiran harus dipahami bisa benar dan boleh jadi salah.
Adapun pentingnya masalah tersebut diteliti, yaitu untuk dicari pemecahannya karena amat berbahaya bila dibiarkan tanpa solusi yang jelas. Selain itu masalah tersebut menarik minat penulis, karena dari pengalamannya penulis mendapat gambaran bahwa hal itu sangat menarik dan sepanjang pengetahuan penulis belum ada orang yang meneliti masalah tersebut. Atas dasar keterangan itulah yang menjadi latar belakang mengangkat masalah di atas dengan judul : “STUDI ANALISIS PENDAPAT TM. HASBI ASH SHIDDIEQY TENTANG BOLEHNYA MENGERJAKAN DUA SHALAT FARDLU DENGAN SATU KALI TAYAM MUM”.

B.     Permasalahan

Permasalahan  merupakan  upaya  untuk  menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya.[5] Bertitik tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan:
1.      Bagaimana pendapat TM. Hasbi Ash Shiddieqy tentang mengerjakan shalat fardlu dengan satu kali tayammum?
2.      Bagaimana pendapat para Ulama terhadap orang yang mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu kali tayammum?
3.      Apakah yang menjadi metode i.stimbatb hukurn TM. Hasbi Ash Shiddieqy?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan skripsi sebagal berikut:
1.      Untuk mengetahui pendapat TM. Hasbi Ash Shiddieqy tentang mengerjakan shalat fardlu dengan satu kali tayammum.
2.      Untuk mengetahui pendapat para ulama terhadap orang yang mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu kali tayammum.
3.      Untuk mengetahui metode istimbath hukum TM. Hasbi Ash Shiddieqy.

D.    Telaah Pustaka

Menurut Sayyid Sabiq dalam kitabnya,
تعريفة : المعنى اللغوي للتيمم : القصد. و الشرعي : القصد إلى الصعيد، لمسح الوجه واليدين، بنية استباحة الصلا ة ونحوها


Artinya : Menurut ta’rifnya, tayammum berarti menyengaja; sedangkan menurut syara ialah menyengaja tanah untuk menyapu muka dan kedua tangan dengan niat untuk dapat melakukan shalat dan lain-lain.[6]

Tayammum dengan tegas disyari’atkan berdasarkan al-Qur'an, as-Sunnah dan aI-Ijma’. Dalam al-Qur’an Allah berfirman :

                           ……….   



Artinya :Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musyafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (Q.S. an-Nisa', ayat 43)[7]

Mengenai as-sunnah ialah berdasarkan hadits Abu Umamah r.a.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: جعلت الارض كلها لى ولامتى  مسجدا وطهورا. فأ ينماادركت رجلا من أمتى الصلاة فعنده طهوره. (رواه أحمد) 
Artinya : Bahwa Rasulullah SAW bersabda: seluruh bumi dijadikan bagiku dan bagi umatku sebagai masjid dan alat bersuci. Maka di mana juga shalat itu menemui salah seorang di antara umatku dengan di sisinya terdapat alat untuk bersuci itu. (HR. Ahmad)[8]

Adapun ijima’ ialah karena kaum muslimin telah mencapai kesepakatan bahwa tayammum itu disyariatkan sebagai ganti wudlu dan mandi pada hal-hal tertentu.[9]
Dalam konteksnya dengan tayammum, masalah yang muncul sebagaimana telah diungkapkan dalam latar belakang yaitu seputar boleh tidaknya menggunakan satu kali tayammum untuk lebih dari shalat fardlu. Imam Syafi’i termasuk ulama yang tidak memperkenankan satu kali tayammum digunakan untuk lebih dari satu shalat fardlu. Dalam kitabnya ia menegaskan :
Kalau bermaksud mengumpulkan antara dua shalat, maka ia mengerjakan shalat yang pertama dari keduanya dan mencari air. Kalau tidak diperolehnya air itu, niscaya ia mengulangi tayammum bagi setiap shalat dari padanya, sebagaimana telah saya terangkan. Tidak memadai yang lain dari yang demikian. Kalau ia mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu tayammum, niscaya ia ulangi shalat yang penghabisan dari keduanya. Karena tayammum itu memadai bagi shalat pertama dan tidak memadai bagi shalat yang penghabisan.[10]
Pendapat Imam Syafi’i tidak berbeda dengan pendapat Imam Malik, di mana menurutnya tidak boleh shalat dua fardlu dengan satu tayammum. Demikian pula kata Ibnu Qudamah:  menurut madzab Ahmad, satu tayammum itu tidak boleh dipergunakan untuk dua shalat di dua waktu. Satu tayammum, untuk satu Fardlu, shalat yang diqodla dan shalat sunnah hingga masuk waktu shalat yang lain. Dan boleh juga untuk menjamakkan dua shalat dalam satu waktu. Kata al-Mawardi : tidak boleh mengumpulkan dua shalat dengan satu tayammum. Berbeda dengan pendapat tersebut adalah pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyah, menurutnya tidak ada keterangan dari Nabi SAW yang menyatakan bahwa beliau itu bertayammum untuk tiap-tiap shalat, dan tidak pula beliau menyuruh yang demikian. Nabi SAW hanya menyuruh bertayammum dan menyamakan hukumnya dengan wudlu.
TM. Hasbi Ash Shiddieqy menyatakan dasar hukum dalam masalah ini adalah tanah itu berdiri dengan di tempat air. Apabila seseorang berwudlu, maka boleh shalat seberapa yang dikehendakinya. Maka demikian pula dengan tayammum sebelum datangnya hadats. Selanjutnya TM. Hasbi Ash Shiddieqy menyatakan pendapat yang menyatakan bahwa satu kali tayammum bisa digunakan untuk dua shalat fardlu adalah pendapat yang diamalkan oleh sebagian ahli-ahli hadits, dan inilah yang lebih kuat menurut dalil, dernikian pula pendapat madzhab Abu Hanifiah, Supiyan, al.-Laits, dan Daud.[11]
Adapun beberapa kepustakaan lain  yang ada hubungannya dengan judul di atas, telah diinventarisir oleh penulis antara lain: buku-buku TM. Hasbi Ash Shiddieqy di antaranya: Hukum-Hukum F1qh Islam; Pengantar Hukum Islam; Syariat Islam, Menjawab Tantangan Zaman;Pokok-Pokok Pegangan Imam-Imam Madzhab dalam Membina Hukum Islam; Koleksi Hadits-Hadits Hukum 1. Kitab dari pengarang lain, misalnya: Kifayat al- Akhyar, Juz 1; Ushul al-Fiqh; Sahih al-Bukhary, Juz 1; al-Mughni; Kitab al-Fiqh al-Majahib al-Arba’ah; Bidayah al-Mujtahid, Juz 1;  Sahih Muslim, Juz 1;  Juz I.; Subul al-Salam, Juz 1; Nail al-Autar, Juz 1.
Dari berbagai buku yang telah penulis baca, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan para ulama membolehkan satu kali tayammum dipergunakan untuk lebih dari satu shalat fardlu.

E.     Metode Penulisan

Metode penulisan skripsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut :[12]
1.      Sumber Data Terdiri Dari
a.       Data Primer,[13] yaitu  buku-buku karya TM. Hasbi Ash Shiddieqy, yang berhubungan langsung dengan judul di atas. Dalam hubungan itu, penulis hendak mengungkapkan selayang pandang pemikiran TM. Hasbi Ash Shiddieqy dengan bertitik tolak   pada kurun waktu tahun 1359/1940, ketika itu Hasbi berumur 36 tahun, dalam polemiknya dengan Soekarno ia menulis:
Fiqih yang kita junjung tinggi ialah fiqih Qurisany dan fiqih Nabawi. Adapun  fiqih  ijtihady, maka senantiasa kita lakukan nadzar, senantiasa kita jalankan pemerikasaan dan boleh kita mengambil mana yang lebih cocok dengan nusa dan  bangsa kita.
Duapuluh satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 2 Rabiul Awal 1381/1961, dalam orasi ilmiyah yang berjudul “Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman” yang diucapkannya pada upacara peringatan Dies Natalis IAIN yang pertama, Hasbi berseru:
“maksud mempelajari syariat Islam di Universitas-universitas Islam sekarang ini, supaya fiqih/syari’at Islam dapat menampung seluruh kemaslahatan masyarakat dan dapat menjadi pendiri utama bagi pembangunan hukum di tanah air kita  yang tercinta ini. Maksud kita supaya dapat menyusun suatu fiqh yang berkepribadian kita sendiri.[14] 
b.      Sumber Sekunder, yaitu literatur lainnya yang mendukung judul di atas. Dari berbagai pemikiran para ulama tersebut, bahwa sebagian besar menganggap dibolehkannya satu kali tayamum dipergunakan untuk lebih dari satu shalat fardlu.
2.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi atau studi dokumenter[15] yaitu dengan meneliti sejumlah kepustakaan (library research), kemudian memilah-milahnya dengan memprioritaskan keunggulan pengarang.
3. Teknik Pengolahan Data
Mengolah data berarti menimbang, menyaring, mengatur dan mengklasifikasikan.[16] Maka dalam konteksnya dengan judul skripsi di atas, terhadap data-data yang bersifat dokumenter atau liberary research diperiksa kembali atau diteliti satu persatu (editing), kemudian data-data tersebut diberi tanda atau kode (koding). Teknik tersebut di maksudkan untuk menghasilkan data yang cukup reliabel dan valid
3.      Teknik Analisa Data
Dalam menganalisis data,[17] penulis menggunakan anallsis data kualitatif, yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung.[18] Sebagai pendekatannya, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu cara penulisan dengan mengutamakan pengamatan terhadap gejala, peristiwa dan kondisi aktual dimasa sekarang.[19]

F.     Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan yang berkorelasi.
Pertama :      Bab ini berisi pendahuluan, merupakan  gambaran umum secara global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah; pokok permasalahan; tujuan penulisan, telaah pustaka; metode penulisan; sistematika penulisan.
Kedua :        Berisi tinjauan umum tentang tayammum  yang meliputi: pengertian tayammum; syarat sahnya tayammum; beberapa alat yang boleh/tidak untuk tayammum; kedudukan tayammum sebagai pengganti wudlu;  hal-hal yang membatalkan tayamum.
Ketiga :        Bab ini berisi pendapat TM. Hasbi Ash Shiddiqi tentang bolehnya mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu kali tayammum yang meliputi; sekilas biografi TM. Hasbi Ash Shiddieqy; metode Istimbat hukum TM. Hasbi Ash Shiddieqy; pendapat TM. Hasbi Ash Shiddieqy  tentang bolehnya mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu kali tayamum.
Keempat :     Bab ini berisi menganalisis pendapat TM. Hasbi Ash Shiddieqy pertama, analisis metode istimbath hukum TM. Hasbi Ash Shiddieqy; kedua, analisis pendapat TM. Hasbi Ash Shiddieqy  tentang, bolehnya mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu kali tayammum.
Kelima :        Bab ini berisi penutup mliputi kesimpulan, saran dan penutup.



[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 17 Cet 5, UI Press, Jakarta, 1985, h1m. 37.
[2] DEPAG Rl. al-Qur'an dan Terjemahnya, Surya Cipata Aksara, Surabaya, 1993, hlm. 158.
[3] Imarn Abi Abdillah Muharnrnad bin Idris Al-Syafi'i, al-Umm, juz I., Dar al-Fikr, Beirut, tt, hlm. 62-63. Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz 1, Usaha Keluarga, Semarang, tt. hlm. 46.
[4] Al-Hafidz ibn Hajar M-Asqalani, Bulug al-Marram, Daar al-Kutub al-Ijtimaiyah, Bairut Libanon, tt, hlm. 28.
[5] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993, hlm. 312.
[6] Sayyid Sabiq, Fiqh aI-Sunnah, Juz 1, Maktabah Dar al-Turas, Kairo, tt, hlm. 76.
[7] DEPAG RI, Op. Cit, hlm. 125.
[8] Al-Imarn Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal asy-Syaibani al-Marwarzi, Musnad Ahmad, Jilid I. Tijiriyah Kubra, Kairo, tt, hlm. 82.
[9] Sayyid Sabiq, Op. Cit, hlm.  77.
[10] AI-Syafi’i, Op. Cit, hlm. 63.
[11] al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, Loc. Cit, hlm. 28. al-San’ani, Subul al-Salam, Juz 1, Dar Ihya al-Turas al-Islami, Kairo, 1960, hlm. 134, Ibnu Qudamah, al-Mughny, Juz I Daar al-Manar, Kairo, 1367, hlm. 270. at-Imam Ibnu Hasan, al-Muhalla, Juz 1, Daar al-Fikr. Bairut, tt, hlm. 208.
[12] Menurut Hadari Nawawi, metode penelitian atau metodologi research adalah ilmu yang memperbincangkan tentang metode-metode ilmiah dalam menggali kebenaran pengetahuan. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet. 5, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1991, hlm. 24.
[13] Menurut Winarno Surakhmad, data primer adalah data yang langsung yang segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan yang khusus itu, sedangkan data sekunder adalah data yang telah lebih dahulu dikumpulkan oleh orang diluar diri penyelidik sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli. Selanjutnya ia mengatakan sebuah sumber sekunder untuk penyelidikan tertentu dapat dijadikan sumber primer untuk penyelidikan yang lainnya. Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian-Penelitian Ilmiah, Dasar Metoda Teknik, Edisi 7, Tarsito, Bandung, 1989, hlm. 134-163.
14 TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Syariat Islam Menjawab Tantangan Zaman, IAIN, Yogyakarta, 1961, hlm. 41.
[15] Menurut Suharsimi Arikunto, metode dokumentasi. yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet. 12, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hlm. 206.
[16] Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Sosial, Cet. 5, Alumni, Bandung, 1986, hlm. 76.
[17] Menurut Moh. Nazir, Analisa adalah mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca. Moh. Nazir. Metode Penelitian, Cet. 4, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1999, hlm, 419.
[18] Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3. PT. Raja grafindo persada, Jakarta, 1995, hlm. 134. CF. Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kulitatif, Cet. 14, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2001, hlm. 2. Koencaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Cet. 14, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1970, hlm. 269.
[19] Wasty Soemanto, Pedoman Teknik Penulisan Skripsi, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hlm. 15., Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Cet. 30, Andi Yogyakarta, 2001, h1m. 3. M. Subana, Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, CV. Pustaka. Setia, Bandung, 2001, hlm. 89.
Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

0 komentar:

Post a Comment