Studi Evaluasi Pembelajaran satu semester Tahun Ajaran 2014 2015, studi kasus siswa siswi Indonesia

Salam Pendidikan Indonesia untuk seluruh Sahabat Perahu Jagad. Kali ini kita akan mereview ulang ujian akhir semester ganjil tahun pelajaran 2014-2015. Sebelum kita masuk dalam kajian teori, penulis ingin bertanya kepada sahabat sekalian.

Bagaimana proses pembelajaran di setiap daerah tempat tinggal anda?
Masih adakah budaya menyontek di setiap sekolah-sekolah yang pernah anda kunjungi?

Nah, Mungkin sahabat-sahabat sekalian bertanya, mengapa saya menanyakan dua hal di atas?  baiklah, Ada sebuah petikan yang benar-benar istimewa dalam film Three Idiot. sudahkah anda melihatnya? Film tersebut benar-benar amazing menurut saya. Dilakoni sekaligus disutradarai oleh satu orang, yaitu Amir Khan. Petikan yang benar-benar bisa saya rasakan hingga kini adalah "Berproseslah yang baik, maka hasil yang baik akan mengikutimu"

Dari quote di atas dapat kita ambil satu kesimpulan dasar mengenai dua pertanyaan di atas. Bahwa dengan adanya proses yang baik dalam sebuah pembelajaran, maka akan tercipta evaluasi belajar yang benar-benar menjanjikan akan hasilnya. Tidak hanya dari sisi kognitifnya saja, bahkanjuga dalam hal afektif dan psikomotorik.

Pembelajaran adalah sebentuk kata dari kata dasar belajar. Diawali imbuhan-Pe; dengan akhiran-an. pada dasarnya pengertian belajar adalah suatu proses menggali ilmu yang dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang dan dibantu oleh seseorang pula yang melibatkan adanya tujuan, media, kurikulum, evaluasi, sekolah (tempat dimana proses belajar dilaksanakan) dan untuk lebih jelasnya silahkan baca : Komponen-komponen Dasar dalam Proses Belajar Mengajar

Dalam artian luas, belajar disebutkan sebuah proses, dimana yang awalnya seseorang tersebut tidak tahu, bisa menjadi tahu mengenai apa yang sedang dipelajarinya. Belajar bisa dilakukan dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun dan sekaligus apapun. Kata Siapapun yang saya cetak tebal dan miring berarti, belajar bisa dilakukan dengan guru, ayah, ibu, teman dan bahkan adik. Mari kita ingat kembali sebuah falsafah pendidikan "Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan pernah melihat dari siapa kata-kata itu terucap" atau dalam bahasa arabnya "Undzur Ma Qola Wala Tandzur Man Qola". Sedangkan Kata apapun yang saya beri cetak tebal diatas maksudnya adalah, belajar bisa dilakukan dengan sebuah benda. Dan biasanya pembelajaran seperti ini kita sebut dengan istilah, "Belajar dari suatu pengalaman. Bisa jadi itu adalah suatu eksperimen". Silahkan Baca : Pengertian Belajar dan Mengajar

Namun pada kesempatan ini saya akan menitik beratkan terhadap pembelajaran formal yang melibatkan sekelompok orang dengan seseorang yang berperan sebagai pembantu, motivator sekaligus sebagai mediator pembelajaran, dialah guru.

Peranan Guru dalam sebuah pendidikan begitu sangat penting. Sehingga dalam sebuah pribahasa dikatakan "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Oleh sebab itu, Tidaklah mudah untuk menjadi guru yang benar-benar memiliki kepribadian utuh sebagai seorang guru, baca juga : Pengertian Kompetensi Guru dan Jenis-jenis Kompetensi yang Wajib dimiliki Seorang Guru

Apa yang akan dipertanyakan ketika dalam sebuah evaluasi ternyata para siswa tidak mampu, bahkan ketika dalam penilaian, -hanya dilihat dari sudut kognitif- saja mereka masih berada jauh dibawah standar minimum yang telah ditetapkan oleh sekolah? Tentunya semua itu akan dikembalikan kepada sosok dan peran guru dalam menyampaikan pembelajaran, baik secara formal, yaitu di dalam kelas maupun ketika memberi sifat-sifat teladan di luar kelas. Baca : Peranan Guru dalam Proses Interaksi Belajar Mengajar

Kembali kita kepada topik, "Refleksi Pembelajaran satu semester, studi kasus siswa siswi Indonesia".
Pada kesempatan UAS kemarin saya disepakati dalam sebuah rapat untuk menjadi sekretaris penyelenggara UAS Tahun Ajaran 2014/2015. Karena saya panitia, tentu saja seringkali saya masuk dan keluar kelas.  Dari setiap kelas yang saya temui, hampir seluruhnya masih belum bisa dikatakan baik. Bahkan ada di antara mereka yang begitu perlu bimbingan. Jelas saja, terdengar jelas ditelinga saya kata-kata capgoci, bahkan dengan mata telanjang saya menemukan penghapus maupun pensil yang telah dituliskan kode multiple choice seperti pilihan : a, b, c, d, dan e.
Mengapa mereka demikian?
Siapa yang perlu dipersalahkan?
Apa yang akan terjadi bilamana mereka tumbuh dewasa?
Mengapa mereka demikian? Ada beberapa faktor penyebab yang bisa kita dapati ketika kita menyaksikan fenomena ini. Yang pertama, alasan klasik para guru, kurangnya jam sementara materi banyak, sehingga akan wajar bila mereka (para siswa) tidak faham karena memang materi yang diujikan belum dipelajari. Sesungguhnya jawab ini kurang tepat jika kurangnya jam sebagai tolak ukurnya, sebab begitu teramat banyak konsep yang seharusnya juga telah banyak dimengerti oleh para guru tentang teori belajar [ baca : Macam-macam Teori Belajar]. Kedua, pada dasarnya ada beberapa anak yang memiliki penalaran kurang sehingga hal ini menghambat proses pembelajaran. dan oleh sebab itu untuk menanganinya silahkan baca : Langkah-langkah Mengatasi Kesulitan Belajar

Siapa yang perlu dipersalahkan? Tak perlu saling menyalahkan, baik sesama guru terlebih guru menyalahkan murid. sesuai dengan petikan yang bisa kita ambil dari film three idiot yang sudah saya cantumkan di awal tulisan ini. "berproseslah yang baik, maka hasil yang baik akan mengikuti kita". Sebagai seorang guru, penting bagi kita memiliki Rencana Program Pembelajaran, karena dari sana kita dapat mengatur alokasi waktu semaksimal mungkin. Dan tidak ada lagi pernyataan kurang nya waktu bila disejajarkan oleh materi yang begitu banyak, oleh sebab itulah munculnya banyak metode pembelajaran salah satunya Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (Metode pembelajaran CBSA).

Apa yang akan terjadi bilamana mereka tumbuh dewasa? Bila kejadian seperti yang telah diuraikan diatas tidak sesegera mungkin kita tangani, maka pada suatu saat akan sangat sulit sekali bagi kita menemui pemimpin-pemimpin Bangsa yang layak. Sebab pada masa pembentukan karakter saja mereka telah salah. Ditangan mereka, Indonesiaku, Indonesiamu, akan berjaya. Akankah berjaya atau semakin terpuruk? Itulah tugas kita. Kita memang tidak akan mungkin bisa memberikan masa depan kepada generasi muda kita. Tapi kita bisa menyiapkan generasi muda yang hebat untuk masa depan mereka... Salam pendidikan Indonesia. Perahu Jagad :)