Sikap Ta’dzim Siswa Kepada Guru Dalam Konsep Kitab Ta’limul Muta’allim

Pelajar (siswa) adalah manusia yang terdidik, di mana pandangan umum mengatakan bahwa orang yang terdidik pastilah memiliki akhlak atau prilaku yang baik dibanding dengan yang tidak, karena dalam pendidikan dan pengajaran terdapat nilai-nilai yang luhur dan suci yang disampaikan oleh seorang guru, yang dalam dunia modern dikatakan bahwa, pengajaran bukan hanya transfer of knowledge saja, akan tetapi juga transfer of volue.

1.      Pengertian Sikap Ta’dzim
Sebelum penulis berbicara panjang lebar tentang sikap ta’dzim terlebih dahulu penulis kemukakan pengertian sikap ta’dzim.

Ta’dzim dalam bahasa inggrisnya adalah “respect” yang mempunyai makna sopan-santun, menghormati dan mengagungkan orang yang lebih tua atau yang dituakan.[1]

W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa sikap ta’dzim adalah perbuatan atau prilaku yang mencerminkan kesopanan dan menghormati kepada orang lain terlebih kepada orang yang lebih tua darinya atau pada seorang kyai, guru dan orang yang dianggap dimulyakan. [2]

Menurut A. Ma’ruf Asrori sikap ta’dzim diartikan lebih luas lagi yaitu bukan hanya bersikap sopan dan menghormati saja akan tetapi lebih dari itu, yaitu :

a)      Konsentrasi dan memperhatikan.
b)      Mendengarkan nasehat-nasehatnya.
c)      Meyakini dan merendahkan diri kepadanya.[3]

Lebih lanjut oleh ma’ruf dijelaskan bahwa sikap-sikap tersebut diatas merupakan wujud dari sikap mengagungkan seorang guru.

Dari beberapa pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa sikap ta’dzim adalah suatu totalitas dari kegiatan ruhani (jiwa) yang di realisasikan dengan prilaku dengan wujud sopan-santun, menghormati orang lain dan mengagungkan guru.

Sikap ta’dzim ini wajib dilakukan oleh siswa kepada gurunya, sebagaimana syairan Syekh Salamah Abi Abdul Hamid yang diterjemahkan oleh Mas’ud bin Abdur Rohman sebagai berikut  :
ذاان تكن متعلما فا متثلن  #   متعلما فيما يحل وعظم

Artinya : “Siswa itu wajib taat kepada gurunya, menurut apa yang diperintahkan guru di dalam perkara yang halal, dan wajib ta’dzim (mengagungkan) kepada gurunya”.[4]   

2.      Ciri-ciri Sikap Ta’dzim
Menurut A. Ma’ruf ciri-ciri sikap ta’dzim ada 5 (lima) hal yaitu :

a)       Apabila duduk di depan guru selalu sopan.
b)      Selalu mendengarkan perkataan guru.
c)       Selalu melaksanakan perintah guru.
d)      Berfikir sebelum berbicara dengan guru..
e)       Selalu merendahkan diri kepadanya. [5]
 
Sedangkan menurut Sidik Tono, et.al., ciri-ciri sikap ta’dzim adalah sebagai berikut :
a)      Selalu bersikap hormat kepada guru.
b)      Selalu datang tepat waktu.
c)      Senantiasa berpakaian rapi.
d)     Mendengarkan saat guru menerangkan.
e)      Menjawab saat guru bertanya.
f)       Berbicara ketika sudah diberi izin.
g)      Selalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.[6]

Menurut Syeikh Salamah dalam Kitab Jauharul Adab ciri-ciri sikap ta’dzim adalah sebagai berikut;
a)      Selalu mengucapkan salam ketika bertemu dengan guru.
b)      Mengerjakan pekerjaan yang membuatnya senang.
c)      Senantiasa menundukkan kepala ketika duduk didekat guru.
d)     Ketika bertemu guru di jalan senantiasa berhenti di pinggir jalan seraya menaruh hormat kepadanya.
e)      Selalu mendengarkan ketika guru menerangkan seraya mencatat.
f)       Selalu menaruh hormat kepada siapapun.
g)      Menjaga nama baik guru dimanapun berada.[7]

Jadi secara umum ciri-ciri dari sikap ta’dzim  adalah : Bila dihadapan guru selalu menundukkan kepala dengan niat hormat, selalu mendengarkan perkataan-perkataan guru, selalu menjalankan perintahnya, menjawab ketika ditanya, selalu merendahkan diri kepadanya, menjaga nama baik guru dan lain-lain.

[1]Rinold A. Nicholson, The Idea Of Respect, Insafism, Idaroh I, Adawiyah I, Delli t,th. Hal. 1-2.
[2]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1976, hal. 995.
[3]A. Ma’ruf Asrori, Etika Bermasyarakat, Al- Miftah, Surabaya, 1996, hal. 11-12
[4]Syeikh Salamah Abi Abdul hamid, Jauharul Adab, Toha Putra, Semarang, 1967, hal. 3-4.
[5]A. Ma’ruf, Etika Bermasyarakat, Al-Miftah, Surabaya, 1996, hal. 11.
[6]Sidik Tono, et.al., Ibadah dan Akhlak dalam Islam, Yogyakarta, 2002, hal. 107
[7]Syeikh Salamah Abi Abdul Hamid, Op. Cit., hal. 5-7.