The Portal's College, Student, Teacher, and Article of Education

Custom Search

Sunday, 17 June 2012

Tasawuf Amali Syekh Abdul Qadir al- Jailani (Studi Kritis Kitab Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilaihil- Abrar)

A.     Latar Belakang Masalah
Dewasa ini negara dan bangsa Indonesia sedang membangun untuk mewujudkan cita-cita suatu masyarakat adil dan makmur. Salah satu usaha untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah melakukan proses modernisasi  di berbagai lini kehidupan, termasuk dibidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun, ternyata modernisasi yang diterapkan tersebut membawa dampak yang kurang baik bagi kehidupan manusia sendiri, terutama di bidang spiritual.
Persoalan besar yang  muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme, ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas zaman dan karena itu spiritualisme menjadi suatu tema bagi kehidupan modern. Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya, sebagai dikutip Syafiq A. Mughni menyayangkan lahirnya keadaan ini sebagai The Plight Of Modern Man, nestapa orang-orang modern.[1]

Manusia modern dalam istilah Auguste Comte, peletak dasar aliran Positivisme sebagai dikutip Abdul Muhayya, adalah mereka yang sudah sampai  kepada tingkatan pemikiran positif. Pada tataran ini manusia sudah lepas dari pemikiran religius dan pemikiran filosofis yang masih global. Mereka telah sampai kepada pengetahuan yang rinci tentang sebab-sebab segala sesuatu yang  terjadi di alam semesta ini.[2]
Selanjutnya dalam buku yang sama, Abdul Muhayya menerangkan:
Ada dua pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab sebelum kita membahas peranan tasawuf di tengah krisis spiritual. Pertanyaan tersebut adalah:  kenapa krisis spiritual itu dapat menurunkan martabat manusia dan bahkan dapat mengancam peradaban dan eksistensi manusia itu sendiri? Kedua, mengapa manusia modern terkena penyakit krisis spiritual? Untuk menjawab pertanyaan pertama dibutuhkan penjelasan yang mendalam dan cermat tentang substansi manusia. Kedua, problema spiritualitas bagi manusia modern merupakan hal yang tidak mudah untuk dipecahkan begitu saja.[3]
 
Seiring dengan lepasnya pemikiran religius dan filosofis, manusia menyadari pentingnya aspek esoteris (batiniah) di samping aspek eksoteris (lahiriah). Namun kenyataan menunjukkan bahwa aspek esoteris tertinggal jauh di belakang kemajuan aspek eksoteris. Akibatnya orientasi manusia berubah menjadi kian materialistis, individualistis, dan keringnya aspek spiritualitas. Terjadilah iklim yang makin kompetitif yang pada gilirannya melahirkan manusia-manusia buas, kejam, dan tak berprikemanusiaan sebagai dikatakan Tomas Hobbes sebagaimana disitir oleh Nasruddin Razak, Homo Homini Lupus Bellum Omnium Contra Omnes (manusia menjadi srigala untuk manusia lainnya, berperang antara satu dengan lainnya).[4]
Pergeseran nilai sebagaimana diungkapkan di atas, mulai dirasakan dampaknya yaitu munculnya individu-individu yang gelisah, gundah gulana, rasa sepi yang tak beralasan bahkan sampai pada tingkat keinginan untuk bunuh diri. Keadaan ini tentunya sudah menyangkut pada aspek rohani manusia dalam mengarungi kehidupan yang makin kompleks. Mulailah  manusia melirik disiplin ilmu tasawuf dengan segala cabang-cabangnya guna memberikan solusi dalam menyikapi gejolak nafsu manusia yang sudah sampai pada tataran yang  mengkhawatirkan.
Dewasa ini disiplin ilmu tasawuf telah makin memikat para cendekiawan, bahkan orang awam pun turut mengkaji ulang keberadaan ilmu tersebut. Saat ini referensi ilmu tasawuf yang terpampang di toko-toko buku laku keras, baik yang berorientasi falsafi, akhlaki maupun amali. Bersamaan dengan itu, sebagian orang meneliti dan mengkaji ulang pemikiran tasawuf  amali Syekh Abdul Qadir al- Jailani dalam kitab Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilaihil- Abrar (rahasia atas rahasia-rahasia yang dibutuhkan orang beriman). Ia merupakan tokoh lama yang sudah barang tentu pemikiran dan gagasannya cukup efektif pada zamannya, dan dihubungkan dengan konteks masa kini pun masih relevan dalam hubungannya dengan esensi sufisme.
Buku Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilaihil- Abrar, menyingkap secara singkat esensi tentang sufisme, menunjukkan bagaimana praktik lahiriah seperti shalat, puasa, zakat dan haji, yang mengandung suatu kekayaan dimensi batin yang harus ditemukan dan dinikmati, jika tindakan lahiriah ingin dilakukan dalam satu cara yang disukai (dikehendaki) Allah SWT. Buku ini dianggap sebagai salah satu di antara karya-karya besar mistisisme Sufi Klasik dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1o77-1169), pendiri tarikat qadariyyah, persaudaraan Sufi terbesar pertama yang menyebar ke seluruh dunia Islam.
Dalam karya ini realitas-realitas di dalam keimanan dan jalan diberitahukan (dibuka), setiap orang membutuhkannya. Dalam buku ini Syekh Abdul qadir al-Jailani memberikan penjelasan Sufi tentang kewajiban-kewajiban fundamental Islam seperti shalat, puasa, zakat dan ziarah Haji. Dengan demikian buku ini menjadi jembatan antara dua karyanya yang lebih terkenal, Ghunyat ath-Thalibin, “kekayaan bagi para pencari”, yang dimaksudkan untuk mengilhami laki-laki dan perempuan untuk menjadi muslim yang baik, dan Futhuh al-Ghaib, “menyingkap yang ghaib”, sebuah kumpulan ceramah tentang masalah-masalah mistik. Kecuali seorang telah membaca Sirr al-Asrar, orang mungkin tidak dapat mengapresiasi semua kata-kata syekh dalam Futhuh al-Ghaib. Sirr al-Asrar adalah pintu gerbang menuju kota pengetahuan itu.
Sebabnya meneliti pemikiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani karena dalam karyanya seperti Sirr al-Asrar terdapat konsep tasawuf amali. Meskipun pemikirannya klasik tapi penting ditelaah mengingat masih aktual dengan kebutuhan manusia modern. Jika masalah ini tidak diteliti, maka boleh jadi kita seakan membuang mutiara yang terpendam di dasar laut.
Berdasarkan uraian tersebut mendorong peneliti mengangkat tema ini dengan judul: Tasawuf  Amali Syekh Abdul Qadir al- Jailani (Studi Kritis Kitab Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilaihil- Abrar)            

B.     Penjelasan Istilah

1.      Tasawuf
Secara terminologis, tasawuf diartikan secara variatif oleh para sarjana. Ibrahim Basuni sebagaimana dikutip oleh H.M. Amin Syukur, mengklasifikasikan definisi tasawuf menjadi tiga varian, yakni definisi yang menitik beratkan pada al-Bidayah (tasawuf dalam tataran elementer), al-Mujahadah (tasawuf dalam tataran intermediate), dan al-Madzaqat (tasawuf dalam tataran advance).[5]
Definisi tasawuf dari sudut al-Bidayah, antara lain dikemukakan oleh Sahalal-Tustury mendefinisikan tasawuf dengan:
Seorang sufi ialah orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang sama antara emas dan kerikil.[6]
Dari sisi al-Mujahadah, Abu Muhammad al-Jaziri mengartikan tasawuf dengan: “masuk ke dalam akhlak yang mulia dan keluar dari semua akhlak yang hina”.[7]
Untuk mencapai tujuan tasawuf seseorang harus melaksanakan berbagai kegiatan (al-Mujahadah dan al Riyadlah), tidak dibenarkan memisahkan amaliah kerohanian dengan syari’at agama Islam. 
Apabila dalam pengertian kedua (dari sisi al-Mujahadah), tasawuf mempunyai pengertian berjuang, menundukkan hawa nafsu/keinginan, maka pengertian tasawuf pada sisi al-Madzaqat, tasawuf diartikan dan dititik beratkan pada rasa serta kesatuan dengan yang mutlak, sebagaimana dikatakan oleh Ruwaim bahwa tasawuf itu ialah melepaskan jiwa terhadap kehendak Allah SWT. Demikian pula al-Sybli menyatakan bahwa tasawuf adalah bagaikan anak kecil di pangkuan Tuhan. Sedang al-Hallaj menyatakan bahwa tasawuf itu kesatuan dzat.[8]
Dengan demikian dapat diungkapkan secara sederhana, bahwa tasawuf itu ialah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sehingga dengan itu segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Oleh karena itu, maka al-Suhrawardi mengatakan bahwa semua tindakan (al-akhwal) yang mulia adalah tasawuf.[9] 
Dengan pengertian seperti itu, HM. Amin Syukur merumuskan bahwa tasawuf adalah bagian ajaran Islam, karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akherat. Oleh karena itu, siapapun boleh menyandang predikat mutasawwif sepanjang berbudi pekerti tinggi, sanggup menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh rizki tidak lekat di dalam hatinya, dan begitu seterusnya, yang pada pokoknya sifat-sifat mulia, dan terhindar dari sifat-sifat tercela. Hal inilah yang dikehendaki dalam tasawuf yang sebenarnya.[10]
2.      Syekh Abdul Qadir al-Jailani 
Abdul-Qadir al-Jailani (selanjutnya disebut al-Jailani) adalah syekh pertama tarikat Qadiriyah. la lahir di Jailan (di selatan Laut Kaspia, Iran) pada 1077 (470 H). Selain sebutan syekh, wali, dan sebutan-sebutan lain dalam tarikat, juga melekat pada dirinya sebutan sayyid, karena dari pihak ibunya turunan Husein, cucu Nabi; dan dari pihak ayah turunan Hasan, juga cucu Nabi Muhammad. la lahir di tengah-tengah keluarga yang hidup sederhana dan saleh. Abdullah Saumi, seorang sufi, adalah kakeknya (ayah ibunya).
Setelah menimba pengetahuan agama di tempat kelahiran sendiri, pada 1095 (488 H) ia terdorong untuk pergi merantau ke Bagdad, yang pada saat itu masih merupakan pusat peradaban dan pengetahuan. Untuk menimba pengetahuan agama sebanyak mungkin, ia jumpai para ulama, berguru dan bersahabat dengan mereka, sampai ia berhasil menjadi ulama yang menguasai ilmu lahir dan ilmu batin. la disegani sebagai fakih dan dihormati sebagai seorang sufi. Salah seorang pembimbingnya dalam lapangan tasawuf adalah ad-Dabbas (w. 1331/525 H).
Setelah membenamkan diri dalam pencarian ilmu selama lebih dari 33 tahun, maka pada usia 51 tahun al-Jailani mulai menampilkan dirinya di hadapan khalayak ramai (1128/521 H). Pada tahun itu juga, ia dipercaya memimpin sebuah madrasah, yang semakin lama semakin tidak mampu menampung jumlah peminat yang ingin belajar di situ. Pada 1135 (528 H), madrasah itu diperluas, dan selain itu juga dibangun sebuah ribat di luar pintu gerbang kota Bagdad. Setelah 40 tahun lamanya membimbing masyarakat ramai, yang berdatangan ke madrasah dan ribatnya, ia wafat pada 1168 (561 H), dalam usia 91 tahun.
Kendati baru menikah dalam usia 51 tahun, ia mempunyai 20 putra dan 29 putri. Sejumlah putranya juga berkembang menjadi ulama dan syekh tarikat. Mereka antara lain adalah Syekh Abdul wahhab, pengelola madrasah tersebut di atas sejak 1150 (543 H); Syekh Isa, yang bermukim dan bergiat mengajar di Mesir; Syekh Abdur-Razzaq, yang ikut berdakwah di Bagdad; dan Syekh Musa, yang bermukim dan mengajar di Damaskus. Putra-putranya itulah, juga para muridnya yang lain, yang berjasa membentuk tarikat-tarikat, yang dihubungkan kepada namanya, sehingga dikenal dengan nama tarikat Qadiriah. Tarikat ini pada tahap pertama tersebar di Irak, Siria, Mesir, dan Yaman, serta belakangan menyebar lagi ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk ke Indonesia. Tarikat ini selain tertua, juga sampai sekarang dianggap paling banyak memperoleh pengikut, dibandingkan dengan tarikat-tarikat yang lain.
Dari buku-buku, yang dilimpahkan kepadanya oleh para muridnya, seperti Futuh al-Gaib, al-Fath ar-Rabbani, dan al-Qasidat al-Gaisiyyat, terasa sekali bahwa nasihat-nasihat agama yang disampaikannya sangat menggugah hati, agar setia berpegang teguh kepada ajaran-ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi, setia menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan berjuang sungguh-sungguh mengendalikan dorongan nafsu, dan pada taraf yang lebih tinggi berserah diri sepenuh hati pada kehendak-Nya. Sebagai contoh, ia pernah berkata sebagai berikut, "Tiga hal mutlak bagi setiap mukmin, dalam segala kondisi, yaitu:
1)      Harus menjaga perintah-perintah Allah,
2)      harus menghindar dari segala yang haram,
3)      harus ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa.
Jadi setiap mukmin paling kurang memiliki tiga hal ini. Ikutilah sunnah Rasul dengan penuh keimanan, jangan mengerjakan bid'ah; patuhlah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, janganlah melanggar; junjung tinggilah tauhid dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan melimpahkan keburukan apa pun kepada-Nya; pertahankanlah kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun; bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran; beristikamahlah dan berharaplah kepada-Nya; bekerja samalah dalam ketaatan dan jangan berpecah belah; saling mencintailah dan jangan saling mendendam.
la juga bertutur demikian, "Tabir penutup hatimu tak akan tersibak, selama kau belum lepas dari alam ciptaan dan tidak berpaling darinya dalam segala keadaan hidup, selama hawa nafsumu belum pupus, selama kau belum melepaskan diri dari kemaujudan dunia dan akhirat, selama yang ada dalam jiwamu belum hanya kehendak Tuhanmu dan cahaya-Nya.
Bila bersatu dengan Allah dan mencapai kedekatan dengan-Nya lewat pertolongan-Nya, maka makna hakiki bersatu dengan Allah itu ialah berlepas diri dari makhluk dan kedirian, serta sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa gerakmu; yang ada hanya kehendak-Nya. Nah, inilah keadaan fana (sirna) dirimu, dan dengan keadaan itulah kau bersatu dengan-Nya. Bersatu dengan-Nya tentu tidak sama dengan bersatu dengan ciptaan-Nya. Bukankah la telah menyatakan 'Tak ada suatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat?' Allah tak terpadani oleh semua ciptaan-Nya. Bersatu dengan-Nya lazim dikenal oleh mereka yang mengalaminya. Pengalaman mereka berlainan, dan khusus bagi mereka sendiri.
Mungkin karena terpesona oleh nasihat dan kepribadiannya yang agung, para pengagumnya menyusun kisah-kisah atau hikayat-hikayat sedemikian rupa, sehingga ia tampak amat istimewa, luar biasa, dan penuh dengan aneka ragam kekeramatan, yang dari sudut ilmiah sulit untuk dipertanggungjawabkan.

C.     Pokok Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang sebelumnya, maka yang menjadi pokok masalah penelitian sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep tasawuf amali Syekh Abdul Qadir Jailani?
2.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan konsep Syekh Abdul Qadir Jailani?

D.     Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini:
  1. Untuk mengetahui konsep tasawuf amali Syekh Abdul Qadir Jailani
  2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan konsep Syekh Abdul Qadir Jailani

E.     Tinjauan Kepustakaan

Berdasarkan hasil penelitian di perpustakaan, ditemukan adanya beberapa penelitian yang mengangkat pemikiran  di antaranya:
Pertama, Pemikiran Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani (Studi atas Kitab al-Fath al-Rabbany Wa al-Faidl al-Rahman) disusun oleh Kasmuri.  Ketika hati diselimuti kegelapan, hanya "percikan cahaya Ilahi" sajalah yang bisa meneranginya. Ketika mata-hati telah dibutakan oleh nafsu dan hasrat telah menguasai jiwa, tak ada lagi yang bisa ditunggu selain kehancuran. Hati hanya bisa dibersihkan dengan cahaya tauhid. Jiwa akan merdeka bila selalu mengesakan Allah. Jika hati telah menjadi suci dan jiwa telah terbebaskan, maka keduanya akan terbang menuju haribaan Allah dan slap memperoleh kemenangan dari Ilahi (al-fath ar-rabbani) dan limpahan cahaya dari TuhanYang Maha Pengasih (al-faidh ar-rahmani).
"Jika kau masih takut dan berharap pada manusia, maka dia menjadi tuhanmu. Jika kau masih menghadapkan hatimu pada harta dunia, maka kau adalah budaknya, dan dia menjadi tuhanmu. Tak ada cinta yang paling abadi, kecuali cinta seorang hamba kepada Allah. Seorang pencinta tak akan meninggalkan kekasihnya, baik saat suka maupun saat derita." Demikian isi salah satu petuah dalam buku ini.
Buku yang berisi petuah-petuah dari pendiri dan pemuka tarikat Qadiriyah ini, Syekh Abdul Qadir Jailani, sangat penting bagi para penempuh jalan ruhani (salik) yang selalu mengharapkan keridhaan Allah. Petuah-petuah dalam buku ini bisa dijadikan sebagai bimbingan yang sangat berharga dalam menapak jalan sufi, mencapai kebeningan hati, dan meniti tangga pengetahuan tentang Ilahi.
Kedua, Karomah Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Kitab Futuh al-Ghaib Hubungannya dengan Pesan Dakwah Saat ini, disusun oleh Kholid Abdul Aziz. Boleh dibilang bahwa semua karya-karya al-Jailani adalah karya sufistik, termasuk karya fiqhnya, misalnya, Gunyat ath Thalibin. Oleh karena itu, tepat kalau la dianggap sebagai tokoh sufi yang ahli syari'at. Sebagaimana yang pernah ia katakan bahwa hakikat tanpa dilandasi syari'at adalah batal. Sekali-kali al-Jailani tidak pernah mempunyai sikap hidup yang mengasingkan diri dalam arti membenci dunia tidak kawin, dan bersikap seperti pendeta (rahbaniyah), meski ia menolak untuk menikmati keinginan-keinginan (syahwat dunia) yang menenggelamkan dan mengasyikkan hati, sehingga membuat lupa kepada penciptanya (Allah SWT). la sangat memegangi sabda nabi: "Sesungguhnya dunia itu diciptakan untukmu (manusia), sedangkan kamu sekalian diciptakan untuk akhirat." Dengan kata lain, ia tidak melarang seseorang memiliki atau menguasai dunia, tetapi ia melarang seseorang yang dikuasai dunia dan diperbudaknya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam konsepsi wacananya;
"Kuasailah dunia, jangan dikuasai olehnya. Milikilah dunia, jangan dimiliki dunia. Setirlah dunia, jangan diperbudak olehnya. Ceraikanlah dunia, jangan kamu diceraikan olehnya. Janganlah kamu dibinasakan olehnya. Tasarufkanlah dunia, karena sabda nabi: Sebaik-baik harta adalah harta hamba yang saleh”  
Dari uraian di atas menunjukkan penelitian terdahulu berbeda dengan penelitian saat ini. Perbedaan itu terletak pada buku yang menjadi fokus kajiannya berlainan. Atas dasar itu tidak mungkin ada upaya penjiplakan atau pengulangan.

F.      Metode Penelitian

Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini  sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penulisan skripsi ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research).  Oleh karena itu guna mendapatkan data-data yang dibutuhkan, peneliti menelaah buku-buku kepustakaan yang relevan dengan judul skripsi ini.


2. Sumber Data
Data-data yang berasal dari kepustakaan pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua sumber, yaitu sumber primer dan sekunder.
a.      Data Primer
Data ini merupakan sumber pokok yang diperoleh melalui kitab yang berjudul Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilaihil- Abrar karya Syekh abdul Qadir al-Jailani.
b.      Data Sekunder
Data ini merupakan data penunjang yang dijadikan alat untuk membantu dalam penelitian, yaitu berupa buku-buku atau sumber-sumber dari penulis lain yang bicara tentang konsep tasawuf amali dari berbagai disiplin keilmuan.
3.  Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis yaitu jalan yang ditempuh untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan mengadakan pemerincian terhadap objek yang diteliti atau cara penanganan terhadap suatu objek ilmiah tertentu dengan jalan memilah-milah antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain guna sekedar memperoleh kejelasan mengenai suatu hal. Setelah itu, perlu dilakukan telaah lebih lanjut guna mengkaji secara sistematis dan objektif. Untuk mendukung hal itu, maka peneliti mengunakan metode:
1.   Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah membahas obyek penelitian secara apa adanya berdasarkan data-data yang  diperoleh. Adapun teknik deskriptif yang digunakan adalah analisa kualitatif. Dengan analisa ini akan diperoleh gambaran sistematik mengenai isi suatu dokumen. Dokumen tersebut diteliti isinya kemudian diklasifikasikan menurut kriteria atau pola tertentu.
2.   Metode Interpretasi
Metode Interpretasi adalah suatu upaya untuk mengungkapkan atau membuka suatu pesan yang terkandung dalam teks yang dikaji, menerangkan pemikiran tokoh yang menjadi obyek penelitian dengan memasukkan faktor luar yang terkait erat dengan permasalahan yang diteliti. Interpretasi yang digunakan adalah hermennetika yaitu menghubungkan antara masa lalu dengan menarik ke masa sekarang.             

G.    Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran  yang jelas  dan menyeluruh sehingga pembaca dapat memahami tentang isi skripsi ini, peneliti memberikan  sistematika penulisan dengan  penjelasan secara garis besar. Skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing saling berkait.
Bab pertama, merupakan bab pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah; penegasan judul; rumusan masalah; tujuan penelitian;  tinjauan kepustakaan; metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab kedua, tinjauan umum Tentang Tasawuf yang meliputi tasawuf (pengertian Tasawuf, pembagian tasawuf), tasawuf amali sebagai tarikat ( pengertian tarikat, tujuan dan macam-macam tarikat)
Bab ketiga, konsep tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang meliputi biografi, perjuangan dan karya-karya ilmiah Syekh Abdul Qadir al-Jailani  (perjuangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, karya-karya ilmiah);  Konsep tasawuf  amali Syekh Abdul Qadir al- Jailani
Bab keempat, analisis konsep tasawuf amali Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam buku Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilaihil- Abrar yang meliputi: analisis konsep tasawuf amali Syekh Abdul Qadir al-Jailani; dan analisis kelebihan dan kekurangan konsep Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam  Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilaihil- Abrar
 Skripsi ini ditutup dengan bab kelima yaitu bab penutup, yang memuat kesimpulan penulis dari pembahasan skripsi ini, saran-saran dan kalimat penutup yang sekiranya dianggap penting.



[1] Syafiq A. Mughni, Nilai-Nilai Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001. hlm. 95.
[2] Abdul Muhayya, “Peranan Tasawwuf dalam Menaggulangi Krisis Spiritual” dalam HM. Amin Syukur dan Abdul Muhayya, (Ed), Tasawwuf dan Krisis, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2001, hlm 21.
[3] Ibid, hlm. 15-21.
[4] Nasruddin Razak, Dienul Islam, PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1973, hlm. 19.
[5] HM. Amin Syukur dan H. Masyharuddin, Intelektualisme Tasawuf, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hlm. 14.
[6] Ibid.
[7] Ibid. hlm. 14--15.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid,  hlm. 16-17.

Ditulis oleh: Irvan Hadzuka Perahu Jagad Updated at : 6/17/2012 01:02:00 am

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Atas Kunjungannya. Jangan Lupa Komentarnya ya.